Pada Malam Yang Berbadai

Pada Malam Yang Berbadai
26. Wanita Tua dan Kisahnya


__ADS_3

Selesai makan Damar segera pergi dari sana. Namun baru beberapa langkah ia keluar, ia melihat seorang wanita tua yang hampir pingsan. Ia terlihat membawa tas. Melihatnya kondisinya begitu Damar segera menolongnya. Terlihat dengan jelas wajahnya yang mulai berkeriput itu sangat lemah.


"Nenek enggak papa?" tanya Damar.


"Cuma lemas aja kok nak."


"Nenek mau diantar kerumahnya nenek enggak? Kelihatannya nenek sedang tidak baik-baik saja."


"Jangan nak. Nenek enggak mau lagi kesana. Nenek benar-benar ingin pergi dari sana," saat mendengar dirinya hendak diantar pulang nenek itu sepertinya ingin berontak. Sepertinya ada masalah yang rumit sedang menimpanya.


"Ada masalah apa nek?" tanya Damar.


"Enggak ada masalah apa-apa, nenek cuma mau pergi aja," dia belum mau berterus terang. Wajar sebenarnya, lagian mereka berdua tidak saling mengenal sebelumnya.


"Nenek udah makan? Kelihatannya lemas sekali nenek ini."

__ADS_1


Yang ditanya diam saja, dia sepertinya bingung hendak menjawab apa. Lagipula ia tidak tahu benar motif pemuda itu menolongnya.


"Kalau nenek enggak mau pulang mending kita makan dulu, setidaknya perutnya nenek terisi," Kata Damar lagi.


"Nenek enggak punya uang ."


"Itu sih gampang nek. Udah makan yuk, nanti biar aku yang bayar. Nenek terima bersih aja," dengan tersenyum Damar berkata. Nenek itu akhirnya mau di ajak Damar untuk makan.


"Nenek kenapa enggak mau pulang ke rumah? Gimana sama keluarganya nenek? Mereka apa enggak nyariin?" dengan pelan Damar berkata.


Mandi lumpur? Nenek-nenek? kalau dilihat mukanya juga tidak asing. Jangan-jangan ini nenek yang belum lama viral gara-gara konten mandi lumpur itu. Tapi parah sih yang udah nyuruh dia buat mandi di lumpur. Kenapa bukan dia aja yang mandi pasti penontonnya lebih banyak dan juga tidak mendapatkan hujatan. Menang parah sih itu orang.


"Emang siapa yang nyuruh mandi lumpur nek?"


"Cucu nenek."

__ADS_1


"Nenek tujuannya mau kemana nek?"


"Enggak tahu. Nenek enggak punya uang lagi."


"Ya udah makannya habisin dulu nek. Masalah uang sih gampang," Damar berusaha menenangkan wanita tua itu.


Setelah selesai makan, sebelum berpisah Damar memberikan uang dengan nominal yang lumayan besar. Wanita itu sebenarnya hendak menolaknya, tapi pada akhirnya diterimanya juga.


Kasihan wanita itu, sambil mengendarai motornya Damar memikirkan wanita tua itu. Sudah tua malah bukannya dihormati malah diperlakukan seperti itu. Rasanya ingin ketemu dengan orang yang telah berbuat semena-mena, tapi entah siapa juga Damar tidak tahu.


Setelah sampai rumah, Damar mematangkan niatnya untuk menulis cerita. Semalam yang dilakukannya hanya mencorat-coret kertas saja. Pekerjaan yang sia-sia sebenarnya, tapi rasanya enak juga untuk mengurangi beban di hati.


Ia ingin menulis cerita yang kemarin ingin ia tulis, mengenai seseorang yang tinggal disebuah rumah besar yang terlihat angker. Ia tinggal bersama seorang penghuni lain yang terkena gangguan jiwa. Sebenarnya Damar belum tahu darimana ceritanya itu akan dimulai, cuma ya rasanya dia sudah sangat cocok dengan cerita itu.


Sambil terus berkendara, pikirannya perlahan tertuju kepada cerita yang akan dia buat. Setidaknya sebelum dia menjalankan rencana yang akan mengubah hidupnya ia ingin menuntaskan satu cerita ini .

__ADS_1


__ADS_2