
Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, namun Jian dan Ardy masih dalam perjalananan menuju Apartemen. Selain terjebak macet, mereka juga harus memutar arah lantaran jalan yang biasa mereka lewati ada perbaikan.
Tidak ada pembicaraan selama perjalanan, hanya ada suara radio yang sengaja Ardy putar untuk memacah keheningan. Jian masih tampak kesal dengan pria di sampinya, karena sudah membuat tubuh terutama bagian pingangnya sakit akibat perbuatan agresifnya malam kemarin.
Sampai di Apartemen, Ardy langsung membersihkan badan. Sementara Jian pergi ke pantry untuk memasak. Hanya membutuhkan waktu 20 menit saja masakannya sudah jadi.
"Apa kau mau ikut makan denganku, tuan?" tawar Jian ketika melihat pria yang tengah mengeringkan rambut basahnya itu keluar kamar.
Ardy yang mengenakan kaos putih polos itu melirik menu makanan yang tengah Jian sajikan. "Masakan apa itu?"
"Cah kangkung dan tahu goreng. Kau mau mencobanya?"
"Tidak. Aku akan pesan makanan via aplikasi saja," tolaknya, kemudian duduk do kursi yang tidak jauh dari meja makan.
Akhirnya Jian memutuskan makan sendiri. Wanita itu memang terbiasa makan makanan sederhana. Maka dari itu, ia memilih bahan masakan yang biasa ia masak di rumah.
Ardy memperhatikan Jian yang tengah menikmati makanannya. Tidak bisa ia pungkiri, aroma masakan Jian begitu harum. Sehingga membuatnya ingin ikut makan juga. Namun mengingat masakan Jian kemarin membuatnya menanggung mlu di hadapan banyak orang, ia mengurungkan untuk mencoba masakan tersebut.
Ardy merogoh ponsel di saku celana cino berwarna krem. Menelusuri nama masakan yang Jian sebutkan tadi di kolom penelusuran. Dan ternyata hasilnya tidak seperti masakan kemarin. Tidak akan ada bau yang di timbulkan usai memakan makanan tersebut.
Akhirnya, setelah Jian selesai makan dan pergi ke kamar, Ardy berjalan menghampiri meja makan dengan langkah mengendap-endap. Beruntung Jian tidak menghabiskan masakannya, lalu ia segera mengambil piring dan memakan makanan yang masih tersisa.
"Mmm ... Enak sekali ternyata."
🌷🌷🌷
Hari ini seperti hari biasanya, Jian harus bekerja dari pagi sampai sore. Pekerjaan hari ini sangat banyak. Sehingga waktu terasa lebih cepat bergulir. Dan tepat di jam pulangnya, Ardy mengiriminya pesan teks.
Kau pulang naik taksi saja. Aku sedang ada janji.
Jian menghela napas panjang. Ia sangat paham maksud pria tersebut. Ardy pasti sedang bersama kekasihnya. Lantaran ia melihat wanita yang beberapa hari lalu memanggil Ardy dengan sebutan 'baby', kembali datang ke kantor tadi siang.
Saat tengah menunggu taksi online di depan gedung, sebuah mobil sport berwarna hitan yang tak asing berhenti tepat di hadapannya. Seseorang dari balik pintu mobil membuka kaca, memperlihatkan wajah tampannya.
"Pulang naik apa?" tanya pria tersebut.
__ADS_1
"Taksi online."
"Cancel saja! Aku akan mengantarmu pulang."
Jian dengan cepat menggeleng seraya melambaikan kedua tangannya. "Tidak usah! Terima ksih. Aku bisa pulang sendiri. Lagipula, taksi online-ku sudah dekat."
Ia menolak ajakan pria yang di ketahui itu adalah Daven dengan sangat sopan. Daven menutup kaca jendela mobilnya, lalu turun.
"Tidak usah segan, Jian. Ayo, aku antar pulang, ya!"
Jian menatap pria yabg tengah tersenyun menatapnya. Kemudian mengangguk ragu. Dengan cepat Daven membukakan pintu samping yang satunya lagi dan Jian pun masuk ke dalam mobil tersebut.
Dalam perjalanan, Daven tak henti-hentinya mengembangkan senyum. Membuat Jian merasa sedikit tidak nyaman. Apalagi pria di sampingnya merupakan pria yang di taksir temannya. Jian merasa sedang mengkhianati Alana, meski di antara mereka tidak ada hubungan apa-apa.
Jian teringat amplop coklat yang di terimanya kemarin. Ia mulai memberanikan diri membuka suara.
"Tuan .." panggil Jian lirih, dan itu yerdengar sangat seksi di telinga Daven.
"Iya, ada apa?" Daven menoleh ke arah Jian sekilas.
"Ya, Jian. Itu aku. Kenapa?"
Jian menunduk. Ternyata benar, Daven yang sedang bersamanya ini adalah Daven yang sama dengan Daven yang di maksud Alana.
"Tidak. Tidak apa-apa. Aku hanya bingung saja, kenapa kau malah mengirim nomer teleponmu untukku?"
Alih-alih menjawab pertanyaan Jian, Daven justru malah melontarkan pertanyaan balik pada wanita di sampingnya.
"Dan kau, kenapa mematikan saluran teleponnya kemarin?"
"Mmm ... It-itu, itu aku sedang di toilet. Jadi aku tidak enak jika lama-lama berbicara di sana."
Daven tersenyum kecil mendengar alasan Jian, membuat wanita tersebut semakin di buat gugup.
"Oh, ya, Jian. Jangan memanggilku tuan, panggil saja Daven!" pintanya.
__ADS_1
"Tapi-"
"Panggil nama saja!" pungkas pria tersebut.
Jian mengangguk kaku. "Ba-baik, Daven."
Seketika pria itu mengerem mendadak. Mendengar namanya di sebut oleh Jian membuatnya sedikit merinding. Suaranya benar-benar terdengar seksi sekali. Perasaan geli mulai menjalar di sekujur tubuh, membangkitkan sesuatu dari balik celananya.
"A-ada apa? Apa aku salah mengatakan sesuatu?"
Jian menggigit bibir bawahnya merasa bersalah. Hal tersebut semakin membuat benda pusaka Daven on. Melihat Jian sepolos itu membutnya ingin melahap bibir mungil di hadapannya. Sesuatu dari balik celananya terasa semakin menegang, namun sebisa mungkin harus ia tahan. Ia tidak mau hanua gara-gara ini Jian akan menjauhinya. Perkenalan antara mereka masih sangat singkat, dan Daven akan menunggu sampai mereka benar-benar dekat.
"Tidak, Jian. Aku lupa menanyakan kemana arah rumahmu," ucap Daven sambil berusaha menahan gejolak tubuhbya yang terasa memanas.
"Oh, kita lurus saja, nanti aku akan memberi tahu lagi jika arahnya belok!"
Jian mengarahkan jalan menuju Apartemen, beruntung dia sudah hafal arahnya. Daven mengangguk paham. Kemudian kembali menancap gas mobilnya.
Bersambung...
___
Jangan lupa juga untuk:
👍Tinggalkan Like
📝Komentar
❤Masukan rak buku favorit
📦Beri Hadiah
Jangan lupa untuk follow akun media sosialku:
IG: wind.rahma
__ADS_1