
Kebahagiaan seorang Author itu simple!
Yaitu jejak yang di tinggalkan seorang pembaca.
Jadi, tinggalkan jejak dengan cara like, komen, vote, ataupun beri hadiah melalui POIN maupun KOIN.
Karena dukungan kalian sangat berarti untuk saya serta memberi semangat lebih dalam menulis. 😊😊😊
🌷🌷🌷 Happy Reading 🌷🌷🌷
Usai menyantap 2 mangkuk bubur sekaligus, pria itu membaringkan tubuhnya di sofa. Ia meminta Jian untuk memijat kakinya yang terasa pegal. Awalnya Jian menolak, tapi setelah wajah sangar itu berubah mengiba, akhirnya Jian tidak tega juga.
Kedua mata Ardy terpejam, menikmati setiap sentuhan pijatan tangan Jian. Namun tak berlangsung lama, wajah itu berubah menjadi raut kesedihan.
"Pijatanmu mengingatkan aku pada seseorang."
Suara Ardy mengalihkn perhatian Jian dari kki yang tidak begitu banyak di tumbuhi bulu.
"Siapa?" tanyanya tanpa menghentikan pijatan di kaki pria tersebut.
"Istri alm. ayahku."
__ADS_1
"Ibumu?"
"Sudah ku bilang jangan menyebut kata itu di depanku, aku benci mendengarnya!" cecar Ardy.
"Ya, aku minta maaf!" ucapnya. "Mmm ... Memangnya kau suka di pijat?" tanyanya kemudian.
"Hem. Dulu sewaktu aku kecil, dia selalu memijat kakiku sebelum tidur. Sebab setiap hari aku bermain bola. Dia tidak mau keesokan harinya aku tidak bisa bermain bola lagi jika kakiku sakit. Tapi, aku lupa kapan terakhir kali dia melakukn itu," ceritanya di akhiri dengan senyum getir.
"Meskipun dia pembunuh ayahmu seperti yang kau katakan, dia terap orang yang berperan penting dalam hidupmu. Kau tidak boleh membencinya!" tutur Jian bijak.
Jian terkejut saat Ardy tiba-tiba bangun dan menatapnya dengan sorot mata tajam. Ia langsung menunduk tak berani menatap mata itu.
Hati Ardy sedikit terenyuh oleh kalimat terakhir yang di ucapkan Jian. Sorot mata tajamnya berubah menjadi tatapan sendu. Tapi ia tidak mau dengan mudahnya terpengaruh oleh ucapan wanita itu. Orang itu sudah mengkhianati ayahnya dengan cara keji dan ia tidak akan bisa memaafkannya. Selamanya akan benci.
🌷🌷🌷
Sang surya lagi-lagi teralihkan oleh sang rembulan yang dengan setia menemani gelapnya langit malam. Ardy membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur sambip menatap langit-langit kosong. Keadaan cukup hening dan hanya suara detik jarum jam yang terdengar.
Ucapan Jian tadi siang terus saja terngiang di telinganya. Seolah tidak mau terlepas dari pikirannya. Berulang kali ia mengubah posisi tidur bahkan sampai menutupi telinganya menggunkan bantal, tapi tetap saja tidak mampu mengusir hal tersebut.
"Aaaarghh.." tetiaknya frustasi, seraya melempar bantal tersebut ke arah pintu.
__ADS_1
Ia nengatur napas yang sedikit tersengal, lalu duduk menyandar di kepala ranjang. Perasaannya sudah mulai sedikit tenang, tapi ucapan itu masih saja terngiang.
"Dia memang tidak terlalu buruk, tapi kenapa dia tega membunuh ayah dengan mengkhianatinya. Dia tahu jika ayah memiliki penyakit jantung. Bahkan dia sendiri yang merawat selama ayah sakit."
"Dia pembunuh ayahku! Bahkan saat ayah di nyatakan meninggal pun dia tidak datang. Dia wanita kejam! Aku membencinya." imbuhnya.
Setitik kristal cairan bening keluar dari matanya. Bukan karena dia cengeng, hanya saja dia sedang meluapkan rasa sakit yang menyesakkan dada. Semua pria dewasa di dunia pasti pernah menangis, jika ia sudah tidak tahan menanggung rasa sakitnya yang tidak dapat orang lain ketahui.
"Tapi, tunggu!" Ardy menyeka air mata yang sebentar lagi akan mengalir ke pipinya.
"Dimana dia sekarang? Dan, siapa orang yang mengirim foto itu pada ayah?"
Tiba-tiba Ardy baru saja kepikiran soal itu.
Bersambung...
___
Jangan lupa like, komen, vote, dan beri aku hadiah, yaaaa! Karena dukungan kalian sangat berarti dan menambah semangatku dalam menulis.
Follow juga Instagram @wind.rahma
__ADS_1