Pada Malam Yang Berbadai

Pada Malam Yang Berbadai
22. Penghuni Rumah Angker


__ADS_3

Libur datang juga, daripada bosan ia akhirnya mengikuti ajakan Danil untuk main di rumahnya. Dia minta si jemput di persimpangan jalan karena ia tak tahu benar dimana tepatnya rumah Danil.


"Dah lama nunggu?"


"Enggak kok."


"Kita ke toko buku dulu enggak masalah?"


"Enggak. Mau beli apa?"


"Beli komik. Kebetulan aku kemarin udah pesan kemarin."


"Ya udah ."

__ADS_1


Mereka akhirnya memutuskan untuk pergi ke toko dulu. Di sana , Damar tertarik oleh sebuah buku yang katanya mengupas semua hal yang katanya disembunyikan dari khalayak umum. Entah apa yang disembunyikan yang jelas ia ingin membelinya, selain itu ia juga membeli beberapa novel yang terpajang di sana.


"Banyak kali yang kau beli," Danil berkomentar setelah melihat buku-buku yang telah dibeli oleh Damar.


"Untuk mengisi waktu luang, daripada gabut enggak ada kerjaan. Kan aku sekarang udah enggak ngurusin olimpiade lagi."


"Oh , iya juga sih," Danil berusaha menerima alasan yang terdengar lumayan masuk akal itu.


Mereka setelah dari sana segera kerumah Danil. Sebelum sampai ia melihat ada sebuah rumah besar yang terbengkalai, nampaknya rumah itu sudah tidak berpenghuni lagi. Suasana angker sudah terlihat saat Damar menoleh kesana. Rasanya agak sayang melihatnya. Karena Damar tahu, tidak sedikit biaya untuk membangun rumah sebesar itu.


"Dah lama. Tapi ya sebenarnya itu rumah ada yang penghuninya , tapi dia ada sedikit gangguan jiwa makanya rumahnya jadi gitu. Kalau ada yang berniat membantu untuk membersihkannya, dia langsung mengamuk enggak jelas. Katanya sih dia kayak gitu gara-gara ditinggal nikah lagi."


"Kasihan kali ya," Damar mengerti mengapa rumah itu terlihat tidak berpenghuni sekarang. Di satu sisi ia merasa sedih, tapi disisi lain ia merasa senang karena akhirnya ia dapat ide juga untuk menulis. Belakangan ini ia tidak menulis karena tidak mendapat ide yang menurutnya bagus.

__ADS_1


"Tapi ya besok dia katanya mau di bawa ke RSJ. Semoga saja dia bisa cepat sembuh di sana. Sebenarnya dia tinggal berdua sih sama anaknya."


"Anaknya di mana sekarang?"


"Dia kerja jadi Satpam komplek. Dia sebenarnya pingin kerja ditempat yang agak jauh tapi ibunya gak bisa ditinggal. Dia takut ibunya kenapa-napa. Sebenarnya dia juga bilang kalau dia ada niatan buat ngejual rumah itu biar nanti uangnya bisa dipake untuk usaha biar kehidupannya dan ibunya terjamin. Tapi ya mungkin dia belum bisa mengutarakan keinginannya itu."


"Ibunya pasti enggak bakal setuju sih walaupun menjual rumahnya itu bukan ide yang buruk juga sih. Ngomong-ngomong kau kayaknya dekat sama orang itu?"


"Dibilang dekat sih enggak juga, tapi dia enak kalau diajak curhat. Aku kadang kalau ada masalah curhatnya ke dia. Walaupun dia punya masalah yang berat tapi dia orangnya enggak pernah ngeluh sama kondisinya. Aku kalau berada diposisi yang sama dengannya belum tentu bisa sekuat dia."


"Paham sih."


"Oh ya, kau mau minum apa? Biar ku buatkan," Danil yang sadar belum menyuguhkan apa-apa segera bertanya.

__ADS_1


"Apa aja boleh."


"Ya udah bentar dulu ya," Danil segera pergi ke dapur untuk mengambil sesuatu. Sementara menunggu, Damar melamun. Cobaan orang hidup kadang kok rasanya iri sekali ya? Di dunia ini ada tidak ya orang yang hidupnya tidak pernah diuji dengan sesuatu yang memberatkan? Saat melamun, pertanyaan itu muncul sendiri tanpa diminta.


__ADS_2