One Night Stand With TUAN MUDA

One Night Stand With TUAN MUDA
Cairan Bening


__ADS_3

Malam itu Damar dan Mella membawa Gea ke rumahnya, lebih tepatnya rumah baru yang ia tinggali baru satu bulan lamanya. Jaraknya lebih dekat ke ruko furniture-nya. Sedangkan rumah yang lama kosong, dan hanya sesekali mereka datang ke sana hanya untuk membersihkan agar rumahnya tidak sampai di tanami rumput liar.


Mella membaringkan tubuh lemas Gea di atas tempat tidur kamar ruang tamu. Kemudian Mella membuatkan putrinya minuman hangat.


"Di minum dulu, sayang," Mella membantu Gea bangun lalu memberikan segelas teh manis tersebut.


Tanpa mengatakan apapun, Gea menerima teh manis hangat tersebut dan meminum ala kadarnya. Ia merasa sangat lelah sekali, tubuhnya hampir tidak bertenaga.


"Makan, ya. Mama ambilkan dulu sebentar," tawar Mella sambil beranjak dari tepi ranjang.


"Tidak usah," tolak Gea mencegah kepergian Mella. "Aku tidak lapar, aku hanya butuh istirahat. Tinggalkan aku sendiri, ku mohon," pintanya.


Mella kembali duduk di sana, menatap lekat-lekat mata sayu putrinya. Entah sudah berapa lama ia tidak menatap wajah Gea sedekat ini, tanpa ia sadari matanya mulai memupuk cairan bening yang kini berdesakan keluar.


Mella meraih buah tangan Gea dengan sedikit gemetar.


"Maafkan mama, Gea. Mama sudah menghancurkan hidupmu. Mulai saat ini, mama akan berusaha menjadi ibu yang baik untukmu, mama janji akan berusaha," ucap wanita itu dengan suara parau.


Gea pun meneteskan air mata, hal seperti inilah yang selama ini ia rindukan. Ia pikir kehangatan keluarga hanya ada dalam cerita novel, tapi kali ini ia menganggap jika hal itu benar adanya.


Gea menghambur ke dalam dekapan Mella, menumpahkan tangisnya di sana. Keduanya saling memberi kekuatan satu sama lain.


#

__ADS_1


Sementara di kamar Apartemen, pagi-pagi sekali Jian di buat panik oleh aliran cairan bening yang keluar dari area V nya. Perutnya juga mulai terasa sakit dan sesekali keram.


"Sayaaang.. Toloong..!" teriak Jian lantaran Ardy sedang membuatkannya minum.


Mendengar teriakan minta tolong dari sang istri, Ardy bergegas menuju kamar dan mendapati sang istri dalam keadaan keringat yang bercucuran. Kepanikannya kian menjadi ketika melihat cairan lain yang mengalir di sana.


"Jian, kau kenapa?" tanya pria itu khawatir.


"S-sakit.." rintihnya, napasnya mulai terdengar memburu akibat menahan rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya.


"Kita ke rumah sakit sekarang, ya," ajak pria itu dengan segera bersiap-siap.


Usai mengambil baju hangat panjang lalu di pakaikan pada sang istri lantaran Jian memakai daster tanpa lengan. Ia langsung membopong tubuh Jian, wanita itu dua kali lebih berat sekarang. Ardy berjalan tergesa-gesa meski sedikit kesulitan.


"Pak, tolong buka pintunya!" pintanya dengan napas tersengal.


"Siap," kata security itu ikut panik.


Ardy memasukan Jian ke bagian jok belakang, membaringkan tubuh istrinya sampai mendapatkan posisi yang nyaman. Sebuah mobil pun memasuki halaman parkir Apartemen, dan ikut panik saat melihat Ardy tengah dalam kepanikan.


"Jian kenapa, Dy. Apa dia luka?"


Pertanyaan tersebut berasal dari Daven, pria itu berniat akan mengambil koper milik istrinya yang sebelumnya di taruh sembarangan di depan Unitnya.

__ADS_1


"Jian kontraksi, Dav," jawab Daven tanpa menghilangkan kepanikannya.


"Jian mau melahirkan?" Ardy mengangguk membenarkan.


"Ya sudah kalau begitu biar aku saja yang nyetir, kau dampingi Jian saja, bagaimana?" tawar Daven.


"Tidak usah, Dav. Aku sudah banyak merepotkanmu," tolak Ardy segan.


"Tidak apa-apa, aku senang membantu kalian."


"Iya. Tidak usah segan, Ardy. Ayo cepat, kasihan Jian!" timpal Diana.


Tanpa ada kata penolakan, Ardy pun menerima tawaran Daven. Pria itu duduk di bagian jok belakang mendampingi Jian. Sementara Daven menyetir dan Diana duduk di samping suaminya.


"Sayang.. Aku tidak kuat.. Sakiit.." Jian merintih, cairan bening itu mengalir bersamaan dengan darah. Wajahnya sudah pucat sekali, seakan darah terserap habis oleh tenaganya.


"Bertahan, sayang. Kau pasti kuat, kau pasti bisa." Ardy berusaha menguatkan istrinya.


"Daven, bisa lebih cepat lagi," pinta Ardy kemudian.


"Baik, bersabarlah!" jawab pria itu.


Ardy tidak tega melihat keadaan sekarang, ia berharap Jian beserta calon bayinya lahir dengan lancar dan selamat.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2