
Karena apa yang dibayangkan rasanya begitu sudah untuk dituliskan, Damar akhirnya memilih untuk mengambil beberapa poin penting dari ide yang tadi bermunculan di benaknya. Rasanya ingin terus disaat seperti itu. Hujan, tak ada yang bisa ditulis juga ditambah ia sedang malas membaca buku pelajaran.
Rasanya seperti bosan saja, tak ada yang bisa ia lakukan. Main hujan-hujanan aslinya disaat seperti sekarang seru, mana hujan lagi deras- derasnya. Tidak ada yang bakal memarahinya seperti waktu masih kecil dulu. Makin tambah usia entah mengapa rasanya makin malas untuk melakukan sesuatu.
Dulu, setiap kali hujan deras ia selalu ingin mandi hujan tapi selalu saja berujung kena jewer ibunya. Pasti kena omel habis itu, masa-masa seperti itu rasanya kok kangen sekali ya? Dipikir sekarang tak ada sesuatu yang bisa membuatnya bisa menikmati hidup seperti orang lain.
Ngomong-ngomong soal hujan dulu ia selalu mengajak tetangganya yang masih seumuran dengan agar kalau kena marah tidak sendirian. Orangnya baik sekali, sayang dia sudah pindah sejak lulus dari SD. Damar jadi kangen , kira-kira temannya itu masih ingat enggak ya mereka dulu sering kena marah bareng waktu kecil? Damar hanya bisa membayangkan saja saat itu terulang lagi sambil sesekali tersenyum tipis. Rasanya tuh kayak geli aja membayangkannya, tapi di satu sisi rasanya ingin sekali.
Namanya Ihsan, cuma ya seringkali Damar memanggilnya Anto, yang merupakan nama Ayah dari temannya itu. Walaupun begitu kalau didepan orangnya ia tak berani memanggilnya dengan sebutan itu. Takut kena marah karena dianggap tidak sopan.
__ADS_1
Kalau sekarang manggil dengan nama orangtuanya rasanya aneh sekali, mungkin karena pikiran sekarang yang lebih berkembang atau memang sudah bukan zamannya lagi. Tapi ya lebih baik dulu, daripada sekarang anak-anak kecil yang berada jauh dibawahnya memanggil teman mereka dengan sebutan yang menurutnya tidak pantas. Kebanyakan dari mereka memanggil teman mereka dengan panggilan yang terdengar toxic sekali.
Kadang Damar miris mendengarnya, tapi ya mau bagaimana lagi. pernah menasihati salah seorang dari mereka, tapi jawabannya sungguh tak terduga. Damar akhirnya diam saja, toh mereka berkata apa itu hak mereka .
***
"Maaf ya, gara-gara aku kamu jadi ikutan kena marah," saat kecil ia pernah meminta maaf pada temannya karena merasa bersalah.
"Lagian juga dah sering kita kena marah. Nikmati aja selagi bisa. Kita kan enggak selamanya bisa kayak gini," dia melanjutkan kalimatnya.
__ADS_1
"Enggak bisa selamanya?" Entah kenapa kalimat ini terasa menyakitkan sekali walaupun ia tahu maksudnya.
"Ya kan enggak mungkin juga kita sampai tua kayak gini terus."
"Kita bakal selamanya temenan kan San?"
"Kalau itu pasti. Aku bakal selamanya jadi temanmu yang paling baik, aku akan selalu berada di sampingmu, Aku enggak akan pernah membuatmu merasa kesepian," Saat ditanya Ihsan dengan sangat yakin berkata begitu.
Kalimat yang terasa indah itu nampaknya sekarang tinggal kata-kata tak berarti menurut Yusuf. Ia kadang memprotes Ihsan yang berada jauh disana. Tanpa sebuah kabar ditempat yang jauh itu sangat menyakitkan. Yusuf saat mengingat kalimat yang diucapkan temannya itu rasanya ingin sekali mendapatkan kabar mengenai dirinya yang sekarang. Tapi nampaknya mustahil, apalagi sudah bertahun-tahun sejak hari itu berlalu.
__ADS_1
Tapi mungkin dirinya sudah mendapatkan teman yang lebih baik darinya. Lagipula dia juga sudah lupa , untuk apa terus berharap? Dalam kesepian yang terus mengalir Damar menutup dirinya dengan bantal sambil berusaha melampiaskan kesedihan yang begitu dalam.