
Bicara mengenai isi sekolah, Damar masih bingung sebenarnya dengan makhluk yang pernah mengaku sebagai penggemar rahasianya. Dengan modal secarik kertas yang berisi kalimat yang nampaknya untuk menyemangati Damar ia terus membuat rasa penasaran. Bahkan sampai saat inipun dia belum juga ketahuan siapa.
Kalau boleh jujur, Damar ingin sekali yang menjadi penggemar rahasianya itu Dewi. Dia adalah teman sekelasnya yang ia kagumi . Entah sejak kapan ia selalu memperhatikan wanita satu itu. Kalau dilihat dia memiliki sikap yang baik, manis dan menyenangkan. Tapi sepertinya itu tak mungkin terjadi. Dewi sudah punya pacar, mana mungkin dia yang melakukannya.
Pacarnya juga orang terkenal satu sekolah. Ketua OSIS yang punya wajah ganteng dan menawan dengan segudang prestasi. Wajar kalau akhirnya Dewi jatuh hati. Rasanya kok jadi iri ya sama pacarnya itu, Damar saat tahu Dewi berpacaran dengan orang itu merasa iri. Entah mengapa rasanya semua yang membuatnya pacarnya Dewi itu jadi dia ingin memilikinya juga. Walaupun ia sadar itu takkan mungkin.terjadi.
Hari demi hari nampaknya mereka jadi semakin mesra juga walaupun akhir-akhir ini nampak agak sedikit renggang hubungan diantara mereka. Tapi tetap saja hal itu tidak bisa menjadi alasan yang kuat untuk meyakini bahwa orang itu adalah Dewi.
__ADS_1
Selain dia, sebenarnya kandidat terkuat untuk menjadi penggemar rahasianya adalah Arum. Menurut kabar yang beredar, Arum suka kepadanya. Dia juga sebenarnya tidak kalah menarik dibanding Dewi, tapi sayangnya yang naksir kepadanya ada banyak. Damar sendiri pernah beberapa kali di ancam untuk tidak mendekati Arum oleh beberapa orang. Damar tidak masalah dengan ancaman itu, lagipula ia memang tidak mempunyai rasa kepada gadis itu.
"Damar, woy kau disuruh ngerjain soal di papan tulis tuh," salah seorang temannya berkata kepadanya. Pikirannya mengenai penggemar rahasianya itu seketika langsung ambyar.
"Oh iya, ini aku mau maju," jawabnya.
"Ngelamun terus, mikirin apa sih?" terdengar omongannya temannya itu. Tanpa menjawab sepatah kata pun , Damar.segera maju ke depan. Ia mulai menganalisa soal itu dan menjawabnya dengan tepat walaupun sedikit mengalami kesulitan. Untuk ukuran orang yang pernah ikut olimpiade sih soal seperti itu sambil memejamkan mata pun jadi.
__ADS_1
"Enggak ada apa-apa kok buk."
"Enggak ada apa-apa kok melamun?"
"Ya gitulah. Bingung mau Jawab apa aku juga," kata Damar yang sepertinya tidak ingin berterus terang. Bagaimanapun juga yang ada dipikirannya itu adalah hal yang tidak boleh orang tahu. Takut aja kalau ditertawakan.
"Ya sudah kalau tidak mau berterus terang . Silahkan duduk, kalau mau melamun dilanjutkan habis pelajaran ini selesai ya!" Kata gurunya. Tanpa mengucapkan apapun Damar langsung duduk di bangkunya.
__ADS_1
Selama pelajaran berlangsung, ia berusaha untuk tidak memikirkan mengenai penggemar rahasianya lagi. Memang berat , tapi ia berhasil juga . Begitu istirahat ia langsung pergi menuju kantin. Perutnya tidak terlalu lapar, tapi ia ingin menikmati makanan favoritnya di kantin.
Mengenai siapa penggemar rahasianya itu, sebenarnya ia memikirkan beberapa orang lagi yang menurutnya ada kemungkinan. Tapi biarlah, cukup dia menerka saja tanpa perlu tahu siapa dia. Apapun alasannya, dia pasti orang yang ingin memberinya semangat tanpa ingin diketahui identitasnya.