One Night Stand With TUAN MUDA

One Night Stand With TUAN MUDA
Sakit


__ADS_3

Pagi ini Jian di kejutkan oleh sosok Ardy di sofa yang sedang tidur dalam keadaan menggigil. Badannya meringkuk menahan hawa dingin. Ia segera menghampiri pria tersebut dengan perasaan cemas dan sedikit panik.


"Tuan, kau baik-baik saja?" tanyanya sambil jongkok di lantai.


Tidak ada jawaban yang kuar dari mulut Ardy. Pria itu terus saja menggigil kedinginan.


Jian bingung harus berbuat apa. Sampai akhirnya ia memberanikan diri untuk menempelkan punggung tangannya di dahi pria tersebut. Seketika matanya membulat sempurna, ketika ia merasakan tubuh Ardy sangat panas.


"Ya ampun, badannya panas sekali." kecemansan Jian semakin bertambah.


"Aku harus mengecek suhu tubuhnya. Aku takut terjadi sesuatu buruk padanya." Jian bangkit kemudian bergegas pergi ke kamarnya.


Tidak berapa lama ia kembali dengan alat pengukur suhu di tangannya. Ia berjalan dengan tergesa-gesa. Kemudian mengarahkan alat tersebut ke arah dahi pria di hadapannya hingga mengeluarkan angka 39. derajat C.


Sugu tubuh pria itu benar-benar tinggi dan Jian tidak tahu harus bagaimana sekarang. Membawanya ke Rumah Sakit seorang diri itu tidaklah mungkin. Sebab tubuh pria itu lebih besar darinya dan ia tidak mampu untuk membawanya keluar Apartemen. Meminta batuan orang lain pun tidak mungkin, itu sama saja memberi tahu pada mereka jika tengah dirinya tinggal bersama.


"Aku harus bagaimana? Aku harus meminta bantuan siapa?" ujarnya panik.


"Aku coba kompres dulu saja, jika panasnya bun turun juga maka aku akan membawanya ke Rumah Sakit apapun caranya."

__ADS_1


Usai mengambil handuk kecil dan air di mangkuk, Jian segera kembali ke tempat dimana pria itu berada. Lalu menepelkan handuk tersebut ke dahi Ardy setelah ia peras dari dalam mangkuk berisi air hangat.


Berulang kli Jian melakukannya, dan sekarang ia kembali mengecek suhu tubuh Ardy. Sekarang sudah di angka 38 C, setidaknya suhu tubuhnya mulai turun, dan tubuh pria itupun sudah tidak lagi menggigil seperti tadi.


🌷🌷🌷


Ardy pulang ke rumah setah kelas kuliahnya selesai. Rumah tersebut sanagt luas untuk 3 orang dan 2 orang asisten rumah tangga. Pria tersebut di kejutkan oleh soaok pria berkisar 48 tahun yang tergelerak di lantai dengan tangan memegangi ponsel yang masih menyala.


Ia segera menghampiri pria tersebut dengan perasaan panik.


"Yah ... ayah ... Bangu, ayah!" ia mengguncang-guncangkan tubuh ayahnya, bamun pria paruh baya tersebut sama sekali tak merespon apapun.


Dalam waktu sekejap rahangnya mengeras, matanya menyala mera dan wajahnya pun di buat merah padam menahan gejolak amarah. Sebuah gambar yang di kirim oleh seseorang yang menunjukkn seorang wanita tengah bercumbu dengan seorang pria. Dan yang mengejutkan, wanita yang terdapat dalam gambar tersebut merupakan ibunya.


"Keterlaluan!" cecarnya dengan amarah yang menggebu. Ponselnya kini sudah berserakan di lantai akibat batingan yang begitu keras.


Perhatiannya kini kembali pada sosok sang ayah. "Ayah ... Ku mohon, bangunlah! Ayaaah ..."


Sedikitpun tak ada respon yang di tunjukkan. Ardy menatap wajah ayahnya yang tampak pucat dengan ketakutan, serta kepanikan yang melanda hatinya. Perlahan tangannya ia dekatkan ke bawah lubang hidung. Matanya melotot saat tidak ada oksigen maupun karbondioksida yang masuk naupun keluar dari hidung tersebut. Dengan celat tangannya pindah ke leher lalu turun ke bagian pergelangan tangan.

__ADS_1


Ardy menggeleng lemas saat ia tidak lagi menemukan denyut nadi di lengan sang ayah. Bulir bening kini mengumpul di pelupuk matanya.


"tidak, ini tidak mungkin! ayah, ku mohon bngunlah! Ayaaah .. AYAAAAAAAHHH .....!!!" teriakannya melengking menembus sang cakrawala.


Jian panik melihat Ardy banjir keringat dan mulutnya terus merapalkan kata ayah tanpa henti. Padahal sejak tadi pria itu tidur pulas usai suhu tubuhnya mulai kembali normal.


"Ruan, kau kenapa?" tanya Jian, cemas.


Pria tersebut bangun dengan langsung memeluk tubuh Jian sangat erat. Wanita itu sampai kesulitan untuk bernapas.


"Jangan pergi! Ku mohon," pinta Ardy seraya terisak di bahunya.


Jian hanya bisa diam dalam kebingungan, kenapa pria itu bersikap seperti itu padanya. Ia masih menahan pengap akibat pelukan Ardy yang terlalu erat.


Bersambung...


___


Jangan lupa like, komen, vote, dan beri aku hadiah, yaaaa! Karena dukungan kalian sangat berarti dan menambah semangatku dalam menulis.

__ADS_1


Follow juga Ig @wind.rahma


__ADS_2