
Dengan berat hati Damar keluar dari gerbang sekolah. Esok hari ia sudah tak bisa lagi melakukan hal-hal yang ia sendiri terbiasa melakukannya. Sebuah rutinitas yang mungkin kali ini menjadi sesuatu yang akan dilakukannya untuk terakhir kalinya.
Entah mengapa rasanya sekolah yang kadang membosankan terasa begitu berat untuk ditinggalkan. Setiap kali ia berpikir bahwa ini adalah yang terakhir kalinya, rasanya semakin berat untuk pergi. Seberat apapun , suatu saat ia harus pergi dari juga cepat atau lambat . Maka dari itu dikuatkan lagi tekadnya itu yang mulai terlihat agak melemah.
Seperti halnya tadi pagi saat berangkat, perjalanan pulang kali ini ia lakukan sambil menikmati pemandangan yang esok ia tinggalkan. Rasanya matanya ingin terus melihat pemandangan seperti ini lagi esok .
Saat pagi tadi ia sudah bilang kepada pembantu dirumahnya untuk memasak makanan favoritnya dengan rasa yang paling nikmat. Walaupun setiap hari masakannya nikmat tapi kali ini ia ingin yang benar-benar spesial.
Sebenarnya ia tak sabar untuk menikmati makanan yang dipesannya di rumah, tapi bagaimanapun juga ia ingin menikmati setiap tempat yang biasa ia tuju saat pulang sekolah. Menikmati sesuatu yang esok belum tentu bisa dinikmati itu adalah hal sangat wajar, lagipula perutnya juga belum terasa lapar.
__ADS_1
***
"Kamu mau ponsel ini? ambil saja kalau kau mau. Enggak usah pikirin aku. Kalau cuma beli ini sih gampang," terdengar suara selingkuhannya ibunya Damar itu dengan mesranya. Damar yang berhenti di sana karena melihat pria itu sedang bersama wanita lain rasanya ingin muntah.
"Tapi ini mahal lho sayang," kata wanita disampingnya itu.
"Santai aja. Aku bisa beli besok. Yang penting kan kamu senang," dengan penuh senyum ia berkata. Entah mengapa rasanya Damar ingin berkata kasar. Ia benar-benar benci pria itu . Tapi kalau dipikir-pikir lagi, pria itu adalah orang terbodoh di dunia menurut Damar. Sudah bodoh, tidak punya harga diri pula .
"Minta sama selingkuhanmu itu ya?" kata wanita itu dengan santainya.
__ADS_1
"Kalau iya kenapa? Kamu cemburu?"
"Enggak kok. Aku sama sekali enggak cemburu. Lagian juga barang yang ia kasih ke kamu jadi milikku juga. Kamu ingat kan perjanjian kita?" dengan wajah tak menunjukkan rasa bersalah sama sekali ia berkata.
"Enggak kok. Dari awal kita kan udah sepakat. Sekarang tinggal gimana caranya ngebuat dia bercerai sama suaminya aja biar kita bisa menguasai hartanya. Aku pernah dengar dia punya anak angkat , tapi itu bukan masalah sih. Aku enggak tahu tahu seperti apa wajahnya karena dia juga tidak pernah memperlihatkannya kepadaku. Dia cuma pernah bilang punya anak angkat."
Mendengar ucapan pria itu rasanya detak jantungnya Damar mau berhenti. Anak angkat katanya? Jadi selama ini dia cuma anak angkat? Tapi kenapa mereka tidak pernah bilang? Bahkan di dokumen-dokumen penting saja tertulis kalau dia anak kandung. Ini tidak salah dengar kan? Damar belum bisa menerimanya.
"Ya udah yuk kita belanja, kamu kan udah janji mau belikan aku baju baru," wanita itu kemudian mengajak pergi. Mereka pun segera meninggalkan tempat itu setelah membayar.
__ADS_1
Damar segera mendengarkan rekaman percakapan mereka berdua. Ia membawa ponsel jadi ia bisa dengan mudah merekam mereka . Bahkan ia juga sempat mengambil gambar mereka dengan sangat jelas. Dengan begini motif pria itu sudah jelas, menguasai harta dan meninggalkan ibunya saat ia sudah mendapatkan apa yang dia mau.
Kejam juga rencananya, walaupun terdengar seperti cerita sinetron tapi tetap saja terdengar kejam. Pria itu apa tidak sadar dirinya hanya diperalat saja. Atau mungkin ia tahu tapi ia mengabaikannya? Soal itu Damar tidak tahu. Yang jelas rencana pria itu takkan berjalan lancar, Damar bisa memastikan hal itu walaupun ia mungkin sudah pergi ketempat yang jauh sekalipun.