
"Assalamualaikum, selamat malam. Ini dengan Ihsan?" Setelah keadaannya sudah lumayan membaik Damar akhirnya menelpon teman lamanya itu.
"Iya. Ini siapa ya?"
"Ini Damar. Masih ingin enggak?"
"Beneran Damar?" nadanya seperti orang tidak percaya.
"Iya beneran. Masih kenal aku enggak?"
"Alhamdulillah masih. Berarti kamu sudah membaca surat yang ku titipkan ya?"
"Udah."
"Maaf ya, waktu itu aku pergi ninggalin kamu sendirian. Masih suka mandi hujan enggak kau?"
"Sekarang sih enggak soalnya badanku udah enggak kuat lama-lama kehujanan. Entah enggak tahu kenapa juga sekarang kalau kena hujan lama-lama langsung pilek ."
"Oh ya Mar, suaramu sekarang berubah banget ya. Dulu cemprengnya minta ampun. Aku sampai enggak tanda."
__ADS_1
"Namanya juga dah gede. Suaramu juga berubah juga."
"Iya juga sih. Gimana kabar orangtuamu? Mereka sehat?"
"Sehat," Walaupun hubungan mereka tidak sehat sama sekali yang jelas badan mereka terlihat sehat.
"Alhamdulillah. Kau berteman dengan Danil kan?"
"Kebetulan dia sebangku sama aku ."
"Enggak ada kau nampak kan kau kelakuan dia yang aneh?"
"Dia punya penyakit Epilepsi. Takutnya kalau kumat kau enggak mau berteman sama dia. Oh ya lupa, dia juga bisa melihat makhluk halus ."
"Gila, keren banget ya ," Damar beberapa kali melihat di Tv orang yang seperti itu nampaknya keren banget gitu bisa melihat apa yang orang lain lihat. Tapi ya pasti bakalan aneh juga kalau melihat dia berbicara kepada makhluk halus saat Damar berada di dekatnya. Agaknya inilah yang dimaksud oleh Ihsan.
"Keren apanya? Kalau aku dikasih kemampuan ngelihat gituan gak bakal aku mau. Aku malah lebih suka dikasih kemampuan bisa ngelihat tembus pandang biar enggak susah ngintip cewek."
"Parah. Sejak kapan kau jadi tukang ngintip?"
__ADS_1
"Aku aslinya enggak pernah ngintip cewek. Cuma ya entah kenapa kadang muncul aja pikiran kayak gitu. Lagian normal kan?"
"Ya terserah kau aja lah. Kapan kau nyusul Danil kesini?"
"Entah kapan," Oh ya kita lanjut besok ya. Tugas lagi numpuk , sebenarnya malam Minggu bisa santai sih harusnya. Tapi masalahnya tugasnya harus dikumpulkan Senin. Besok malam aku ada janji buat nonton sama doi ."
"Iyalah yang punya Doi . Film apa sih?"
"Entah lupa judulnya. Yang jelas besok aku harus nonton. Dari kemarin dia dah cerewet aja ."
"Ya udah . Semoga cepat selesai," Telpon langsung dimatikan.
***
Terlihat Damar menguap, nampaknya ia sudah mulai mengantuk. Hari banyak sekali yang terjadi, yang paling membuatnya sedih tentu saja kejutan dari sang ibu yang dengan santainya berjalan dengan orang lain . Kalau tidak ingat itu tempat ramai pasti ia melabrak. Tapi mungkin belum saatnya.
Yang jelas setelah melihat keduanya punya pasangan sendiri ia jadi semakin mengerti apa yang harus dipersiapkan olehnya untuk menghadapi resiko terburuk yang pasti akan datang . Semuanya nanti tidak akan terasa tergesa-gesa karena dari awal ia sudah tahu .
Bagaimanapun nanti, itu lebih baik daripada tiba-tiba ia diberitahu mereka akan menikahi pasangan baru mereka. Itu terasa menyakitkan sekali.
__ADS_1
Walaupun belum pernah mencoba minuman keras, ia selalu memikirkan untuk mencobanya. Kata orang-orang rasanya bisa membuat mabuk kepayang hingga berada di surga. Segala masalah tak kan teringat. Tapi setiap kali ingin mencobanya, entah kenapa pikirannya menolak. Mungkin , pikirannya untuk mencoba hal itu hanyalah sebatas angan saja.