Pada Malam Yang Berbadai

Pada Malam Yang Berbadai
24. Damar Dalam Keraguan Malam


__ADS_3

Damar setelah sampai dirumahnya langsung menuju kamar , ia langsung merebahkan badannya di kasur. Sebenarnya ia tadi rencananya ingin segera menulis, tapi rasanya jadi malas sekali sekarang. Kali ini ingin rasanya menghilang saja, hatinya masih terasa ngilu saat mengingat ucapan romantis yang keluar dari mulut pria yang bersama ibunya itu.


Ingin rasanya mencabik-cabik mulutnya yang kotor itu. Dia benci pria itu. Andai saja tidak ada hukuman untuk membunuh seseorang, Damar akan mengincar pria itu sampai mati.


Sambil rebahan, ia kembali melihat foto ayahnya bersama selingkuhannya yang dikirim seseorang tempo hari. Sambil melihatnya, ia jadi ragu mengenai dirinya. Entah mengapa ia jadi berfikir kalau dirinya hanyalah anak pungut saja, atau mungkin cuma anak haram yang tidak sengaja terbentuk karena syahwat kedua orangtuanya yang tidak terbendung. Karenanya dia adalah penghalang mereka dan sekarang mereka sudah tidak bisa menahan hasrat mereka untuk bersama orang lain.

__ADS_1


Entah kapan, Damar belum punya keberanian untuk menanyakan tentang dirinya dan juga tentang kedua orangtuanya yang terlihat seperti orang asing. Keluarganya yang telah kehilangan kehangatan ini nampaknya memang harus dipertanyakan nasibnya.


Daripada terus memikirkan hal yang tidak-tidak, Damar akhirnya memutuskan untuk menulis saja. Ia berharap dengan begitu ia bisa mengalihkan perhatiannya. Daripada terus memikirkan hal-hal yang tidak baik juga , lagipula orang yang ada dipikirannya juga belum tentu memikirkannya.


Walaupun ia memutuskan untuk menulis, nyatanya ia sedang tidak bisa untuk menulis apapun. Yang dia lakukan hanya mencorat-coret kertas tanpa tujuan yang pasti. Hampir selembar kertas penuh dengan coretan yang ia buat.

__ADS_1


Setelah semuanya selesai ia langsung berangkat sekolah. Hari ini ada ulangan yang tidak bisa dilewatkan. Ia tiba disekolah hampir bersamaan dengan bel masuk , untung saja masih bisa masuk. Sebenarnya kalau tidak dibolehkan masuk Damar sudah berencana untuk pergi ke suatu tempat.


Rutinitas biasa hari Senin terasa sangat membosankan. Kepala sekolah yang mengatakan banyak hal dengan kalimat yang berbeda namun intinya tetap sama rasanya benar-benar membosankan. Untung saja, ditengah upacara berlangsung hujan tiba-tiba datang sedikit agak deras. Maklum musim hujan, walaupun bukan musimnya juga sebenarnya hujan datang kadang secara tiba-tiba juga.


Ia merasa bersyukur sekali walaupun harus kalang kabut untuk berlari ketempat teduh bersama dengan ratusan siswa yang lain. Hujan semakin deras, terdengar suara gemuruh petir dengan kerasnya. Tanpa peduli dengan apa yang akan terjadi ia langsung masuk kedalam kelas. Menaruh tas tepat di mejanya kemudian kepalanya ditaruh di sana. Ia ingin tidur lagi, mimpi yang semalam terlalu buruk.

__ADS_1


Mungkin saja dengan tidur di dalam kelas mungkin ia bisa mendapatkan mimpi yang lebih baik lagi. Lagipula sebenarnya hari ini memang bawaannya ingin tidur terus. Sebenarnya Damar juga tidak mengerti, namun dorongan untuk tidur terus memenuhi otaknya.


Saat baru terlelap ia dibangunkan oleh seorang temannya. Sebenarnya ia ingin marah, namun saat melihat seorang guru telah berada di ruang kelas ia tak jadi marah. Sebelum mengikuti pelajaran, ia meminta izin untuk mencuci mukanya dulu biar bisa mengurangi rasa kantuknya itu.


__ADS_2