
Matahari terasa begitu terik saat Damar melangkah ke sekolah yang letaknya tidak jauh dari kost nya. Matanya masih setengah mengantuk. Dengan membawa dagangannya ia berjalan dengan santai. Sudah hampir sebulan ini ia bersekolah sambil jualan. Awalnya , ada beberapa pihak yang menolak seorang siswa untuk berjualan di kelas. Namun perlahan mereka mengerti, bahkan ada yang menjadi pelanggan tetap.
Hasilnya memang tidak banyak, tapi Damar senang melakukannya. Untuk hasil sebenarnya ia bagi dua dengan Fian, karena dia yang membuat semua dagangannya, Damar hanya menjualnya saja.
Terkadang, dia membuatnya dengan mata setengah mengantuk. Hal ini karena hampir setiap hari dia berjalan mencari pekerjaan di sana-sini. Hasilnya nihil, cuma dia tidak ingin pulang kampung. Karena hal itulah ia terus mencari pekerjaan sembari membuat dagangan.
Damar setelah sekitar sebulanan berada di kota yang sekarang, tidak berpikir untuk pulang. Hanya saja sekarang ia bisa lebih terbuka dengan teman-teman disekolah lamanya itu. Hanya saja untuk berkomunikasi dengan orangtuanya ia masih canggung. Kadang, ia ingin sekali menelpon atau menjawab telepon dari mereka. Cuma entah mengapa, ia selalu saja tidak bisa untuk melakukannya. Dia masih bingung bagaimana harus berkata setelah ia pergi dari rumah.
Ia sebenarnya penasaran dengan kelanjutan hubungan orangtuanya. Ia berharap apa yang ditinggalkannya bisa membuat mereka sadar dengan kesalahan yang diperbuat oleh mereka sendiri. Rasanya kangen sekali dengan mereka berdua, tapi untuk mengobrol saja rasanya masih agak gimana juga. Rasanya seperti aneh saja .
Setibanya di gerbang sekolah, bel masuk terdengar sangat keras sekali. Damar mempercepat langkah kakinya agar ia tidak terlambat masuk kelas. Hari ini guru yang masuk sangat tepat waktu. Terlambat sedikit saja, ia tak diperbolehkan masuk kelas sampai pelajaran berganti.
__ADS_1
Rasanya sangat menyebalkan sekali, tapi mau bagaimana lagi. Sudah menjadi resiko dapat guru yang seperti itu. Walaupun terlihat kejam, tapi ada pelajaran yang terselip di sana. Lagipula kalau masuk dunia kerja bakal lebih parah lagi . Ada yang cerita kalau dia pernah terlambat sedikit langsung potong gaji.
Untung saja, sampai sana gurunya langsung pulang. Ia segera menaruh tasnya dan kemudian dagangannya ia taruh laci untuk dijual nanti. Guru kemudian masuk , mereka langsung belajar seperti biasanya. Hari ini berjalan seperti hari yang sudah-sudah.
Usai pelajaran, saat bel istirahat telah berbunyi ia segera mengeluarkan dagangannya. Tak butuh waktu lama, dagangannya habis tanpa sisa tanpa perlu menawarkan lagi dagangannya. Semuanya berkomentar bahwa dagangannya itu enak, mereka juga dengan suka rela membelinya.
Ia juga dengan sukarela menjalani hari-hari sebagai seorang pedagang di sekolah. Ia tak ingin mengingat masa lalunya. Ia ingin hidup sebagai dirinya sendiri. Walaupun tak semudah dulu, selama halal ia akan menjalaninya. Walaupun uang dia dapat tidak seberapa, ia merasa bahagia karena ia telah berusaha.
Kisah mereka yang telah membesarkannya ia abadikan dalam sebuah cerita yang baru-baru ia selesaikan. Ia tuangkan segala rasa di sana. Harapan dan doanya , semuanya tertuang di sana. Suatu saat , saat tiba saatnya ia ingin berkumpul lagi sembari mengulang segala hal indah yang pernah dilalui dimasa lalu.
Walaupun ia tak tahu entah kapan, yang jelas hari itu akan tiba.
__ADS_1
(END)
Tunggu season duanya ya!!!!
Konsepnya bakal berbeda tentunya.
Konfliknya juga pasti beda!
Tapi masih segera..
Bye bye
__ADS_1
See You Next Time