Pada Malam Yang Berbadai

Pada Malam Yang Berbadai
23. Pemandangan Yang Tak Ingin Dilihat


__ADS_3

"Enggak mau diantar pulang?" saat Damar pamit Danil berkata begitu.


"Enggak perlu kayaknya. Lagian juga kau enggak tahu kan rumahku dimana. Yang ada malah nyasar nanti," dengan nada bercanda Damar berkata begitu .


"Makanya aku pingin nganterin kamu. Sekalian jalan-jalan juga."


"Lain kali deh. Makasih banyak untuk hari ini."


"Aku yang harusnya ngomong gitu . Lain kali masih mau kan main kesini?"


"Tentu saja. Tapi ya kalau misalnya kesini juga tergantung situasi dan kondisi juga ."


"Iya sih. "


Damar menaiki motornya sambil menikmati pemandangan senja yang terlihat cukup indah setelah sekian lama selalu tertutup mendung yang datang secara tiba-tiba. Ia harap kali ini tidak turun hujan dengan mendadak. Untuk yang kesekian kalinya ia sudah merasakannya. Benar-benar tidak enak sama sekali di badan. Sebelum pulang kerumahnya ia berhenti dulu disebuah warung mie yang katanya lagi viral. Sebenarnya ia sama sekali tidak lapar, cuma karena melihat begitu banyak yang mengantre ia jadi ingin ikutan juga .


"Hai ,lama enggak jumpa. Kamu kok beberapa hari ini bolos sekolah?" saat sedang mengantre ia melihat seorang teman sekelasnya yang tidak terlihat beberapa hari ini.

__ADS_1


"Aku sebenarnya udah izin sama guru. Akhir-akhir ini ada urusan yang enggak bisa ditinggal," mukanya terlihat agak kebingungan. Damar tahu dia sedang menyembunyikan sesuatu, tapi ia tidak ingin mengoreknya lebih jauh. Ia malas ikut campur urusan orang lain, lagipula jika dibahas malah membuatnya jadi tidak nyaman.


Kamu disini sendirian saja?" tanya Damar.


"Sendiri aja kok. Kayaknya urusanmu enggak bakal selesai jadi mungkin aku enggak bakal berangkat sekolah lagi."


"Emang urusan apa?" Damar agak kaget mendengarnya.


"Rahasia."


"Enggak. Aku enggak percaya. Lagian sekolah juga enggak terlalu penting."


"Mungkin ya. Tapi menurutku enggak juga ."


"Emang apa pentingnya? Pelajaran yang diajarin tiap hari juga ujung-ujungnya lupa. Kerja juga belum tentu dapat."


"Enggak salah sih , aku juga kadang mikir gitu," Dari ucapannya Damar nampaknya menangkap ada rasa frustasi yang begitu dalam. Entah masalahnya apa, yang jelas ada rasa frustasi di dalam jiwanya. Apapun itu yang jelas dia sudah bertekad untuk tidak bersekolah lagi.

__ADS_1


"Kau enggak mesan makanan?" tanya temannya. Damar merasa sudah pesan tapi mungkin itu cuma pikirannya saja, daripada bingung ia segera memesan makanan di sana. Setelah menunggu sekitar setengah jam akhirnya tiba juga pesanannya.


Sebenarnya ia ingin mengobrol lebih lama dengan temannya tadi, tapi sudah pergi. Dia juga tidak nampak nyaman saat Damar bertanya. Daripada pusing ia segera menyantap makanan yang tersaji. Rasanya sangat mantap ternyata, Damar merasa tidak sia-sia menghabiskan waktu sedikit agak lama.


Setelah selesai, ia segera mengabari pembantunya untuk tidak masak. Daripada terbuang percuma, lebih baik tidak usah. Selesai makan , matahari terlihat semakin memerah. Damar yang masih belum ingin pulang kerumahnya segera mencari masjid terdekat untuk sholat. Setelahnya ia ingin membeli beberapa barang di minimarket.


Sebenarnya ia ingin langsung pulang, tapi rasanya malas juga. Mau pulang atau tidak tidak ada yang peduli. Sesampainya di sana, ia terkejut melihat ibunya sedang bersama pria yang waktu itu lagi. Dengan segera ia mengambil gambar ibunya itu. Nampaknya ibunya tidak menyadari keberadaan dirinya, sebab ia masih menggunakan helm dan juga masker.


Terdengar sedikit kata yang romantis keluar dari mulut sang pria itu, karena tidak ingin ketahuan dan juga ia panas mendengar ucapan yang keluar dari pria itu ia segera masuk ke dalam minimarket dengan tetap membawa helm di kepalanya.


Normalnya orang kalau melihat pasangan atau orangtuanya bermain dengan orang lain dia pasti akan langsung menghampiri dan mengucapkan hal-hal yang seolah mereka tidak menyangka. Tapi itu orang lain, Damar mengambil gambar sebenarnya ada tujuannya. Ia ingin mendapatkan kejelasan mengenai hubungan keluarga yang sudah tak seperti keluarga pada umumnya. Punya orang tua lengkap rasanya sangat hambar.


Sekarang dia sudah mendapatkan foto dari orangtuanya bersama pasangan mereka yang lain. Entah kapan yang jelas pada saatnya nanti ia akan bertanya kepada mereka berdua. Siapa tahu setelah itu mereka berubah. Kalau malah jadi bertengkar ya mau gimana lagi, paling ujung-ujungnya bercerai. Kalau memang akhirnya begitu Damar sudah siap . Daripada terus bersama tapi tak ada kebahagiaan mungkin dengan bercerai mereka akan menemukan kebahagiaan masing-masing tanpa harus berdosa.


Damar pulang dengan perasaan campur aduk. Pemandangan yang indah rasanya sudah tak indah lagi. Perlahan , air matanya keluar dengan lembut. Walaupun ia merasa sudah siap tapi nyatanya dihatinya terasa sangat sakit sekali.


Setiap kali berdoa, ia selalu meminta agar keluarganya bisa kembali seperti dahulu. Ia sudah tak kuat lagi sebenarnya, cuma dia tidak tahu harus cerita kepada siapa. Ia tak mau karena ceritanya akan timbul masalah yang lainnya. Satu saja sudah berat, Damar tak ingin menambahnya lagi.

__ADS_1


__ADS_2