
Happy birthday to you
Happy Birthday to you
Happy birthday
Happy birthday
Happy birthday to you...
"Selamat ulang tahun ya Mar, ibu bangga punya anak kayak kamu. Pintar, penurut, baik hati. Pokoknya sayang Damar," sambil membawa kue tar yang terlihat lezat ibunya berkata dengan penuh senyuman.
"Makasih ya ma. Damar sayang mama," nampak sekali kebahagiaan terpancar dari mukanya. Ia senang diberi kejutan seperti ini.
"Sayang ayah juga enggak?" sambil tersenyum seorang pria setengah baya yang berada disebelah ibunya berkata.
"Sayang semuanya. Damar beruntung punya orang tua seperti kalian. Pokoknya Damar bersyukur bisa mengenal orang tua yang menurut Damar yang paling terbaik di dunia ini."
__ADS_1
"Kami juga senang ada kamu disini. Kamu adalah malaikat yang tuhan kasih buat kita."
"Kalian juga malaikat yang yang diberi tuhan untuk Damar."
"Kita sekarang makan kuenya ya," sambil dipenuhi oleh senyum ibunya berkata begitu. Ditangannya ada pisau dan juga sebuah piring kecil.
"Nih mar. Potongan pertama buatmu soalnya kan yang ulang tahun kamu," sambil menyerahkan piring yang berisi sepotong kue Ibunya berkata.
"Makasih ya ma. "
"Sama-sama sayang ku."
"Biar ayah aja yang nyuapin. Kan dah lama juga ayah enggak nyuapin mama mu ini ," ayahnya menawarkan diri. Nampaknya ia ia ingin memamerkan kemesraannya.
Ayahnya segera memotong kue, kemudian dengan mesranya ia menyuapi seseorang yang dicintainya itu dengan penuh kelembutan. Nampak sekali senyum yang lebar menghiasi wajah mereka semua yang sedang berbahagia.
"Kamu mau dikasih hadiah apa sayang?"
__ADS_1
"Aku enggak minta apa-apa. Malu dah gede masih aja minta hadiah."
"Ya enggak masalah sih soal udah gede atau anak kecil. Soalnya kamu terkadang di mata kami masih terlihat seperti anak kecil yang manja."
"Ya kalau nanti dah punya anak juga kan masa masih dianggap anak kecil."
"Kan masih lama."
"Iya sih, tapi kan harus dipikirkan dari sekarang."
***
Damar terjaga dari tidurnya. Mungkin rasa khawatir untuk tidak kebablasan yang membuatnya demikian. Dia menguap sambil mengucek matanya yang terasa masih berat untuk dibuka. Setelah kesadarannya sudah mulai kembali, ia segera duduk ditempatnya ia tidur tadi.
Dia memikirkan mimpi yang baru saja ia alami. Daripada mimipi, sebenarnya lebih tepat disebut khayalan yang sekarang ini untuk mewujudkannya seperti mengambil awan di langit yang begitu luas. Entah kapan akan terwujud.
Tahun lalu, seingat Damar mereka masih nampak akur saat mengucapkan selamat ulangtahun kepadanya. Entah setan apa yang membuat mereka jadi seperti sekarang. Masa yang indah saat mereka menjadi sebuah keluarga yang bahagia itu ingin rasanya kembali lagi.
__ADS_1
Berbeda dari mimipi yang tadi pagi ia alami, kali ini ia sama sekali tidak ingin menuliskan kisahnya. Walaupun ia pernah melihat beberapa buku yang katanya ditulis berdasarkan kisah nyata tapi Damar tidak ingin..Cukup ia rasakan saja, ia tidak ingin orang lain tahu mengenai nasibnya.
Daripada duduk diam saja, Damar akhirnya memutuskan untuk bersiap-siap menuju masjid. Jam nampaknya sudah mendekati waktu sholat yang akan ia laksanakan. Sampai di masjid ia langsung duduk di bagian tengah masjid. Entah mengapa, ia sangat menyukai tempat itu dibandingkan tempat lainnya. Tak lama adzan berbunyi dengan sangat merdunya. Melihat mu'adzin melantunkan adzan kadang Damar ingin juga. Tapi ia merasa itu juga nampaknya tidak cocok untuknya. Pernah ia coba merekam suaranya saat adzan dan ternyata jauh dari harapan. Jadi ya menurutnya lebih baik mendengarkannya saja.