
Untuk orangtuaku
Maaf jika selama ini aku banyak merepotkan kalian.
Aku pergi meninggalkan kalian bukan karena aku tahu kenyataan yang sebenarnya mengenai diriku.
Yang aku pikirkan saat aku membulatkan tekad untuk pergi adalah karena aku ingin melihat kalian semua bahagia.
Aku ingin pergi untuk selamanya. Aku harap kalian akan bahagia dengan pilihan kalian masing-masing, aku tahu kalau aku seharusnya tidak ikut campur urusan kalian.
Kalian sudah punya pasangan sendiri di belakangku, jadi mungkin ini yang terbaik menurutku.
Damar benar-benar pergi dari rumahnya. Berat rasanya, tapi ia sudah membulatkan tekadnya. Apa yang terjadi kedepannya ia ingin melewatinya sendiri. Sebelum pergi ia meninggalkan surat itu. Di dekatnya juga ia telah menyiapkan kaset yang berisi gambar kedua orangtuanya bersama selingkuhan masing-masing. Susana juga terdapat rekaman percakapan yang menjelaskan maksud dan tujuannya selingkuhan mereka itu mau mendekatinya.
Damar tidak tahu apakah keduanya sudah saling tahu atau belum mengenai perselingkuhan yang dilakukan satu satu sama lain. Kalau misalnya belum mungkin akan menjadi suatu pertunjukan yang bagus . Mungkin saja mereka bakal berpisah. Sebenarnya maksudnya Damar bukan itu, tapi kalau hal itu yang terjadi mau bagaimana lagi?
Dengan menggunakan kereta api ia pergi ke kota yang sama sekali tidak ia ketahui sebelumnya. Hanya dengan insting saja ia berpikir bahwa di sana ia bisa hidup dengan nyaman saja. Mengenai uang ia tak khawatir untuk sementara waktu, itu karena ia menjual beberapa barang berharga miliknya. Ditambah dengan uang tabungannya, ia merasa yakin tidak akan merasa kelaparan untuk kedepannya.
Tapi yang ia bingung sebenarnya adalah bagaimana ia hidup kedepannya. Walaupun sekarang cukup, tapi suatu saat pasti akan habis juga. Oleh karenanya , di dalam kereta ia terus memikirkan hal yang sangat penting bagi masa depannya.
Ia juga ragu untuk melanjutkan sekolahnya, sebenarnya ia sudah mengurus surat pindah tapi dia sendiri bingung. Hanya saja kalau kerja dia sendiri bingung , karena menurutnya ia tidak punya keahlian di bidang apapun. Paling mentok mengajar anak-anak, tapi Damar merasa itu adalah suatu hal yang membosankan baginya. Ia juga merasa tidak bisa mengajar anak-anak walaupun dia mengerti.
__ADS_1
***
"Hai, mau kemana?" daripada terus memikirkan sesuatu yang tak pasti, Damar akhirnya berusaha sok kenal dengan orang yang berada di sebelahnya.
"Tahu sendiri kan mau kemana?" suaranya terdengar seperti tidak suka ditanya. Tapi wajar sih , kalau belum kenal memang suka begitu orang-orang.
"Iya," setelah itu Damar tidak tahu lagi harus berkata apa. Baru satu kalimat, dirinya terasa sudah kena skakmat.
"Hmmm, boleh kenalan enggak? Namaku Damar, kalau kamu?" setelah agak lama , Damar berusaha mengobrol lagi dengan orang yang disebelahnya.
"Fian, panggil aja gitu," entah kenapa kali ini dia agak sedikit ramah.
"Mas Fian ini ditempat yang baru nanti udah tahu mau ngapain?" karena orang yang diajak mengobrol terlihat sedikit lebih tua darinya, jadi ia memanggilnya begitu .
"Aku malah enggak tahu sama sekali mau ngapain. Aku pergi sebenarnya karena orangtuaku sudah memiliki pasangan masing-masing. Di rumah juga rasanya sepi banget, kayak hampa aja gitu hidupku. Walaupun lengkap tapi rasanya tuh kayak sendirian aja," jawab Damar. Ia berusaha menjawab sebaik mungkin.
"Aku mau ngelanjutin sekolah aku. Mungkin kali ini bakalan berat, tapi aku ingin menaklukannya," lanjutnya.
"Kamu sudah tahu bakal tidur dimana nantinya?" tanya orang yang bernama Fian itu.
"Belum sih. Paling mentok tidur di emperan toko atau enggak di masjid."
__ADS_1
"Mau enggak tinggal bareng sama aku untuk sementara? Aku kemarin sempat mencari kost yang murah. Lokasinya juga kalau kata yang punya sih oke. Tapi ya enggak tahu juga sih soalnya aku enggak pernah datang langsung."
"Beneran?"
"Cuma ya nanti bayar kost nya bagi dua. Setuju enggak?"
"Ya udah deh," Damar menerimanya. Menurutnya daripada nyari lagi malah ribet. Lagian kalau berdua bayarnya bisa lebih murah.
"Kok kayak terpaksa gitu jawabnya?"
"Aku mau tinggal bareng. Dipikir juga kalau nyari lagi malah lebih ribet."
"Nah gitu dong. Oh ya, sekarang kita berteman ya?" sambil tersenyum Fian berkata.
"Siap. Ku harap dari sekarang sampai seterusnya kita bisa berteman," Damar mengiyakan. Damar senang bisa punya teman ditempat yang benar-benar asing baginya . Apalagi dia belum pernah pergi jauh sebelumnya.
Walaupun senang, tapi tetap saja tidak bisa mempercayainya dengan penuh. Walaupun belum pernah mendapat perlakuan yang tidak mengenakkan hal yang lainnya tetap.saja ia harus waspada. Zaman sekarang yang terlihat baik belum dia benar-benar baik begitu sebaliknya.
Pertama kali naik kereta dengan rute yang lumayan jauh ternyata membuat memiliki pengalaman baru. Ada banyak tujuan yang ingin dicapai oleh masing-masing orang di kereta yang ia naiki. ia juga melihat banyak pemandangan indah yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Tak peduli apa yang akan terjadi nanti ia ingin terus menikmati pemandangan yang belum tentu ia bisa melihatnya lagi.
Entah mengapa, saat ia sedang asyik menikmati semuanya tiba-tiba ia teringat dengan teman-temannya disekolah. Dalam hati ia berpikir kira-kira mereka bakal merasa kehilangan atau tidak? Atau malah mereka senang karena kepergiannya?
__ADS_1
Ia pergi tanpa mengucapkan sepatah kata. Ia tak ingin membuat mereka sedih, terlebih ia juga tak tahu kalimat apa yang kira-kira cocok untuk diucapkannya. Mungkin nanti ada baiknya menelpon Danil untuk memberitahukan kepergiannya. Walaupun tidak mengubah apa-apa, setidaknya ia bisa mengucapkan sebuah kata perpisahan walaupun lewat sambungan telepon.