Pada Malam Yang Berbadai

Pada Malam Yang Berbadai
15. Surat


__ADS_3

Damar ingin segera membuka surat yang. ditujukan untuknya itu. Tapi dia tidak ingin membukanya di depan orang lain. Akhirnya setelah beberapa tahun, ada juga kesempatan untuk mengobrol dengan seorang teman yang pernah memberi memberi goresan warna yang begitu indah dalam hidupnya.


Sebenarnya banyak orang yang dianggap teman olehnya, namun yang ini spesial. Spesial disini dalam artian yang positif, walaupun dia lelaki bukan berarti tidak bisa terasa spesial. Bukan berarti ia suka, atau hal yang lebih dari itu.


kira-kira lima tahun lalu mereka berpisah, rasanya saat dia mengucapkan kata perpisahan terasa sekali air mata yang mengalir di pipinya. Setelah mengucapkan banyak kata dihari itu, bayangan mereka terpisah jauh . Keinginannya untuk bertemu setidaknya bisa sedikit terobati.


Setelah dipikir-pikir akhirnya ia memutuskan untuk membukanya setelah pulang sekolah saja saat tak ada seorangpun siswa disekolah. Hari ini ia akan melalui pelajaran tambahan untuk olimpiade. Dia lupa kapan pastinya itu akan dilakukan, yang ia ingat sepertinya Minggu depan akan dilaksanakan. Setelah ini selesai, ia akan menjadi siswa biasa yang pulangnya berbarengan dengan siswa lainnya.


Sudah lama sekali rasanya ia tidak melakukan itu. Setelah selesai ia ingin pulang bareng bersama dengan siswa lain tanpa beban yang berarti lagi. Soal orangtuanya ia sudah semakin terbiasa tak melihat mereka, jadi apapun yang terjadi kedepannya ia sudah berusaha untuk siap menghadapi kemungkinan terburuk.

__ADS_1


Pelajaran akhirnya usai juga, Danil sebenarnya mengajak pergi sebelum pulang tapi dengan pelan ia menjelaskan alasan ia menolaknya. Tapi tetap saja, nantinya ia akan ikut pergi dengannya. Danil akhirnya memakluminya dan segera pergi sendirian.


***


Hai, gimana kabarnya?


Maaf ya cuma surat saja , janji deh nanti orangnya juga nyusul nyamperin kamu.


Aku sebenarnya bingung mau nulis apa disini. Sebenarnya kuno banget ya pakai surat gini. Hehe, maaf.

__ADS_1


Kalau mau ngobrol lebih panjang aku udah menulis nomor teleponku di bagian paling bawah. Aku penasaran dengan perjalanan yang kamu lalui setelah aku tidak ada di sampingku. Biar jauh gini, aku selalu ingat janjiku padamu dihari itu.


Segini aja ya. Untuk lebih lengkapnya jangan lupa telpon aku. Mau cerita apa aja boleh kok.


Bye bye My Best Friend


Dibacanya surat itu dengan sepenuh hati. Walaupun cuma tulisan biasa, kenapa ya rasanya ingin menangis saat membacanya? Damar merasa sangat ingin bertemu dengannya secepat mungkin. Ingin rasanya menelponnya langsung, tapi ia sedang berada disekolah yang notabene tidak boleh membawa ponsel kecuali jika disuruh oleh guru .


Ruangan kelas yang sepi menjadi saksi betapa ia ingin melihat canda tawa yang begitu ingin dilihatnya lagi. Waktu itu, ia sebenarnya tidak tahu mengapa mereka akhirnya bisa dekat. Yang jelas, setiap perpisahan selalu meninggalkan rasa rindu yang menuntut untuk dibalas.

__ADS_1


Guru yang biasa mengajarinya akhirnya datang juga, ia ingin cepat berakhir agar ia bisa dengan cepat menelpon kawannya itu. Walaupun sebenarnya ia ragu juga, tapi kalau tidak dicoba takkan tahu hasilnya. Dua jam telah berlalu, akhirnya jam pulang telah tiba. Dengan sangat antusias ia segera memacu motornya, akhirnya yang ditunggu-tunggu tiba juga.


__ADS_2