
Sampai rumah Damar langsung menutup kamarnya kemudian dia menangis. Nyatanya lebih menyakitkan melihat kenyataan didepan mata dibanding hanya melalui foto atau video yang kadang bisa direkayasa. Hari itu, rasanya dia tidak ingin melakukan apa-apa. Dunia rasanya telah runtuh .
Setidaknya sekarang ia tahu alasannya berubah sikap. Damar kalau misalnya orangtuanya bercerai nanti ingin hidup sendiri saja. Dia tidak ingin ikut salah satu dari mereka karena takutnya akan ada yang terluka. Selain jalan tengah, dengan begitu ia juga lebih leluasa untuk menjalani kehidupan yang kadang terasa membosankan.
Mungkin jadi anak kost adalah pilihan terbaik. Selama ini juga ia selalu penasaran dengan kehidupan mereka yang katanya lumayan menarik. Ia pernah mendengar cerita beberapa tetangganya yang pernah jadi anak kost. Kata mereka mengasyikkan tapi kadang sengsara juga. Apalagi kalau lagi tidak ada uang, entah dengan apa mereka makan.
Maklum, selama ini Damar hidup dengan kecukupan. Untuk urusan rumah tangga termasuk masak dan belanja ada pembantunya yang setia. Dia mana tahu rasanya makan pakai sambal bawang doang atau bahkan dia tak pernah makan nasi tanpa lauk. Dia bersyukur dilahirkan di keluarga yang tak perlu memikirkan apa-apa.
Saat malam tiba, dia yang merasa kondisi mentalnya sudah baikan segera menelpon teman yang pernah mengirimkan foto perselingkuhan ayahnya dulu. Dari sekian banyak temannya, hanya dia yang diberitahu olehnya. Selain karena dia umurnya telah dewasa, dia juga pernah mengalami hal serupa.
Rencananya untuk menelpon Ihsan entah mengapa dia tak jadi melakukannya. Mungkin karena ia tidak mau terdengar sedih saat menelpon. Bagaimanapun ia ingin terdengar bahagia . Rasa kecewa yang amat sangat sedang menderanya.
***
__ADS_1
"Lama kali, aku dah nunggu lho dari tadi," saat melihat temannya itu duduk Damar yang langsung mengomentarinya. Mereka janjian di salah satu resto yang dekat dengan tempat kerja temannya Damar itu.
"Maaf, ini baru pulang kerja. Tadi katanya ada yang mau kau omongin . Ada apa?"
"Ibuku, tadi aku ngelihat dia sama pria muda. Badannya kayak model gitu, umurnya mungkin sama kayak kau," wajahnya terlihat murung saat mengatakannya.
"Puber lagi ibumu berarti?"
"Mungkin. Pantas aja sikapnya berubah, ternyata dia ada yang baru."
"Teman mesra maksudmu? Kalau temenan biasa mana bakal sampai ngomong kata-kata romantis. Waktu aku ngelihat aku dengar sendiri perkataan mereka. Dah kayak ABG baru kenal cinta."
"Boleh aku minta detailnya?"
__ADS_1
"Tadi pas aku lagi mau beli jaket pulang sekolah aku mampir dulu di satu pusat perbelanjaan biar milihnya lebih puas. Terus aku ngelihat ibuku lagi mesra-mesraan sama cowok. Ya mungkin dia enggak sadar soalnya aku memakai masker sama topi jadi wajahnya kan enggak terlalu nampak . Pingin rasanya melabrak tuh cowok. Tapi karena tempatnya agak rame juga males jadi pusat perhatian jadi ya enggak jadilah. Pingin memfoto tapi kan aku baru pulang sekolah, tau sendirilah sekolah enggak boleh bawa HP," rasanya terlalu detail ceritanya.
"Jadi ya ku tinggalin mereka. Cuma ya aku enggak tahu harus bersikap gimana. Setelah melihat orangtuaku punya pacar semua rasanya kayak hilang hormat aja gitu . "
"Wajar, cuma ya jangan sampai bunuh diri ya kau. "
"Enggaklah, bunuh diri karena kecewa dengan mereka itu sia-sia. Kalau melampiaskan rasa kecewa dengan minuman bir enggak masalah kan?"
"Jangan-jangan kau....."
"Enggak, sekalipun aku enggak pernah minum bir. Cuma ya kadang penasaran aja gitu ngelihat orang-orang minum bir. Katanya sih obat stress."
"Bagus kau banyak-banyak ibadah daripada minum kayak gitu. Banyak dampak negatifnya, badanmu bisa rusak lama-lama. Taunya aku uangmu banyak. Tapi ya jangan dipake buat ngerusak badan juga kali."
__ADS_1
"Biar sekalian, lagian kayaknya aku udah enggak ada artinya hidup di dunia ini, cuma kalau bunuh diri rasanya masih agak gimana gitu. Kalau hancur pelan-pelan kan rasa sakitnya enggak terlalu."
"Sesat."