
WARNING!
Tambahin ke rak favorit, yaa!
🌷🌷🌷Happy Reading🌷🌷🌷
Daven menjatuhkan tubuhnya di sofa, ia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ternyata selama ini, wanita pujaan hatinya tinggal bersama Ardy. Di Unit yang ada di sebelahnya. Dan yang membuat Daven terkejut, Jian mau One Night Stand dengan pria itu hanya karena tidak mau di penjara dengan alasan yang tadi sudah ia dengar.
Daven masih tidak habis pikir, kenapa Ardy bisa setega itu pada Jian. Ternyata Jian yang temannya maksud waktu itu adalah Jian yang sama. Sepertinya Ardy hanya ingin memanfaatkan Jian untuk di jadikan sebagai pelacur pribadinya. Sama seperti wanita yang pria itu jadikan kekasih sebelum-sebelumnya. Daven tahu betul bagaimana gilnya Ardy.
Dan sekarang ia baru ingat, wanita yang ia lihat tengah di cumbu Ardy ternyata Jian. Sialan!
"Aku harus menyelamatkan Jian dari Ardy," ujar Daven dengan semangat membara yang nyaris membakar tubuhnya.
🌷🌷🌷
Pagi ini Jian pulang di antar oleh Ardy. Sebenarnya pria itu ingin ikut mampir, tapi sayangnya, Alice memberinya kabar jika pagi ini ada meeting mendadak dengan perusahaan yang sering bekerja sama dengan perusahannya.
"Nanti kau tidak usah ke kantor! Aku tahu kau pasti begitu merindukan ayahmu," ujar Ardy saat mereka sudah sampai di pelataran rumah Jian.
"Tapi, tuan. Akhir-akhir ini aku sudah sering bolos kerja. Orang-orang di kantor pasti akan berpikiran macam-macam padaku."
"Tidak usah kau dengar. Kita memang tidak bisa menutup mulut mereka satu persatu, tapi kita bisa menutup kedua telinga menggunakan kedua tangan itu," tutur Ardy bijak.
Jian mengangguk. "Baiklah." Tapi seketika ia ingat sesuatu. "Oh ya, tuan. Apa sikap hangat mereka padaku waktu itu, itu karenamu?"
Ardy tersenyum. "Aku berangkat, ya! Nanti jika meeting-ku sudah selesai, aku pasti akan mampir kesini."
Jian mengangguk. Sepertinya memang Ardy yang melakukan hal tersebut. Dan ia masih terheran dengan sikap pria itu yang tiba-tiba lembut padanya. Kemudian Jian turun dari mobil, dan mengambil koper di jok belakang kemudi. Sebelum pria itu kembali melajukan mobil, dia menitip pesan pada Jian.
"Samaikan salamku pada ayahmu, Jian!" ucapnya.
"Baik, tuan," jawab Jian sedikit gugup.
Mobil itupun keluar dari pelataran rumah Jian yang di penuhi rumput hijau. Jian mengulas senyum tipis sebelum kemudian ia masuk ke dalam rumah.
"Assalamu'alaikum ... " Jian memberi salam saat ia membuka pintu.
"Walaikum salam," jawab seseorang dari dalam.
Jian kemudian masuk, ia mendapati sang ayah tengah duduk di kursi ruang tamu.
"Ayaaah ..." Jian menaruh koper tersebut kemudian menghambur ke pelukan sang ayah, menumpahkan kerinduannya di sana. "Ayah baik-baik saja 'kan?"
Damar membalas pelukan putrinya tak kalah erat. "Ayah baik-baik saja, nak."
__ADS_1
Pria itu menghapus air mata di kedua pipi putrinya setelah mereka melepaskan pelukannya.
"Kamu kenapa nangis, nak? Aa yng sebenarnya terjadi padamu, sayang?" tanya Damar cemas.
Jian menggeleng lemah, namun ia berusaha kuat. "Tidak ada, ayah. Aku hanya merindukanmu."
"Sudah pintar berbohong rupanya." Suara seseorang yang baru saja datang dari dapur mengalihkan perhatian Jian.
Ya, itu Mella sang ibu tirinya. Wanita itu membawa obat dan satu gelas air putih di tangannya. Kemudian ikut duduk di samping suaminya.
"Maksud ibu?" tanya Jian sedikit panik.
"Kau tahu, ayahmu sampai sesak saat mendengar kabar jika kau sebenarnya tidak pernah bekerja di luar kota?!"
Mata Jian membulat sempurna. Panik? Tentunya. Dari mana mereka tahu semua ini. Padahal selama ini hanya dia dan Ardy yang menyimpan rahasia tersebut.
Jian menatap sang ayah kemudian menggenggam buah tangan yang terasa sedikit kasar milik pria paruh baya itu.
"Ayah, siapa yang memberi kabar ini pada ayah?" tanya Jian dengan tidak sabar.
Damar menghela napas berat. Alih-alih menjawab, pertanyaan sang putri, ia justru melontarkan pertanyaan balik pada Jian.
"Jadi selama ini kau dimana, nak? Kenapa tega membohongi kami?" Ada raut wajah kecewa di wajah pria itu.
Jian kini jadi merasa semakin bersalah. Tidak mungkin juga ia mengatakan yang sejujurnya. Yang ada, kondisi ayahnya akan semakin memburuk.
.
Ya Tuhan. Aku harus memberi alasan apa pada ayah. Pikirnya, seraya menyusun alasan di kepalanya.
"Sebenarnya ... Aku membuat keruguian di perusahaan, dan aku harus mengganti kerugian tersebut dengan kerja lembur setiap malam. Aku harap ayah percaya dengan ucapanku! Maaf sudah membuat kondisi kesehatan ayah terganggu!" ucap Jian seraya terisak.
"Lantas kenapa kau tidak jujur saja pada ayah, nak? Kenapa harus berbohong seperti ini?"
"Aku tidak mau membebani pikiran ayah," jawabnya.
Mella malas sekali melihat drama yang ada di hadapannya. Terlebih suaminya bisa langsung percaya begitu saja pada ucapan Jian.
Karena ia yakin, dalam satu kebohongan pasti ada kebohongan lainnya.
🌷🌷🌷
Usai meeting, Ardy langsung menuju rumah Jian. Sebelumnya Jian sudah mengirimya pesan, jika orang tuanya sudah mengetahui kebohongan tentang kepindahan kerjanya di luar kota.
"Maafkan saya juga, ayah! Saya sudah ijut membohongi kalian. Saya hanya di minta Jian untuk melakukan semua ini," ujarnya saat sudah berada di rumah Jian.
__ADS_1
Jian sangat terkejut, bukan karena Ardy malah menyalahkannya. Tapi pria itu memanggil ayahnya dengan sebutan ayah juga.
"Ya. Saya paham, maafkan putri saya juga yang sudah membuat kerugian di perusahaan pak Ardy!" ucap Damar.
"Iya, tidak apa-apa. Lagipula, sekarang Jian sudah bisa tinggal kembali di rumah ini. Jian tidak perlu pergi-pergi lagi"
Jian terbelalak, ia menatap wajah bosnya dengan penuh ketidak percayaan. Jika ia bisa tinggal kembali di rumah ini, itu artinya ia tidak perlu kembali ke Apartemen.
"Sungguh?" tanya Jian.
"Ya."
"Terima kasih banyak, pak Ardy!" ucap Damar ikut senang.
"Sama-sama. Panggil saja saya Ardy!" pinta pria itu.
"Ya, nak Ardy. Sekali lagi, terima kasih banyak!"
Kemudian obrolan mereka berlanjut dengan obrolan kecil. Sampai Mella datang membawa minuman di nampan sebagai jamuan tamu untuk Ardy.
Mereka kembali berbincang dengan di selingi tawa kecil yang membuat Jian terheran, Ardy bisa langsung akrab begitu saja dengan ayahnya.
Tidak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Ardy sebenarnya masih betah di rumah Jian. Terlebih saat makan siang tadi, masakan Jian membuatnya ingin ikut tinggal di rumah sederhana itu.
"Saya harus segera kembali ke Apartemen. Ayah, tante, Jian, saya permisi!" pamit Ardy sopan.
Jian mengantar Ardy sampai depan.
"Besok aku jemput, ya," kata Ardy sebelum masuk ke dalam mobilnya.
"Tapi-"
"Aku tidak suka di bantah!" pungkasnya.
Kemudian pria itu masuk ke dalam mobil yang saat ini sudah meninggalkan pelataran rumah Jian. Jian memandang kepergian mobil tersebut sampai hilang dari pandangannya. Ia masih tidak begitu paham dengan perubahan sikap Ardy.
Bersambung...
___
Pemberitahuan!
Halooo maemaaak, buibuuu, bubundadaaah semuanyaaaaa. Makasiii udah setia baca cerita ini sampai hari dan detik ini. Aku mau kasih info nih buat kalian semuaaa, cerita ini akan up 1 bab perhari, ya. Soalnya aku harus namatin dulu karya aku yang satunya yang judulnya TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN. Tapi tenang aja, meskipun demikian, aku pasti akan lebih panjangin katanya, kok. Sambil nunggu up, jangan lupa mampir dulu ke novel aku yang itu, ya. Tinggal klik avatar aku, di situ pasti ada, kok, deretan novel aku. Atau langsung cari judulnya juga gak apa-apa.
Oh, ya, buat yang nanyain visual Jian, maaf ya belum bisa hari ini, solnya masih aku edit dulu videonya. Kalo gak besok, ya lusa. Pokoknya follow aja IG aku @wind.rahma
__ADS_1
Dan jangan lupa untuk dukungannya, yaaaa!