
"Dasar penghianat, hidupmu akan berakhir disini," disebuah lapangan luas terdapat dua orang berpakaian seperti dalam cerita isekai.
"Aku tidak ingin berkhianat sebenarnya, tapi tuan muda selalu menganggap aku bonekanya. Aku sudah muak dengan hal semacam itu," terdengar suara pembelaan.
"Bukankah itu sudah tugasmu sebagai pelayannya?"
"Aku tidak ingin lagi punya tuan yang egois. Bunuh aku kalau kau mau. Bagaimanapun aku sudah tidak mau lagi ikut dengannya. Aku lebih baik mati," suara ini mendidihkan darah orang satu lagi. Ia tak menyangka akan mendengar jawaban itu.
"Kalau itu mau mu, matilah kau," sambil menebas pedangnya ia berkata. Ucapannya terdengar seperti orang yang dikuasai oleh kemarahan.
__ADS_1
Tanpa ada perlawanan, orang yang ada dihadapannya langsung ambruk seketika. Dari perutnya nampak mengalir darah segar.
"Maaf, aku terpaksa," dengan pelan orang yang menebas pedang itu berkata lagi sambil mengucurkan air mata.
"Ini bukan salahmu. Sudah seharusnya aku menerimanya. Terimakasih sudah memberikan kematian yang indah ini," dengan nafas yang sudah tak teratur orang itu berkata. Perlahan, ia menutup matanya. Dengan senyum yang lebar ia meninggalkan dunia .
Sambil menyesali perbuatannya, orang yang menebas itu menangis sambil memeluk erat tubuh yang sudah tak bernyawa itu. Sesekali ia berteriak memanggil namanya.
Suara petir yang cukup keras membangunkan Damar, semuanya gelap saat ia membuka matanya. Ia merasa takut sekali. Kepalanya masih pusing . Perlahan ia segera duduk ditempatnya ia tidur.
__ADS_1
Karena tidak bisa tidur walaupun mati lampu, akhirnya ia memikirkan tentang mimpinya itu. Kalau dibuat cerita sepertinya mantap juga. Tapi cuma sepotong yang ia dapat, ia bahkan tak tahu bagaimana ceritanya berlangsung. Yang ia dapat cuma ceritanya ada pengkhianatan yang berujung pada pembunuhan oleh temannya sendiri.
Mungkin ceritanya akan seperti tuan dan pelayanan layaknya cerita kerajaan atau samurai. Karena merasa dianggap boneka dia ingin pergi meninggalkan tuannya. Tapi ketahuan temannya, terus temannya tidak terima. Karena terlalu emosi ya jadinya dibunuh. Tapi pasti ia akan menyesal dengan semua perbuatannya.
Karena masih mati lampu, akhirnya dia meraba-raba sekitarnya mencari ponselnya untuk mencatat semua ide yang didapat. Walaupun belum tentu ia bisa membuat tulisan yang keren dari ide itu, tapi ia ingin mencatatnya. Kalau tidak dalam waktu dekat, dimasa depan pun pasti akan berguna. Ia yakin akan hal itu.
Tidak lama setelah ia mencatat, lampunya menyala kembali. Semuanya kembali terang. Tak lama kemudian, terdengar adzan subuh yang menyatu dengan air hujan yang sudah mulai reda. Ia segera bergegas menunaikan sholat.
Setelah Sholat, ia sebenarnya ingin sekali jalan-jalan pagi, tapi karena hujan belum sepenuhnya berhenti, ia akhirnya memilih untuk membaca cerita yang ia buat semalam. Walaupun lebih rapi, tapi ia merasa perlu banyak sekali perbaikan. Ada kata-kata yang kini menurutnya perlu diganti.
__ADS_1
Setelah mengganti beberapa kata yang menurutnya kurang pas, karena udaranya terlalu dingin tanpa sadar ia tertidur kembali. Ketika tersadar, jam yang ia lihat membuatnya kaget. Ia segera bergegas mandi secepat mungkin. Memakai pakaian kemudian kabur tanpa sempat sarapan. Sebenarnya ingin rasanya sarapan, tapi ia pikir ia akan terlambat jika harus memakan sesuatu terlebih dahulu.
Awan mendung menemaninya diperjalanan menuju sekolah. Kepalanya masih agak sedikit pusing. Hampir saja ia kebablasan, Untung saja ia masih bisa mengendalikan pikirannya untuk segera masuk melewati gerbang sekolah sebelum ditutup .