Pada Malam Yang Berbadai

Pada Malam Yang Berbadai
07. Impian


__ADS_3

Daripada memikirkan ayahnya yang belum tentu memikirkannya, ia kembali asyik kembali menulis. Walaupun masih agak kesusahan, tapi menurutnya mengasyikkan. Ada sesuatu yang tidak bisa ia katakan dengan jelas, yang jelas menurutnya sangat mengasyikkan.


Untuk pertama kali setelah 17 tahun hidup di dunia ia merasakan kenikmatan yang belum pernah ia nikmati sebelumnya. Padahal pelajaran membuat cerita dulu adalah hal yang tidak ia sukai. Bukan hanya membuat cerita saja, dulu pernah ia membenci sekolah.


Waktu itu nilainya kebanyakan masih dibawah standar, ia sangat kesulitan dalam menerima pelajaran yang diajarkan disekolah. Hasil yang didapat sekarang adalah buah kerja kerasnya belajar. Sebenarnya sangat sulit , tapi dia paksakan diri saja.


Ia percaya, di dunia ini ada orang yang jenius tanpa belajar dan juga karena kerja keras mereka . Damar memasukkan dirinya ke dalam golongan yang kedua. Karena selama ini ia juga mendapatkan segalanya sesuatunya melalui usaha yang tidak mudah.


Saat menulis, tiba-tiba terpikir dalam hatinya sebuah keinginan yang sangat luar biasa bagi seorang pemula. Apalagi kalau bukan ceritanya di filmkan . Ia pernah melihat beberapa film yang diangkat dari novel. ia ingin suatu saat bisa seperti mereka juga .


Jika itu terjadi, namanya pasti akan dikenal banyak orang. Semuanya memujinya dengan sukarela. Tak lupa pula para penggemar yang mengular meminta tanda tangannya.

__ADS_1


Impian seorang pemula memang selalu terlalu tinggi. Saking tingginya sampai lupa membawa parasut agar tidak merasakan sakit apabila kenyataan tak seindah bayangan. Banyak orang yang punya mimpi serupa, namun hanya sebagian kecil saja yang mampu melewati rintangan yang cukup sulit untuk bisa menggapainya. Kebanyakan orang dengan sukarela meninggalkan mimpi yang begitu indah karena berbagai alasan.


Setelah kira-kira ia menyelesaikan satu lembar cerita, ia membacanya kembali. Diperhatikan segalanya dengan sungguh-sungguh. Sedikit senyum terlihat di bibirnya , ia merasa tulisannya lebih baik baik dari hari itu. Ia harap kedepannya tulisannya selalu mengalami peningkatan, baik jumlah kata maupun kualitas cerita.


***


Setelah sekian lama dikamar, ia memutuskan untuk keluar juga. Tenggorokannya terasa kering sekali, ia memutuskan untuk ke dapur . Sebelum sampai dapur, dilihatnya Ayahnya sedang menonton TV sendirian diruang tengah. Sedangkan ibunya entah kemana. Mereka pulang atau tidak, nampaknya masing-masing sudah tidak peduli lagi. Sekarang, mereka lebih nampak terlihat seperti orang asing yang terpaksa berada di rumah yang sama. Sudah tak nampak kemesraan diantara mereka.


"HM... Yah, tadi mau ngajak jalan kemana?" sebelum mengucapkan maksud dan tujuan memang lebih baik basa-basi terlebih dahulu.


"Kemana aja, mumpung lagi ngumpul di rumah. Kayaknya udah lama ya kita enggak pergi."

__ADS_1


"Ayah terlalu sibuk sih. Padahal kan Damar dari kemarin pingin. Tapi kalau sekarang enggak dulu deh. Hujan gini mana seru buat pergi keluar. "


"Terus?"


"Gimana kalau malam minggu besok? Kan pas banget ramai. Ayah masih disini kan pas malam minggu ?"


"Ayah kayaknya disini cuma sampai Jum'at. Habis itu mungkin sebulan kemudian baru pulang lagi ," Ayahnya sedikit keberatan


"Enggak seru. Ya kali jalan-jalan pas malam Jum'at. Ketemunya malah sama mbak kunti nanti."


"Ya gimana lagi. Biasanya cuma malam itu. Ayah duluan ya. Dah ngantuk banget soalnya," setelah berkata seperti itu, ayahnya Damar langsung pergi. Sementara yang ditinggalkan hanya terdiam saja.

__ADS_1


__ADS_2