
Damar segera memarkirkan kendaraannya ditempat tempat. Entah kenapa ia punya firasat buruk mengenai hari ini . sepertinya akan ada kesialan menimpa dirinya. Rasanya seperti ada sesuatu yang dilupakan olehnya .
Saat baru melangkah meninggalkan tempat parkir, terdengar suara lonceng berbunyi. Ia segera bergegas menuju keruang kelas. Kepalanya masih sedikit agak sakit, tapi ia paksakan untuk berlari. Hampir saja ia terlambat, untung saja gurunya belum masuk kedalam kelas.
Ia segera menaruh tasnya di bangku. Sambil duduk ia mengusap matanya yang terlihat masih merah. Entah mengapa hari rasanya kepalanya berat sekali. Tapi untuk tidur dikelas ia enggan, malas saja mendengar gurunya menceramahi.
Dulu pernah sekali ia tidur saat jam pelajaran terakhir. Dia tidak ingat kenapa ia bisa sampai tidak sadarkan diri, yang jelas itu merupakan pengalaman yang sangat memalukan baginya. Ia tidak mau kejadian serupa terjadi lagi.
Seingatnya itu terjadi beberapa tahun yang lalu , sepertinya saat ia berada di kelas 2 SMP. Ia dibangunkan saat sudah selesai berdoa waktu itu. Melihat temannya tertawa saat ia terbangun dari tidurnya ia merasa malu. Ingin sekali protes dengan mereka yang menertawakan, tapi ia sadar dirinya bersalah. Raut mukanya terlihat kikuk saat matanya terbuka .
Sepertinya itu terakhir kali ia tidur dikelas, sejak saat itu ia tidak ingin lagi walaupun jam istirahat sekalipun. Sambil menguap ia berusaha menahan kantuk. Rasanya ingin sekali semuanya cepat berakhir . Ia rupanya ingin masuk ke alam mimpi sekali lagi .
"Tumben kali kau ngantuk? begadang apa?" temannya yang memperhatikan dia terus menguap akhirnya bertanya .
"Enggak. Aku jarang begadang. Mungkin aja efek tadi habis subuh tidur lagi. Untung aja enggak kebablasan tidurnya aku," sambil menguap Damar berkata.
Seorang guru masuk bersama seorang murid yang kelihatannya tidak asing bagi Damar. Hanya melihat wajahnya saja ia sepertinya sangat mengenal orang itu. Tapi saat ia berusaha mengingat, tak ada sedikitpun dipikirannya ada ingatan mengenai orang itu.
"Baiklah anak-anak,hari ini kita kedatangan murid baru. Namanya Danil ," ucap gurunya .
"Hai, semuanya namaku Danil Ramadan," dengan sedikit malu-malu ia memperkenalkan dirinya saat diminta oleh gurunya.
Ia kemudian duduk di bangku kosong sebelah Damar. Kebetulan Damar juga akhir-akhir duduk sendirian setelah teman sebangkunya pindah karena harus ikut orangtuanya pergi ke kota yang lain.
__ADS_1
"Hai, aku Damar. Semoga kita jadi teman baik ya," setelah Danil duduk, Damar langsung berkata begitu. Dia sebenarnya masih agak kaku berbicaranya, tapi daripada tidak sama sekali.
Semuanya buka halaman 100, hari ini kita akan mengadakan latihan," Gurunya berkata dengan keras. Setelah memberikan tugas, gurunya itu langsung pergi. Katanya dia punya sesuatu yang harus dikerjakan.
"Enggak usah malu, lihat aja buku paket punyaku dulu," Damar ketika melihat Danil tak punya buku paket karena dia murid baru langsung berbagi .
"Makasih ya," Danil berterima kasih kepada Damar yang telah memperbolehkannya melihat buku paketnya.
"Santai aja. Tau cara ngerjainnya enggak?"
"Alhamdulillah ada beberapa yang aku tahu."
"Kalau ada yang enggak tahu bilang aja. Jangan sungkan , kita kan teman sebangku ."
"Siap."
***
Damar berjalan menuju ke parkiran. Hari ini pulang cepat sesuai keinginannya. Sebenarnya ia tidak begitu paham dengan alasan guru memulangkan siswanya lebih cepat dari biasanya. Ia ingin langsung pulang ke rumah karena perutnya sudah meronta minta diberi asupan.
Sebelum pulang ia tadi sudah berkata kepada gurunya yang biasa memberi pelajaran tambahan untuk olimpiade ia akan datang lagi setelah perutnya terisi penuh. Kali ini ia ingin memakai kaus saja. Berbeda dari hari biasanya yang selalu memakai seragam saat pelajaran tambahan dilangsungkan. Dia juga belum bicara lebih intens karena bel pulang berbunyi lebih cepat dari hari biasanya.
Ia tahu hari ini hari Jum'at, tapi jadwal yang seharusnya istirahat malah jadi jam pulang. Esok ia ingin sekali mengobrol dengan Danil. Kali aja kan obrolannya nyambung . Malah kalau bisa jadi sahabat.
__ADS_1
Saat ia mulai keluar dari sekolah ia tiba-tiba saja teringat dengan teman barunya itu. Entah mengapa rasanya ada sesuatu yang menarik darinya. Rasanya pun tidak asing, tapi Damar tidak mampu mengingatnya.
***
"Hari ini masak apa bi?" Begitu masuk Damar langsung bertanya pada pembantunya yang sedang menyapu ruang tengah.
"Ayam balado. Kok jam segini dah pulang? Bolos apa?" Pembantunya yang melihat Damar pulang cepat merasa heran sampai berkata begitu.
"Enggak. Tadi gurunya nyuruh pulang cepat. Entah enggak tahu kenapa," sebenarnya Damar agak kesal saat mendengar hal itu.
"Aku lho enggak pernah bolos. Anak rajin kok bolos," Damar berkata dengan nada sombong.
"Bapak udah pergi lagi belum?" Damar bertanya kepada pembantunya.
"Udah , perginya belum lama."
"Ya udah kalau gitu," Damar segera berlalu menuju ke kamarnya untuk menaruh tas dan setelahnya ia segera menuju ke meja makan.
***
Karena tidak ada hal yang sekiranya ingin dia lakukan , Damar segera masuk ke dalam kamarnya. Rasanya enak juga ya tidur saat jam segini. Sesuatu yang langka ia dapatkan karena harus sekolah. Akhirnya rasa kantuknya akan segera terpuaskan juga.
Rasanya saat menaruh kepala di atas bantal sepertinya mantap kali. Ia berbaring sambil mendengarkan musik yang ia putar melalui ponselnya. Sebenarnya ia tak biasa melakukan hal seperti ini, tapi entah kenapa rasanya ingin saja.
__ADS_1
Kira-kira masih ada waktu 2 jam lebih untuk bersantai sebelum ia berangkat ke masjid untuk sholat Jum'at. Sebenarnya waktu itu adalah kesempatannya untuk membuka buku guna menghafal beberapa rumus yang sulit untuk diingatnya, tapi enggan ia lakukan.
Sesekali ingin sekali bersantai seperti ini. Lagipula belajar terlalu keras juga tidak baik untuk otak. Katanya orang-orang segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Lagipula hidup juga sesekali harus dinikmati selagi bisa.