
Jian memberikan segelas teh hangat hangat pada Ardy. Pria itu terlihat tengah memikirkan sesuatu.
"Kau mimpi buruk?" tanya Jian membelah keheningan, lalu ia duduk di samping pria tersebut.
"Bukan mimpi," jawabnya datar.
"Lantas?"
"Itu sebuah kenyataan."
Jian memandang wajah pria yang tengah memandang lurus ke depan, tatapannya kosong. Sepertinya pria itu memiliki masa lalu yang pahit mengenai keluarganya. Jian jadi penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada pria itu.
"Mmm ... memangnya ada apa dengan ayahmu?" pria itu sedikit terusik dengan pertanyaan Jian, sehingga dia kini menatap wanita itu tajam. "Aku .. Aku tidak bermaksud untuk-"
"Ayahku meninggal," pungkas Ardy, menghentikn kegugupan Jian. "Dia di bunuh oleh istrinya sendiri," imbuhnya.
Ardy kembali memandang lurus ke depan, sementara Jian terbelalak lantaran terkejut mendengarnya.
"Oleh ibumu?" tanyanya memastikan.
"Dia tidak pantas di panggil oleh sebutan yang kau ucapkan."
"Tapi bagaimana itu bisa terjadi?" rasa penasaran semakin menggelitik wanita itu.
"Dia mengkhianati ayahku dengan pria lain dan aku sangat membencinya!"
Jian kemudian mendengar apa yang baru saja Ardy katakan. Ia tidak menyangka jika pria tersebut memiliki kenyataan hidup seburuk itu.
Jian jadi berpikir, apa kebencian Ardy pada ibunya itu berpengaruh besar pada wanita lain termasuk dirinya? Apa yang selalu dia gunakan untuk menyalurkan kepuasan hasratnya sesuka hati itu sebenarnya dia sedang menyalurkan kebenciannya? Entahlah, Jian pun bingung.
"Tapi, tuan. Bagaimanapun dia tetap ib-"
"JANGAN MENGATAKANNYA LAGI DI DEPANKU! Aku benci mendengarnya," sentak Ardy, kemudian beranjak dari duduknya pergi menuju kamar.
__ADS_1
Tubuh Jian gemetar mendapat bentakan tersebut. Rupanya Ardy benar-benar trauma dengan masa yang membuatnya jadi seperti ini.
🌷🌷🌷
Damar memasang mimik wajah cemas saat memandang layar ponsel di genggaman tangannya. Beberapa kali menghubungi Jian, namun nomer putrinya itu tetap saja tidak dapat di hubungi. Selama Jian bekerja di luar kota, wanita itu belum pernah memberinya kabar. Ia takut putrinya kenapa-kenapa di luar sana.
"Kamu sedang apa, nak, di sana? Ayah begitu mencemaskanmu .." Damar memandangi foto Jian yang di gunakan sebagai poto profil Whatsapp. Lalu mendekap ponsel tersebut di dadanya.
Sementra di Apartemen.
Jian sedang membuatkan bubur untuk Ardy. Pria itu tidak mau makan dan tidak mau keluar kamar setelah membentaknya tadi.
Jian tidak mau pria itu sampai sakit apalagi sampai terus menerus merepotkannya hingga tidak masuk kerja lama-lama. Tidak kerja sehari saja sudah membuatnya merasa bersalah.
Usai membuat bubur, Jian lergi ke kamarnya sebentar untuk mencharger ponselnya yang lowbat sejak tadi pagi. Sebab ia lupa mencharger nya tadi malam.
Lalu Jian pergi menuju kamar Ardy setelah mengambil mangkuk bubur di atas meja makan.
"Tuaaaan ... " panggilnya seraya mengetuk pintu. "Aku buatkan bubur untukmu. Kau belum makan sejak pagi."
Jian melangkah ke arah tempat tidur tersebut dengan hati-hati, ia tidak mau sampai mengganggu ketenangan pria itu.
"Siapa yang mengizinkanmu masuk ke kamarku?"
Jian menghentikan langkahnya seketika, kini ia diam mematung. Ternyata pria itu tidak sedang tidur.
"Mmm ... Tuan, aku hanya mengantar ini untukmu," ujarnya seraya memperlihatkan mangkuk di tangannya.
"Sudah ku bilang aku tidak mau makan!"
"Setidaknya makanlah sedikit."
"Bawa lagi saja, aku tidak suka bubur!"
__ADS_1
"Aku sudah susah payah membuatnya. Kau harus makan! Aku taruh di sini," Jian menaruh mangkuk tersebut di atas nakas samping tempat tidur Ardy.
"Aku bilang-"
"Kau pasti akan menyukainya mulai hari ini," pungkas Jian, kemudian berlalu dari sana.
Ardy memandang kepergian Jian dengan tatapan kesal. Ternyata wanita polos itu bisa lebih keras kepala darinya. Sementara Jian kembali ke kamar, menghidupkan ponsel yang baru saja terisi beberapa persen baterai. Ia terkejut saat mendapatkan banyak panggilan dari sang ayah begitu ponselnya di hidupkan.
"Ayah?" sambil memndang layar ponselnya, ada 13 panggilan di sana.
"Kenapa ayah sampai memanggilku sebanyak ini? Apa terjadi sesuatu buruk padanya?" perasaanya mulai cemas.
Padahal selama ia tinggal di Apartemen, setiap kali menghubungi ayahnya selalu ibu tirinya yang menjawab teleponnya. Dan Mella mengatakan ayahnya baik-baik saja.
Saat hendak menelepon balik ayahnya, sebuah pesan masuk menghentikannya.
Jian, kau tidak masuk kerja hari ini?
Apa kau sakit?
Jian, kau dimana?
Aku sudah di lantai 8, Unitmh sebelah mana? Kenapa kau sulit di hubungi?
Deggg!
Tiba-tiba jantungnya berpacu lebih cepat. Daven sedang berada di lantai delapan? Alasan apa yang harus ia katakan? Bagaimana jika pria itu sampai nekad mengetuk satu persatu pintu Unit yang ada di lantai tersebut?
Bersambung...
___
Jangan lupa like, komen, vote, dan beri aku hadiah, yaaaa! Karena dukungan kalian sangat berarti dan menambah semangatku dalam menulis.
__ADS_1
Follow juga Instagram @wind.rahma