
Sambil menyantap hidangan yang tersedia, Damar memikirkan perkataan pria tadi. Ia merasa ada yang tidak beres dengan ucapannya. Lelaki itu apa benar hanya berselingkuh dengan ibunya saja ya? Mana mungkin kedua orangtuanya tidak berkata apa-apa selama ini jika ternyata ia hanya angkat. Pasti ada sekali dua kali ngomong. Ini tidak ada sama sekali, apa pria itu hanya berpura-pura berkata begitu untuk menyingkirkannya? Bisa saja kan dia berkata begitu dengan sembarangan.
Damar terus menerus menyangkal omongan yang mengatakan bahwa dia hanya anak angkat. Sebenarnya informasi yang didapat berasal dari orang yang tak terpercaya, apakah ia harus percaya dengan ucapan semacam itu? Tapi bagaimanapun juga ia benar-benar tidak bisa memalingkan otaknya dari pikiran itu.
Kira-kira mereka bakal pulang tidak ya? Damar tidak bisa merasakan lega jika ia tak mendengar dari mulut kedua orangtuanya sendiri . Mereka pasti pulang, itu harus. Damar tidak ingin menunda sampai esok lagi. Ia ingin segera mendengarnya.
Setelah makan, ia masuk ke dalam kamar. Dari jendela kamarnya terlihat awan hitam berkumpul. Sepertinya bakal hujan besar malam ini. Angin juga terlihat berembus dengan sangat kencang. Setelah melihat cuaca yang begitu ekstrem, ia melihat ke arah barang-barang yang sudah dirapikan. Dengan tekad yang kuat ia ingin pergi.
Mungkin dengan begitu orangtuanya bisa memilih jalan mereka masing-masing. Ia merasa dirinya hanya menjadi penghalang kebahagiaan mereka berdua. Damar tidak mau itu terjadi. Setelah mendengar percakapan pria itu, Damar jadi semakin bertekad untuk pergi dari rumah yang sekarang ditinggalinya itu.
Sebenarnya rasanya berat juga meninggalkan rumah yang penuh kenangan ini, tapi mau bagaimana mana lagi? Bukan soal itu juga, masih ada hal lain yang membuatnya berat untuk pergi. Ia tak bisa masak dan mencuci baju sendiri. Sebenarnya wajar , tapi ia merasa kelemahannya itu pasti akan bisa ia lewati dengan baik.
Sedikit demi sedikit gelap mulai turun. Angin semakin kuat berhembus, air yang turun juga turun dengan derasnya. Petir menyambar bersahut-sahutan. Suaranya terdengar memekakkan telinga. Untung saja tidak mati lampu.
Setelah sholat ia menuju ruang makan, sebenarnya ia tak begitu lapar tapi berhubung di sana ada kedua orangtuanya sedang makan dia jadi ikutan ke meja makan.
__ADS_1
"Tumben makan bareng," dengan sedikit menggoda Damar duduk di bangku yang kosong. Dibandingkan dengan kata menggoda sebenarnya lebih tepat kalau dibilang menyindir. Pemandangan yang langka melihat mereka berdua seperti itu. Walaupun masih saling tidak mengobrol.
"Oh ya, nanti kalau udah habis makan ada sesuatu yang mau aku tanyakan," tanpa basa-basi ia berkata begitu. Ini tidak seperti dirinya yang selalu mengutamakan tata Krama.
"Kalau ada yang mau ditanyakan mending sekarang aja," kata ayahnya.
"Enggak ah, bagus nanti," dengan senyum misterius Damar berkata.
"Ya udah kalau begitu," obrolan di antara mereka berhenti sampai sana. Masing-masing sibuk dengan makanannya sendiri.
"Aku ini anak kandung kalian berdua kan?" walaupun suara petir yang bersahut-sahutan, atau mungkin suara hujan deras yang terdengar begitu keras, itu semuanya tak ada apa-apa jika dibandingkan dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Damar.
"Jelas lah. Kamu ini ada-ada saja," jawab ayahnya.
"Ada yang bilang aku cuma anak angkat. Apakah jawaban tadi adalah kebenaran?"
__ADS_1
"Siapa yang bilang kau anak angkat? siapa?"
"Jawab dulu pertanyaanku ! aku ini anak siapa? Kenapa kalian semua sibuk dengan urusan masing-masing? aku enggak mau percaya , cuma kalau melihat keadaan sekarang aku rasa aku tidak seharusnya disini," kata Damar . Suaranya Damar tidak keras, cuma entah mengapa terasa lebih kuat dibandingkan suara hujan yang berbadai di luar sana . Dia terlihat lebih emosional dibandingkan biasanya.
"Maaf jika selama ini kami sibuk. Tapi percayalah, kami cinta kamu. Ya benar, kamu memang anak angkat. Biar begitu, kami membesarkan kamu dengan penuh cinta. Orangtuamu, kami sendiri tidak tahu. Ibumu yang asli sudah meninggal saat melahirkan kamu, sedangkan lelaki yang menjadi seharusnya menjadi ayah kandung mu tidak ada yang tahu pasti. Sejak kamu dalam dia sudah menghilang ditelan bumi," sambil menahan tangis , Ayahnya berkata.
"Waktu itu kami baru kehilangan seorang anak, jadi kami akhirnya mengasuhmu seperti kami mengasuh anak kandung kami sendiri, namamu adalah nama anak kandung kami yang telah meninggal," ayahnya Damar kalau dari suaranya ia nampaknya tidak ingin mengatakan banyak hal lagi. Sedang wanita yang berada di sana itu diam saja.
"Mengenai kuburan ibu yang telah melahirkanmu kami sama sekali tidak tahu. Waktu itu kami belum saling kenal. Yang kami tahu ia berkata dengan penuh harap agar kami menerimamu. Sekarang semuanya terserah kepadamu. Rasanya sakit memang jika mengingat yang pernah terjadi, tapi itulah kebenarannya. Aku tahu kamu kesepian, aku paham kenapa kamu bertanya ini dan itu," sambil menahan tangis, pria paruh baya itu terus berkata.
"Sekarang aku mengerti, maaf jika aku bersikap terlalu kasar. Aku benar-benar minta maaf," setelah mendengar semuanya , Damar berkata.
"Enggak usah minta maaf. Ini semua bukan sepenuhnya kesalahanmu sendiri."
Di dalam malam yang berbadai, Damar akhirnya mengetahui siapa dirinya sekarang. Entah mengapa, rencananya untuk pergi seketika lenyap. Badai yang menghantam terus berlanjut, mereka masuk kedalam kamar masing-masing. Yang terjadi esok terjadilah, Damar entah mengapa merasa kebimbangan dalam hatinya.
__ADS_1