
Damar menutup matanya yang lelah. Perlahan ia masuk ke alam mimpi yang begitu indah. Malam itu, bulan terlihat menggantung diantara bintang yang gemerlapan. Entah mengapa didalam mimpi tak ada ketakutan juga rasa sepi yang selalu menerornya.
Andai saja bisa terus berada didalam mimpi pasti rasanya sangat menyenangkan. Tanpa perlu bersusah payah ia bisa mendapatkan apapun yang dia mau. Tapi sayangnya kenyataan harus bisa diterima baik itu menyenangkan atau tidak.
Besok, akhirnya hari yang ditunggu telah tiba. Setiap kali ingin menyerah, ia merasa tidak akan mampu menghadapi olimpiade yang begitu dinantikannya. Ia selalu berpikir untuk tidak mendapatkan posisi nomor satu yang nyatanya dalam hati sangat ingin dicapainya.
Ia lega bisa berbicara dengan Ayahnya mengenai hal ini walaupun kepada ibunya tidak sempat ia katakan. Bukan karena tidak mau, tapi entah mengapa rasanya canggung saja. Walaupun sudah terbiasa melihat wajahnya namun sejak melihat ibunya jalan dengan lelaki lain rasanya ada sesuatu yang tidak ingin dipercayainya.
__ADS_1
Sedangkan kepada ayahnya sebenarnya ia juga enggan awalnya, namun karena masih kurang bukti ia berusaha dengan keras untuk melepaskan rasa canggung yang yang menjadi benteng antara mereka berdua. Ia bahkan sampai berkeringat dingin saat memencet nomor teleponnya.
Damar bangun kemudian langsung sholat subuh. Hari ini rasanya cerah sekali, ia harap hari ini hatinya bisa secerah matahari yang mulai jarang nampak efek musim hujan yang datang. Selama bisa melihat matahari Damar bersyukur kepada Tuhan yang telah menciptakannya.
Ia belajar dulu sebentar sebelum berangkat. Hari ini Damar rencananya bakal pergi bersama guru yang biasanya memberi pelajaran tambahan kepadanya ketempat dimana olimpiade dilaksanakan. Mereka berangkat dari sekolahnya menggunakan mobil. Kebetulan mobil yang dipakai adalah kepala sekolahnya, jadilah mereka berangkat bertiga .
Sepanjang jalan terlihat tangannya mengeluarkan keringat dingin, Damar tidak tahu kenapa. Cuma setiap kali merasa deg-degan pasti bakal seperti itu. Gurunya yang mengetahuinya memberikan wejangan yang rasanya tidak habis-habis sepanjang perjalanan. Damar selama diperjalanan hanya mendengar omongan gurunya sepanjang jalan Anyer sampai Panarukan yang memang membentang dari ujung ke ujung pulau Jawa.
__ADS_1
Guru yang sebelumnya pindah ke kota yang jauh, Damar juga tidak terlalu mengetahuinya. Ia hanya pernah mendapat cerita beberapa kakak kelas mengenai guru sebelumnya. Ia sendiri belum pernah bertemu dengannya, tapi itu bukan masalah yang besar selama ada penggantinya.
"Sudah siap kan?" saat turun dari mobil Damar ditanya oleh gurunya.
"Siap, tapi apapun hasilnya mungkin cuma segitu rezekinya,"Damar menjawab sambil minta agar dimaklumi jika nanti hasilnya tidak sesuai harapan gurunya yang sepertinya sangat tinggi.
"Santai saja, mau apapun hasilnya yang penting usaha dulu. Masalah dapet berapa itu urusan belakangan. Mungkin lain kali ada kesempatan," sebenarnya ia berekspektasi tinggi kepada muridnya itu tapi ia tidak ingin menunjukkannya. Ia takut ekspektasinya malah menghancurkan mentalnya yang berakibat pada otaknya yang tidak bisa bekerja dengan maksimal.
__ADS_1
"Nanti sebelum memulai berdoa dulu ya biar bisa lebih fokus," lanjut gurunya.
"Kalau itu sih pasti," sambil tersenyum Damar menjawab.