
Setelah melewati banyak sekali kenyataan yang terasa sangat berat akhir-akhir ini, Damar bersiap untuk menghadapi olimpiade yang akan berlangsung besok. Hari ini, untuk terakhir kalinya pelajaran tambahan dimulai. Tidak terasa juga hampir sebulan ia lalui . Pada awalnya ia tidak akan mengira akan berjalan sesuai harapan. Tapi syukurlah tuhan memberikan kelancaran kepadanya.
Semangat ya , lakukan yang terbaik. Aku akan selalu ada untukmu.
Apapun yang terjadi nanti jangan menyerah ya.
from
secret admirer
__ADS_1
Entah berapa kali Damar mendapatkan selembar kertas berisi kalimat untuk menyemangatinya, yang jelas hingga hari menjelang olimpiade yang dinantikan olehnya itu hampir tiba ia belum juga mengetahui siapa orang yang mengirimkannya. Entah dia wanita atau pria, entah suka atau tidak ia benar-benar tidak tahu. Sebenarnya ia ingin mencari tahu, tapi ia rada malas juga. Siapapun dia, apapun motifnya yang jelas Damar berterimakasih kepadanya karena selalu menyemangatinya.
***
"Halo yah, doain aku ya semoga aku bisa melewati hari olimpiade besok," karena tidak ada tanda ayahnya akan pulang ia memberitahukannya lewat telepon. Sebenarnya ia ingin memberitahunya sejak lama, namun ada saja hal yang membuatnya mengurungkan niatnya itu.
"Kamu ikut olimpiade? Kok baru bilang?" terdengar nadanya terkejut .
"Maafin ayah ya mar, ayah terlalu sibuk sama pekerjaan," dengan nada bersalah ayahnya berkata.
__ADS_1
"Iya enggak masalah kok," Damar tidak ingin mencari ribut. Sebenarnya ia bisa saja membahas soal perselingkuhan ayahnya. Walaupun tahu, ia tak ingin mencari keributan. Segera dimatikan telepon itu .
Dari awal tahu bahwa ayahnya sibuk dengan wanita lain ia sebenarnya selaku berusaha mencari cara agar ayahnya mengakui kelakuannya itu. Dia juga sudah paham , cuma dia ingin tahu alasan yang sebenarnya. Daripada menebak-nebak jawaban yang benar, kalau dengar dari mulutnya langsung itu lebih baik .
Ayah ibunya sekarang sudah tak peduli lagi padanya. Cuma ada pembantu saja dirumahnya yang selalu ada untuknya. Mungkin karena di gaji juga. Coba kalau tidak , mana mungkin dia peduli.
Damar pernah sekali dua kali berpikir bahwa kehadirannya yang membuat mereka jadi begini. Entah darimana dia punya pikiran begitu, padahal dulu keluarganya terasa sangat hangat. Rasanya masa-masa seperti itu indah sekali.
Pikiran terburuk yang ada di otaknya adalah ia bukan anak kandung dari orang tua yang telah mengurusinya. Hal itu bisa saja, secara mukanya tidak ada kemiripan dengan mereka . Bisa aja kan dia ini dulu waktu bayi di buang di tong sampah atau mungkin juga bayi adopsi . Semua kemungkinan itu bisa saja terjadi.
__ADS_1
Kalau bukan mereka, terus siapa dong orangtuanya? Dia sendiri bingung. Kapan-kapan ingin sekali ia melakukan tes DNA dengan orangtuanya seperti yang terjadi di sinetron yang pernah ia tonton dulu, tapi pasti harganya mahal. Lagian kadang hasilnya tidak akurat. Sebenarnya dia tidak tahu juga karena belum pernah mencoba, tapi dari yang ditonton biasanya begitu . Mungkin kalau dibilang korban tontonan dia tidak menyangkal tapi dia memang tahunya hanya seperti itu saja.
Daripada mikirin hal yang aneh-aneh mumpung senja sangat cerah tidak seperti hari-hari kemarin dia memutuskan untuk berjalan-jalan disekitar rumahnya sekalian mencari ide untuk tulisan yang akan dia kerjakan usai olimpiade berakhir.