
Pagi seperti biasanya, tak ada yang istimewa. Hanya saja Damar melihat hari ini begitu cerah, burung-burung berkicau lebih keras dari biasanya. Dengan senyum ia berangkat ke sekolah yang terkadang terasa membosankan. Semangatnya kali ini sepertinya bertambah dua kali lebih banyak dibandingkan biasanya.
Sambil menatap pemandangan pagi yang masih berembun ia mengendarai motornya dengan pelan. Kali ini ia benar-benar ingin melihat pemandangan yang biasa ia lalui lebih lama. Ia takut besok pemandangan yang akan dilihatnya akan berbeda.
Kendaraan yang lalu lalang atau hal lainnya yang mungkin esok akan berbeda ia nikmati dengan sungguh-sungguh. Ia menyadari satu hal, kebahagiaan yang sederhana hanya dengan menikmati semua yang biasa ia lihat dengan lebih baik.
"Hai , selamat pagi!" begitu sampai diparkiran ia menyapa semua orang yang berada di sana.
"Tumben nih, lagi senang kayaknya nih orang, atau dia jangan-jangan dia lagi kesambet sesuatu?" mendengar Damar mengucapkan hal seperti itu salah seorang dari temannya itu berkata.
__ADS_1
"Enggak juga sih, cuma lagi pingin ngucapin selamat pagi aja," Damar tidak heran dengan sikap mereka. Selama ini Damar memang jarang sekali berbasa-basi . Ucapan selamat pagi itu terdengar seperti keajaiban yang baru mereka dengar.
"Terserah kau aja lah ."
Setelah mendengar temannya berkata begitu , Damar segera menuju ke kelasnya. Ia kemudian duduk di mejanya. Entah mengapa semuanya jadi terlihat berbeda dari kemarin. Ia juga melihat ke arah teman-temannya, rasanya mereka hari ini terlihat begitu bersinar. Senyuman dan suara tawa itu pasti akan dirindukan olehnya.
Teman-temannya yang sekarang akrab dengannya itu, rasanya Damar ingin terus disini saja. Ada rasa berat hati yang begitu besar jika suatu saat harus meninggalkan mereka semuanya. Dulu, saat ia baru masuk sekolah sebenarnya ia merasa canggung, bahkan untuk berbicara juga hampir tidak bisa. Walaupun kadang menjengkelkan, bagi Damar teman adalah harta yang tak ternilai harganya.
"PR mu udah siap?" tanya seorang temannya.
__ADS_1
"Udah," walaupun melamun Damar masih bisa mendengar suara temannya itu.
"Boleh aku lihat?"
"Sebentar," Damar kemudian mengeluarkan sebuah buku dari tasnya.
"Ini," katanya lagi sambil memberi bukunya itu. Setelah memberikan bukunya, Damar segera keluar kelas. Disebuah bangku panjang yang terletak di dekat kelasnya ia duduki sambil melihat ke depan. Pemandangan yang esok hanya menjadi kenangan itu ia tatap dengan sepuas-puasnya.
Matahari hari ini dan suara gaduh dari para siswa, semuanya akan segera berakhir. Kalau misalnya pergi ketempat yang jauh apa pemandangannya bakal sama? Apakah kehangatan yang dipancarkan matahari akan sama rasanya? dalam pikirannya saat melihat semuanya dari bangku itu muncul pertanyaan seperti itu.
__ADS_1
Selain itu, ia juga berangan-angan dengan orang-orang yang akan ia temui nanti. Apakah akan sama dengan mereka yang biasa ia temui atau tidak. Walaupun ia belum menentukan tujuan pastinya tetap saja hal seperti itu terpikir olehnya. Disaat otaknya terus memikirkan hal itu, bel masuk berbunyi dengan amat keras. Ia segera masuk ke dalam kelas untuk mengikuti pelajaran yang akan segera berlangsung.