Pada Malam Yang Berbadai

Pada Malam Yang Berbadai
28. Cerita Teman


__ADS_3

Sebelum tidur Damar menelpon Ihsan, rasanya sudah lama sekali ia tak memberi kabar. Ia ingin tahu bagaimana kabarnya sekarang. Ya kali aja kan ada kisah menarik yang dibawa oleh teman masa kecilnya itu.


"Assalamualaikum, masih ingat aku kan?" begitu diangkat Damar langsung berkata begitu .


"Damar ya? "


"Iya, kamu gimana kabarnya?"


"Buruk. Keadaanku benar-benar buruk tapi semuanya adalah kesalahanku sih," jawabnya.


"Buruk gimana?"


"Ya gimana ya bilangnya, aku mau putus sekolah soalnya aku mau nikah," jawabnya.


"Nikah? Umurmu kan baru....."

__ADS_1


"Iya aku tahu, masalahnya aku udah berbuat sesuatu yang ceroboh sih. Aku nurutin hawa nafsuku buat memperkosa anak orang dan dia sekarang hamil," Ihsan menjelaskan.


"Aku nyesel banget udah ngelakuin hal yang begitu buruk. Aku enggak tahu bagaimana cara memperbaiki semuanya selain menikahi gadis itu," dia melanjutkan alasannya hendak berhenti dari sekolah.


"Kau nikah udah mantap bisa menafkahi dia?"


"Sebenarnya enggak juga sih, semuanya karena terpaksa oleh keadaan. Aku sebenarnya belum mau menikah, aku belum siap jadi ayah."


"Tau gitu kenapa kau perkosa dia?"


"Aku juga enggak ngerti. Semuanya terjadi begitu saja, pas sadar yang kulakukan adalah kesalahan dia sudah kehilangan apa yang berharga di dirinya. Andai saja aku enggak ngelakuin hal yang begitu buruk seperti itu...."


"Gimana Danil, dia enak kan diajak ngobrol?" Ihsan rupanya tidak ingin membahas masalahnya lebih lanjut.


"Enak kok, aku Minggu kemarin main kerumahnya."

__ADS_1


"Jadi pingin main juga. Kayaknya enak kalau bisa main bertiga, aku pernah memimpikannya tapi kayaknya enggak bakal tercapai ya."


"Suatu saat nanti, aku yakin pasti bisa. Kalau waktunya tiba kita bisa bersama."


"Suatu saatnya entah kapan. Lagian juga kita udah lama enggak bertatap muka."


"Iya sih ."


"Sambung besok ya, aku dah ngantuk soalnya," Ihsan mengakhiri obrolan mereka.


Setelah telepon terputus Damar segera duduk dipinggiran kasurnya itu. Ia memikirkan bagaimana rasanya harus menikah disaat sedang berada dipuncak masa pubertas. Pasti sangat berat sekali untuk mengambil keputusan untuk menikah. Tapi mungkin suratan takdirnya harus begitu.


Tapi ya memang salah juga dia, andai saja waktu itu ia bisa menahan nafsunya pasti masalah itu takkan terjadi. Sayangnya nasi sudah menjadi bubur, mau bagaimanapun juga keadaan tidak bisa seperti semula. Yang ia lakukan sekarang hanya bertanggung jawab atas apa yang ia perbuat.


Damar tidak menyangka tapi ia harap kedepannya Ihsan mendapatkan kebahagiaan setelah menikah. Ia harap pernikahannya tidak kandas ditengah jalan. Ia pernah mendengar kalau nikah muda rawan untuk bercerai, tapi ia harap itu tidak terjadi kepada Ihsan. Jika seandainya mereka bercerai kasihan anak mereka nanti.

__ADS_1


Damar yang masih memiliki orang tua yang lengkap saja masih merasakan kehampaan yang amat sangat, apalagi anak mereka nanti. Terlahir sebagai anak yang hamil diluar nikah saja sudah menjadi beban tersendiri baginya, kalau seandainya bercerai mungkin saja ia bisa bunuh diri karena terlalu beban.


"Aku kok jadi mikirnya kejauhan ya," dengan pelan ia bicara sendiri. Setelah berkata ia langsung memeluk bantal dan. merebahkan diri. Setelah berdoa ia langsung terlelap.


__ADS_2