One Night Stand With TUAN MUDA

One Night Stand With TUAN MUDA
Menuntaskan Misi


__ADS_3

Daven berdiri di bawah langit malam depan sebuah rumah lumayan mewah sambil mengecek alamat di layar ponselnya guna memastikan apakah itu benar rumahnya Alana. Sebelumnya ia sudah bertukar kontak dengan wanita itu, namun kontak tersebut ia beli baru dan khusus untuk di pakai pada saat mengerjakan misi saja.


Dering panggilan masuk masuk ke dalam ponsel di genggaman tangannya, pria itu segera menjawab telepon tersebut yang berasal dari Alana.


"Ya, halo."


"Tuan, kau dimana? Kau jadi ke rumahku, bukan?"


"Ya, jadi. Ini aku sudah di depan rumahmu," jawab Daven.


"Sungguh? Ya sudah kalau begitu aku keluar sekarang."


Saluran telepon pun di matikan. Tidak berapa lama, seorang wanita keluar dari rumah tersebut menggunakan pakaian seksi.


"Hai, tuan," sapa wanita tersebut yang merupakan Alana.


"Hai," balas Daven.


Wanita itu mengembangkan senyum yang begitu lebar. Alana sengaja membusungkan dadanya agar benda kembar miliknya terlihat menonjol besar. Padahal ukurannya biasa saja. Bukannya membangkitkan gairaahnya, itu justru membuatnya jijik.


Berbeda halnya dengan Jian, wanita itu pasti akan membuatnya ingin menerjang di atas ranjang. Seperti pada saat ia melihat Jian memakai piyama di depan gedung Apartemen, ketika wanita itu mengatakan tengah menunggu makanan. Ia sampai kehilangan kendali dengan mencium bibir wanita itu meski cukup singkat. Dan hal itu membuat Jian akhirnya menjauhinya.


Dia pasti sedang tertarik denganku. Pikir Alana penuh percaya diri.


"Tuan," panggil Alana lirih seraya melambaikan tangannya di wajah pria itu.


"Hm?"


Daven sedikit terlonjak saat Alana membangunkannya dari segala pemikiran.


"Ayo, masuk!" ajaknya.


"Ya, terima kasih."


Daven pun memasuki rumah Alana dengan mengekor di belakang wanita tersebut. Begitu memasuki ruang tamu, ia mendapati seorang pria paruh baya yang tengah membaca majalah. Alana segera memperkenalkan mereka.


"Ayah, ini temanku, Daven. Daven ini ayahku," ujar wanita itu.


Pria yang semula duduk itu kini bangkit berdiri seraya tersenyum.


"Doddy, ayahnya Alana."


"Aku Daven, paman."


Mereka saling memperkenalkan diri dan berjabat tangan. Alana tersenyum sumringah melihat sesuatu yang sedang terjadi di hadapannya.

__ADS_1


"Dav, aku ke belakang sebentar, ya. Buatkan minum untukmu dan ayah," pamit Alana.


Daven mengangguk kaku, dan sedikit mengernyit, wanita itu memanggilnya nama barusan.


"Silahkan duduk, nak Daven!" kata Doddy.


Daven mengangguk sopan. "Ya, paman. Terima kasih," ucapnya.


Selagi Alana di dapur, mungkin ini saatnya Daven mulai mencari tahu tentang kehidupan wanita itu.


"Mm, paman. Apa aku boleh tanya sesuatu?" tanya Daven sedikit memberanikan diri.


"Ya, ya, tentu saja," kata pria itu antusias.


"Apa benar paman ini memiliki perusahaan di luar negeri?"


Pria itu tampak terheran dengan pertanyaan yang di lontarkan Daven. "Tidak, itu tidak benar," jawab Doddy.


Jawaban Doddy barusan membuat Daven semakin yakin jika Alana merupakan seorang pembohong kelas kakap.


"Oh, begitu, ya."


"Ya, saya hanya seorang tengkulak (pedagang perantara) sapi di luar kota, tepatnya di kota Malang," terang pria paruh baya itu.


Daven mengangguk-anggukan kepalanya. Sekarang ia paham mengapa Alana berbohong mengenai pekerjaan ayahnya. Tapi kenapa harus berbohong juga, selama itu halal kenapa harus malu? Toh, dia juga makan hasil kerja keras apa yang menjadi sumber penghasilan orang tuanya.


"Boleh, tanyakan saja, nak Daven!"


Daven menghirup napas banyak-banyak, ini merupakan pertanyaan dari sumber misinya. Dan ia harus ekstra hati-hati. Sebelumnya ia juga sempat berkonfirmasi lebih dulu dengan Jian dan Ardy.


"Mm, apa paman-"


"Dav, ayah, ini minumannya," kembalinya Alana seketika memotong kalimat Daven, pria itu memejamkan mata sambil menghela napas panjang. Padahal sebentar misinya akan selesai.


Alana menaruh dua cangkir kopi di hadapan ayahnya dan Daven.


"Di minum, ya, Dav, spesial untukmu," pinta Alana sembari tersenyum.


"Ya, terima kasih," jawab Daven singkat.


"Mm, kalau begitu aku harus ke dapur untuk menyiapkan makan malamnya. Ayah, temani calon menantunya, ya!" pinta Alana kemudian pada ayahnya, lalu mengedipkan sebelah mata pada Daven sebelum wanita ia melipir pergi.


Daven yang melihatnya bergidik sendiri.


Setelah Alana kembali pergi ke dapur, di ruang tamu hanya ada Daven dan ayah Alana. Ini adalah kesempatan Daven untuk menanyakan hal tadi yang sempat kepotong Alana.

__ADS_1


"Nak Daven mau tanya apa tadi?"


Pertanyaan Doddy seakan mendukung tujuannya datang ke sini. Tanpa membuang-buang waktu, pria itu langsung to the point.


"Ya, paman. Jadi, apa paman mengenal bibi Amina istri paman Damar?"


Tanpa berpikir, pria paruh baya itu langsung saja menganggukan kepalanya.


"Tentu saja, dia teman baik saya selama masih duduk di bangku sekolah."


Jawaban Doddy membuat Daven merasa ada yang janggal di sini.


"Tapi sayangnya, dia sudah tidak ada. Kasihan Amina, dia meninggal dengan cara tragis," imbuh Doddy.


Dan ucapan pria itu membuat Daven berpikir, sepertinya hubungan di antara ibu Jian dan orang tua Alana membuat wanita itu salah paham. Dan mirisnya, kesalahan pahaman ini membuat Alana kehilangan akal sehingga ibu Jian menjadi korban.


"Teman baik paman?"


"Ya, dia teman wanita saya selama sekolah yang paling baik. Bahkan di saat saya tidak bisa mengerjakan soal pelajaran pun, dia yang membantu. Dia sudah saya anggap seperti saudara saya sendiri. Bahkan setelah saya menikah, hubungan kami masih dekat. Beruntungnya, istri saya-ibunya Alana pun menerima hal itu. Jika istri pria lain, mungkin mereka sudah cemburu jika suaminya memiliki teman wanita yang begitu dekat. Tapi istri saya justru senang, katanya banyak teman banyak saudara. Begitu," terang pria paruh baya itu.


Dari perkataan Doddy barusan, Daven bisa menyimpulkan jika mereka semua merupakan orang baik-baik. Begitupun dengan ibu Alana. Tapi kenapa justru mereka melahirkan anak sejahat Alana?


"Memangnya kenapa nak Daven bertanya tentang Amina? Apa nak Daven juga mengenalnnya?"


"Mmm, ya, paman. Kebetulan aku mendengar jika almh. bibi Amina itu memiliki teman pria baik semasa hidupnya, dan begitu saya mendengar nama paman, aku pikir paman adalah temannya itu. Dan ternyata benar," jawab Daven asal.


"Ya, ya, ya, memang kedekatan di antara kami sudah menyebar luas. Sehingga banyak di antara mereka yang mengira jika ada hubungan khusus di antara kami. Tapi kami sama sekali tidak menanggapi akan hal itu."


Penjelasan Doddy barusan semakin memperkuat jika mereka adalah orang yang baik-baik. Hanya saja mungkin Alana yang termakan omongan orang lain. Sehingga membuat api dalam tubuhnya bergejolak dan mengakibatkan kesalahan fatal.


"Begitu paman mendengar bibi Amina meninggal dengan cara tragis, bagaimana perasaan paman pada saat itu?"


Di tanya hal itu, Doddy terlihat berkaca-kaca. Memperlihatkan jika pria itu sangat kehilangan sekali.


"Jujur, saya dan istri saya sangat terpukul. Dan saya masih penasaran, siapa orang yang tega sekali membunuh orang sebaik Amina?"


Tuntas sudah misi Daven. Dan jika kasus Alana di bawa ke jalur hukum, ini pasti sudah akan langsung di tangani. Semuanya sudah jelas, jika ibu Jian di bunuh dengan cara keji dengan alasan Alana membenci wanita paruh baya yang ia pikir sebagai pengganggu rumah tangga di antara orang tuanya.


Daven merogoh benda pipih dalam saku celana, lalu mematikan rekaman suaranya. Kemudian ia menyeruput cangkir kopi yang Alana sajikan tadi.


...Bersambung... ...


___


...Bantu share di grup fb, WA, atau share ke teman-teman yang suka baca Novel. ...

__ADS_1


...LIKE, KOMEN, VOTE, TAMBAH KE FAVORIT...


...follow ig @wind.rahma...


__ADS_2