Pada Malam Yang Berbadai

Pada Malam Yang Berbadai
06. Cerita Malam


__ADS_3

Setelah makan , Damar langsung pergi ke kamar. Ia sudah tak sabar ingin menulis . Walaupun ia punya firasat takkan berjalan lancar, tapi setidaknya ia sudah mantap. Sesampainya dikamar, ia langsung membaca buku yang tadi ia pinjam di perpustakaan .


Sebenarnya ia ingin membacanya dari tadi. Tapi karena sibuk dengan jam tambahan untuk olimpiade, ia tak bisa melakukannya. Baru sekarang inilah ia sempat.


Malam ini Ayahnya pulang setelah seminggu lebih tidak berada di rumah. Mungkin melepas rindu dengan ayahnya adalah hal yang lebih baik, tapi Damar enggan melakukannya. Dia terlanjur kecewa setelah dikirimi foto yang memperlihatkan ayahnya bermain dengan wanita lain.


Dia kangen saat-saat Ayahnya belum sibuk bekerja, atau mungkin lebih tepatnya sibuk berpacaran dengan orang orang lain. Disaat seperti itu, ayahnya selalu perhatian dengannya. Setiap hari dilewati dengan penuh kegembiraan.


Ibunya juga sejak sering berkumpul dengan teman-temanya jadi lupa diri. Jarang pulang, pakaiannya juga yang sekarang lebih terbuka. Ditambah lagi dia sekarang jadi cepat marah, padahal dulu sepertinya tidak pernah terlihat ia marah. Mungkin sekali dua kali, tapi itu termasuk wajar .


Daripada memikirkan hal itu, lebih baik ia fokus saja dengan yang ada didepannya itu. Halaman demi halaman ia buka , ia membacanya sangat serius. Saling seriusnya, suara hujan deras yang menghantam atap sampai tak terdengar olehnya.

__ADS_1


Setelah selesai membaca satu buku sampai habis, ia ingin mempraktekkannya. Diambilnya buku beserta pena dari tasnya. Ia rupanya sudah tak sabar.


Saat bersiap menulis, tiba-tiba saja tangannya tertahan. Ia bingung akan menulis apa di bukunya itu. Kali ini tidak ada minimal akan berapa lembar ia harus menulisnya, tapi ia masih bingung juga.


"Tulis aja yang kau mau. Jadi dirimu sendiri dan yang terpenting jangan lihat hasilnya dulu. Nikmati aja prosesnya, bagaimanapun ceritamu selagi kamu menikmatinya kamu akan merasakan kesenangan yang luar biasa ," kata-kata yang diucapkan Chandra saat akan pulang sekolah ini terngiang-ngiang di kepalanya.


"Yang paling penting dalam melakukan hobi adalah jadi diri sendiri. Kamu senang menjalaninya itu sudah lebih dari cukup," Chandra melanjutkan.


Pertama, cari tema yang bagus. Ia membaca buku itu lagi. Ia agak sedikit bingung, tapi akhirnya dipilih juga tema yang menurutnya agak mudah. Kemudian ia tentukan tokohnya, disitu tertulis menentukan tokoh dan penokohan itu sangat membantu dalam menulis cerita. Di bagian ini ia merasa agak kesulitan , karena belum terbayang dibenaknya akan membuat cerita seperti apa. Karena masih bingung, ia tidak menuliskannya.


Yang paling membuat bingung adalah membuat kalimat pembuka. Rasa bingung terus menghantuinya. Tapi pada akhirnya dia berhasil juga, walaupun tidak terlihat begitu menarik dimatanya.

__ADS_1


Disaat sedang berusaha membuat cerita, terdengar suara ketukan dari luar. Sebenarnya Ia malas membuka pintu kamarnya, tapi dibuka juga dengan terpaksa.


"Ada apa," saat pintu terbuka ia langsung bertanya seperti itu.


"Pergi yuk. Udah lama enggak ketemu jadi pingin ngabisin waktu sama kamu," orang yang ditanya menjawab. Ternyata dia ayahnya Damar.


"Malam ini Damar enggak bisa. Soalnya dah capek banget, banyak kegiatan disekolah."


"Ya udah kalau begitu," ayahnya segera pergi meninggalkannya.


Aneh, sedang hujan malah mengajak pergi. Sebenarnya bisa sih pergi dengan mobil, tapi rasanya kurang seru. Walaupun kesempatan untuk berdua sekarang ini langka. Tapi Damar sedang enggan. Lagipula melihat ayahnya ia selalu teringat akan foto itu. Entah sampai kapan rasa itu bertahan. Entah bagaimana yang akan terjadi kedepannya, yang jelas ia harus mempersiapkan diri dengan berbagai kemungkinan buruk yang akan terjadi dimasa depan.

__ADS_1


__ADS_2