
Daven menyeruput kopi Late yng baru saja ia buat sendiri. Suara televisi di ruang tengah Unitnya sama sekali tidak dapat mengalihkan pikiranny terhadap Jian. Ciuman singkat malam itu terus saja terbayang-bayang di kepalanya. Bibir mungil nan lembut itu berhasil membuatnya bagai melayang-layang di awang-awang.
Sampai-sampai ia tidak sadar, jika yang saat ini ia ciumi itu bantal sofa yang ada deh sampingnya. Kedua tangannya meremas benda empuk yang terbuat dari busa itu. Membayangkan Jin seperti ini adalah hobi baru untuknya. Meski akhir-akhir ini wanita itu menjauhinya, tapi ia akan tetap berusaha mendapatkan Jian apapun caranya.
🌷🌷🌷
Pagi harinya, Mella pergi dari rumahnya usai suaminya berangkat bekerja. Langkahnya tampak begitu terburu-buru, begitu ojek online yang ia pesan sudah datang sejak 5 menit lalu.
"Dengan ibu Mella?" tanya driver ojek online begitu wanita itu menghampirinya.
"Ya."
"Baik, bu. Alamatnya sesuai aplikasi, ya!"
Kemudian driver tersebut memberikan helm pada Mella, wanita itu segera memakainya kemudian naik ke atas sepeda motor driver sang ojol. Dan ngeeeeng .... Kendaraan pun meninggalkan tempat.
Ojek online yang di tumpangi Mella pun berhenti di tempat yang sepi. Ia memibta agar sang driver ojol menunggunya sebentar. Mella turun dari sepeda motor tersebut, lalu pergi beberapa puluh neter dari sana. Ia menghampiri seseorang wanita dengn wajah tertutup rapat yang sepertinya tengah menunggu kedatangan Mella.
"Mana uangnya?" tanya Mella tanpa berbasa-basi ketika mereka sudah berdiri saling berhadapan.
"Ini," wanitabitu menyodorkan amplop coklat tebal dan langsung di sambar begitu saja oeh Mella. "Jatah sampai bulan depan. Jangan menghubungiku sebelum aku yang lebih dulu menghubungimu!" pinta wanita itu.
__ADS_1
Mella tersenyum picik. "Oke. Ku memang bisa di andalkan. Lain kali lebih tebal dari ini, ya!"
Wanita itu menghembuskn napas kasar, seraya membelalakan mata malas. Wanita di hadapannya itu memang seperti sedang memeras dirinya.
Usai mengambil amplop berisi uang tersebut, Mella kembali ke tempat dimana driver ojol tengah menunggunya.
"Langsung ke alamat tadi, ya, pak!" pintnya.
"Baik, bu," jawab si driver.
🌷🌷🌷
Ponselnya berdering tepat saat ia baru saja memasuki Unit, dan ia segera mengangkat telepon tersebut.
"Halo, ayah," serunya.
"Kau sedang dimana, nak?" tanya Damar dari sebrang sana, suaranya terdengar datar.
"Aku di Apartemen, ayah. Ada apa?"
"Besok pulang, ya! Ada yang ingin ayah bicarakan padamu."
__ADS_1
Jian mengernyit keheranan. "Bicara soal apa, yah?"
"Pulang saja!" pinta Damar terdengar sedikit tegas.
"Baik, ayah."
Setelah saluran telepon terputus, Jian menjatuhkan tubuhnya di sofa yang kebetulan tidak jauh dari tempat berdirinya saat ini. Permintaan sang ayah barusan membuat Jian sedikit panik, sebenarnya apa yang akan pria itu bicarakan padanya.
Bersambung...
___
Author Note:
Visual Cast Jian akan rilis. BESOK!
Jangan lupa untuk segera follow instagram @wind.rahma Biar gak ketinggalan. Visual Daven juga pasti aku up di sana.
Jika aplikasinya sudah stabil, nanti aku pasti bakal up visualnya di sini juga. Terima kasih.
Jangan lupa like, komen, vote, dan beri aku hadiah, yaaaa! Karena dukungan kalian sangat berarti dan menambah semangatku dalam menulis.
__ADS_1