
Suara klakson mobil Ardy di pelataran rumah Jian terdengar sampai ruang makan rumah tersebut. Jian langsung buru menyelesaikan sarapannya.
"Bawakan bekal sarapan untuk nak Ardy juga, nak, ayah yakin dia pasti belum sarapan!" pinta Damar pada putrinya.
Jian sedikit terheran dengan perhatian ayahnya terhadap Ardy. "Baik, ayah."
Kemudian Jian mengambil kotak makan yang tidak jauh dari meja makan, lalu memasukkan beberapa potong roti sandwich yang menjadi menu sarapan mereka pagi ini.
"Aku berangkat ya, yah, bu," pamitnya, seraya mencium punggung tangan ayah, lalu ibu tirinya secara bergantian.
"Semoga lancar merayunya!" bisik Mella tepat di telinga Jian saat bersalaman.
Jian hanya diam, tidak begitu mengindahkan ucapan yang menyakitkan dari Mella barusan.
"Hati-hati, nak!" ucap Damar sebelum kemudian putrinya pergi dari sana.
Sampai di pelataran rumah, mobil itu memang sudah terparkir di sana. Jian langsung masuk ke dalam mobil tersebut.
"Selamat pagi, tuan," sapa Jian, sopan.
"Pagi, Jian," balas Ardy seraya melemparkan senyum hangat yang baru pertama kali Jian lihat.
"Mm .. Ini aku bawakan sarapan untukmu." Jian menyodorkan kotak makan berukuran persegi di tangannya pada Ardy. Pria itupun menerimanya.
"Apa ini?"
"Roti sandwich," jawab Jian.
__ADS_1
Ardy membuka kotak makan tersebut, menatap roti tersebut dan wajah Jian secara bergantian. Kemudian mengembalikan kotak makan tersebut pada Jian.
"Ini."
"Kenapa, kau tidak suka?" tanya Jian heran, lalu menerima kotak makannya.
"Bukan."
Jian semakin terheran. "Lantas?"
"Suapi aku!"
"Hah?"
"Suapi aku, Jiaaan!" pinta Ardy dengan sangat lembut.
Wanita tersebut di buat gugup, bahkan pipinya sampai merona sekarang. Ia masih tidak habis pikir, sebenarnya perubahan sikap pria itu memang real atau ada rencana lain di baliknya.
Ardy berdecak. "Tanganku untuk menyetir," jawabnya.
Jian menghela napas pasrah. Pria itu memang pandai sekali membuat alasan. Dan sekarang ia terpaksa menyuapi pria di sampingnya sepanjang perjalanan. Sampai roti sandwich itupun habis.
"Aaaa, mana rotinya?" pinta Ardy sambil mangap, namun matanya masih fokus ke depan.
"Sudah habis," sambil memperlihatkan kotak makan di tangannya yang sudah kosong.
Ardy sedikit kecewa. "Lain kali bawakan lebih banyak!" pintanya.
__ADS_1
"Ya," jawab Jian singkat.
Jian menaruh kotak makan tersebut di tempat yang ada di hadapannya. Lantaran jika di masukkan ke dalam tas, tidak akan muat.
🌷🌷🌷
Mobil yang di tunggu-tunggu sejak tadi oleh pria yang duduk di dalam mobil sport, akhirnya datang juga. Tapi anehnya, mobil itu berhenti masih jauh sebelum sampai gedung. Dan yang membuatny terkejut, seorang wanita turun dari mobil itu.
"Jian!" pekiknya. "Jadi Jian benar-benar berhubungan lebih lanjut dengan Ardy?"
Daven menggeleng sambil berdecak. "Benar-benar tidak bisa di biarkan. Kasihan Jian, dia pasti hanya di jadikan mainan oleh Ardy. Aku tidak aian membiarkan sesuatu buruk terjadi pada Jian," imbuhnya.
"Aaargh .." Daven memukul setirnya cukup keras.
Perhatian Daven seketika teralih pada seorang wanita yang varu saja turun dari taksi tepat di samping mobil Ardy. Wabita tersebut langsung masuk ke dalam mobil pria tersebut. Daven sampai terperangah melihatnya.
"Bukankah itu kekasih Ardy yang malam itu datang ke Apartemen? Ternyata mereka masih menjalin hubungan sampai saat ini? Hah, dasar serakah. Aku yakin, Jian pasti hanya di jadikan mainan saja olehnya. Awas saja kau!"
Pria itu semakin geram. Ia memang tahu betul bagaimana gilanya seorang Ardy Tamajaya. Pria yang selalu menjadikan wanita sebagai mainannya untuk melanpiaskan kebencian terhadap sosok sang ibu. Dan Daven tidak rela, jika Jian sang pujaan hatinya itu termasuk bahan mainan Ardy.
Daven jadi bingung sekarang, bagaimana cara mengatakan ini pada Jian. Sebab wanita itu masih saja menjauhinya. Yang ada, Jian tidak akan percaya dengan ucapannya, dan akan semakin menjauh.
Bersambung...
___
Tinggalkan jejak dengan cara like, komen, vote, ataupun beri hadiah melalui POIN maupun KOIN.
__ADS_1
Karena dukungan kalian sangat berarti untuk saya serta memberi semangat lebih dalam menulis. 😊😊😊
Follow juga Ig @wind.rahma