One Night Stand With TUAN MUDA

One Night Stand With TUAN MUDA
Mobil Jeep


__ADS_3

Keesokan harinya.


Ardy diminta Lily untuk pergi ke rumahnya sebentar, sebab kesendiriannya di rumah membuatnya sangat terbatas. Termasuk sekarang, wanita paruh baya itu sedang membutuhkan seseorang yaitu putranya.


Pria itupun menurut akan pergi ke sana, sebelumnya ia berpamitan pada istrinya dan berpesan agar Jian tidak kemana-mana. Mengingat tentang kaburnya Alana dari lapas membuat rasa kekhawatiran terhadap keselamatan sang istri.


"Ingat, ya. Jangan kemana-mana!" pesan Ardy di angguki oleh Jian.


"Iyaaa.. Aku tidak akan kemana-mana," kata Jian nurut.


"Aku pergi ya, sayang," pamit Ardy sembari mendaratkan ciuman singkat di puncak kepala Jian.


"Iya, hati-hati!"


Jian menutup pintu Unit setelah Ardy benar-benar pergi. Ia kemudian duduk di sofa yang ada di ruang tamu, mengutak-atik layar ponselnya dan beberapa detik kemudian mendapat sebuah notifikasi pesan masuk.


Jian, kau ada Unit kan?


Pesan tersebut di kirim oleh Daven, pria yang sudah lama memilih tinggal di rumahnya, apalagi sekarang sudah memiliki istri. Jian senang, setidaknya Daven sudah tidak memiliki perasaan lagi padanya.


Jian.


Iya, aku ada di Unit.


Balas Jian, dan beberapa detik mendapat balasan kembali dari pria itu.


Daven.


Hari ini aku akan pergi ke luar kota untuk urusan bisnis, Diana akan tinggal beberapa hari di Unit lama yang aku tinggali. Nanti kau temani dia ngobrol, ya. Istriku orangnya asyik, kok.


Jian.


Iya, aku senang punya teman.


Daven.


Terima kasih, Jian. Satu jam lagi aku sampai di Apartemen.


Jian.


Ok.

__ADS_1


Usai membalas chat terakhir dari Daven, Jian men-cahrger ponselnya karena baterai nya habis. Ia lupa semalam tidak men-charger-nya.


Jian tidak sabar untuk bertemu dengan istri Daven. Meski baru kenal sekali pada saat menghadiri acara pernikahan mereka, Jian merasa istri Daven benar-benar orang baik. Maka dari itu Daven menikahinya.


Sambil menunggu Diana datang, Jian memikirkan sesuatu yang bisa dia buat untuk teman ngobrol mereka nanti. Tapi sayangnya begitu membuka kulkas, stok bahan masakan sudah hampir habis. Jadi ia urungkan niat untuk membuat makanan.


Baru setengah jam berlalu, suara pintu Unitnya sudah di ketuk oleh seseorang. Jian tidak sabar untuk membukakan pintu tersebut. Tapi ia sedikit tertegun, soalnya Daven tadi bilang akan sampai sekitar 1 jam. Tapi baru setengah mereka sudah sampai.


Jian menepis pikiran tersebut, mungkin selama perjalanan mereka tidak terjebak macet dan lebih cepat sampai dari perkiraan. Lalu ia bergegas menuju ruang tamu dan membukakan pintunya dengan seulas senyum yang mengembang.


"Hai, nona Jian," sapa salah satu dari kedua orang yang berdiri di depan Jian.


Senyuman yang terukir di wajah Jian seketika memudar, saat melihat dua orang pria dengan tubuh besar berdiri di hadapannya. Mimik wajahnya berubah takut dan panik.


"Siapa kalian?" tanya Jian dengan sedikit waspada, mengingat ia tengah hamil besar.


"Kami di utus untuk menjemputmu, nona. Mari ikut kami!" mereka menarik lengan Jian dan segera di tepis kasar oleh wanita tersebut.


"Jangan sentuh aku! Aku tidak akan pernah pergi kemanapun, apalagi bersama kalian," sentak Jian dan hendak menutup pintu.


Tapi sayangnya, kedua pria itu terlalu kuat untuk menahan pintu tersebut. Sehingga dengan mudah bagi mereka masuk ke Unit.


"Pergi! Pergi!" usir Jian ketakutan.


Salah satu dari mereka pun langsung membopong tubuh Jian keluar Apartemen. Mereka memasukan Jian ke dalam mobil Jeep putih di bagian jok belakang.


"Ayo cepat sebelum ada orang lain yang melihat!" pinta pria yang duduk di samping jok kemudi.


Mobil pun melesat dengan kecepatan tinggi, dan kini mobil tersebut di gantikan oleh mobil seseorang yang baru saja datang.


Sepasang suami istri turun dari mobil tersebut. Mereka Daven dan Diana. Daven mengambil sebuah koper dari bagasi mobilnya.


"Kau tinggal di sini untuk tiga hari ke depan. Tidak apa-apa kan?"


Diana yang semula mengedarkan pandanganya ke setiap sudut Apartemen kini mengalihkannya pada wajah sang suami.


"Tidak apa-apa. Asalkan pulangnya bawa oleh-oleh, ya!" pinta wanita itu dan mendapat anggukan oleh Daven.


"Siap, sayang."


"Hehehe..."

__ADS_1


Daven dan Diana mulai masuk ke dalam Apartemen, memasuki lift menuju lantai tujuh. Hanya membutuhkan waktu beberapa menit agar mereka sampai di lantai tersebut. Pintu lift pun terbuka.


"Nanti kalau mau keluar, minta Jian untuk temani, ya. Tapi jangan yang jauh-jauh. Kasihan Jian lagi ham-" kalimat Daven terhenti begitupun dengan langkahnya.


"Kenapa?" tanya Diana lalu mengikuti arah pandang suaminya.


Daven melepaskan koper yang di bawanya dan mengambil sesuatu yang baru saja ia lihat. Sesuatu tersebut berupa sebelah sandal yang tergeletak di lantai.


"Kenapa, Dav?" tanya Diana lagi sedikit terheran.


Pria itu menoleh pada istrinya.


"Ini kan sandal Jian, kenapa bisa tergeletak di sini?"


Kalimat tersebut menarik perhatian Diana.


"Kamu yakin ini sandal Jian?"


Daven mengangguk yakin, sebab sandal tersebut sandal yang pernah ia belikan di mall sebelum Jian menikah dengan Ardy.


"Iya, aku yakin sekali. Jangan-jangan terjadi sesuatu pada Jian," ujarnya menerka-nerka.


"Coba cek ke Unitnya aja," usul Diana.


Daven pun bergegas melangkahkan kaki menuju Unit yang ada di sebelah Unit lamanya, Diana berjalan mengekor di belakangnya. Dan begitu mereka sampai di sana, pintu Unit tersebut terbuka dengan sangat lebar, ada sehelai sapu tangan di sana.


Pikiran Daven semakin kemana-mana, ia berpikir sesuatu buruk telah terjadi pada Jian. Dengan cepat ia memutuskan untuk turun ke lantai bawah guna menemui security yang ada di sana.


"Permisi, pak. Apa anda melihat wanita hamil di bawa oleh seseorang?" tanya Daven dengan napas sedikit tersengal.


"Kapan?" security itu bertanya balik.


"Sekitar setengah jam atau satu jam yang lalu," jawab pria itu, sebab satu jam lalu mereka masih saling membalas chat.


"Tidak ada, tuan. Hanya saja, sekitar sepuluh menit yang lalu ada duo orang pria menggunakan mobil Jeep dan meminta izin akan menjemput seseorang yang tinggal di Apartemen ini. Dan begitu saya tinggal sebentar ke kamar mandi, mobil tersebut sudah tidak ada. Mungkin mereka sudah pergi," jelas security itu.


Sepertinya dugaan Daven benar, jika seseorang telah menculik Jian. Tapi siapa mereka?


Daven kemudian merogoh ponsel di saku jas hitamnya, mendial nomer telepon seseorang di sana.


"Halo, Dy. Kau dimana? Jian di culik," ujar Daven begitu saluran teleponnya tersambung.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2