
Terlihat langit diselimuti awan mendung yang lumayan pekat, hari ini untuk berjaga-jaga Damar membawa jas hujan . Takutnya pulangnya nanti kehujanan. Entah sejak kapan tubuhnya terasa lemah saat terkena air hujan, yang ia tahu sejak saat itu ia mulai berhenti bermain-main diluar saat hujan tiba.
Kadang kangen juga hujan-hujanan, tapi ya mau bagaimana lagi kalau badannya sudah tidak kuat terkena hujan. Damar segera melajukan kendaraan ditengah angin yang berhembus sedikit agak kencang itu. Setelah sampai ia segera menaruh kendaraannya ditempat parkir yang disediakan sekolah.
Semangat sekolahnya hari kurang lebih sama dengan hari kemarin , cuma rasa kantuk yang dihadapi tidak separah kemarin. Sebenarnya malasnya hari Sabtu gara-gara senam saja. Ia tahu, senam itu penting tapi kali ini sedang malas berada di depan. Hampir setiap Sabtu ia selalu berada dibarisan paling depan ikut menjadi instruktur karena gerakannya termasuk bagus diantara murid cowok lainnya.
Sebenarnya dia tidak mau, tapi ya selalu saja dengan terpaksa ia lakukan juga. Lagipula cuma senam satu-satunya olahraga yang ia kuasai. Makanya walau terpaksa ia mau juga melakukannya.
***
"Kau kenal dengan Ihsan enggak Mar?" Saat istirahat berlangsung , Danil si anak baru langsung bertanya. Sepertinya ada sesuatu yang ingin dia katakan.
"Namanya Ihsan banyak. Bisa lebih spesifik lagi?" Damar mengenal satu orang bernama Ihsan. Tapi ia tidak yakin apakah dia yang dimaksud.
__ADS_1
"Aku punya teman namanya Ihsan . Terus dia bilang pas aku mau pindah punya teman namanya Damar. Katanya sih rumahnya sekitar sini," Danil mulai bercerita.
"Nama bapaknya Anto bukan?" Damar berusaha memastikan.
"Iya. Kok kamu bisa tahu. Berarti Damar yang dimaksud itu kau ," Danil masih agak ragu .
"Kenapa rupanya?"
"Enggak. Cuma pas mau pindah aku dititipkan surat. Katanya dia kangen sama temannya itu. Dia bilang enggak bisa menghubungi karena tidak mempunyai nomor telepon," Danil kemudian merogoh tasnya lalu memberikan surat itu kepada Damar.
"Gimana kabarnya Ihsan sekarang? Masih suka main hujan?"
"Udah enggak. Tapi dia kadang bilang kalau pas hujan deras pingin kali main hujan lagi kayak pas masih kecil dulu . Dulu katanya ia sering kali di marahi gara-gara main hujan-hujanan pas kecil bareng temannya dulu. Katanya seru banget."
__ADS_1
"Dulu kami sering kali main hujan. Seru kali sih zaman waktu masih kecil dulu. Walaupun bukan itu saja kenangan dengannya, tapi memang tetap yang paling tidak terlupakan."
"Enak kali ya. Sama aku dia enggak pernah mau main hujan-hujanan. Padahal aku kadang ngajakin dia."
"Mungkin karena udah gede juga. Kan dia pindah pas udah lulus SD. Terakhir kali kami main hujan itu kalau enggak salah pas kelas 5 ."
"Pingin deh kenal sama dia dari kecil. Ketemu pas udah SMP itupun pas kelas tiga baru akrab. Waktu itu kan setiap tahun diacak. Jadi kami akrab pas waktu udah sekelas. Kebetulan dulu sebangku. Enak, orangnya pengertian, setia kawan juga ," dengan sangat antusiasnya Danil bercerita. Nampaknya mereka bersahabat dengan baik.
"Punya nomornya Ihsan enggak?" Damar meminta nomor telepon agar rindunya bisa tersampaikan dengan baik kepadanya. Tidak nampak wujudnya setidaknya bisa mendengar suaranya yang lembut .
"Punya. Bentar ku tulis," Danil kemudian memberikan nomor telepon yang diminta setelah selesai.
"Makasih ya Nil."
__ADS_1
"Santai aja. Oh ya kita sekarang temenan kan?"
"Semua orang adalah temanku termasuk kamu. Dari awal kamu masuk aku juga udah menganggapnya teman ."