
Damar terdiam di kamarnya. Hujan terdengar masih sangat deras diluar. Sambil memandang foto ibunya yang bersama orang lain itu rasanya entah mengapa terasa sakit. Walaupun dia pernah melihatnya secara langsung juga.
Sepertinya tak ada yang bisa dilakukannya selain menghadapi kenyataan buruk. Nampaknya memang tinggal menunggu waktu saja untuknya harus memilih harus ikut dengan siapa. Sebuah hal yang cukup sulit baginya. Tapi jika itu terjadi, ia merasa lebih memilih untuk tinggal sendirian saja.
Sebenarnya beberapa hari ini ia sudah berpikiran untuk kabur dari rumah yang penuh kenangan ini. Mengubah penampilannya secara drastis dan hidup jauh dari mereka. Dipikir sepertinya asyik juga bisa begitu. Lagipula mau kabur atau menetap rasanya tidak jauh beda.
Dia mendapatkan foto ibunya bersama dengan seorang pria itu dia mengambilnya diam-diam kemarin. Saat itu ia sedang bermain claw crane sendirian di sebuah pusat perbelanjaan. Siapa sangka keisengan itu membuatnya bertemu kembali dengan ibunya yang sedang bermesraan dengan pria yang waktu itu bersamanya. Kali ini nampaknya ia masih belum sadar juga kalau Damar sudah melihatnya.
__ADS_1
Hari-hari setelah olimpiade berlangsung rasanya hari semakin sepi saja. Tak ada yang dipikirkan dengan amat sangat lagi, tak ada pelajaran tambahan lagi. Yang tersisa hanya rasa sepi yang sudah untuk dibunuh.
Orangtuanya masih sama saja, sepertinya respon mereka hanya formalitas belaka. Kenapa semua harus begini? Damar berpikir sambil berusaha untuk tidur. Tapi rasanya tetap susah sekali .
Akhir-akhir ini ia berpikir mengenai sesuatu yang jauh. Melihat orangtuanya bersikap acuh tak acuh seperti itu rasanya mereka itu bukan keluarga lagi bagi Damar. Soalnya tak ada lagi kehangatan, komunikasi juga jarang sekali, apa orangtuanya juga merasakannya ya?
"Ma, aku kangen waktu itu. Kenapa sekarang semuanya jadi begini? Aku kesepian. Apa aku ini sebenarnya anak yang tidak pernah engkau lahir kan?" sekali lagi didalam hati ia berkata.
__ADS_1
"Apa yang harus ku lakukan agar kalian bisa seperti dahulu lagi? Apa aku harus menghilang agar kalian sadar bahwa aku ada disini?" terasa sangat pilu dia berkata di dalam hati .
Dia kemudian mengambil sebuah ikat pinggang yang biasa ia gunakan. Dia sebenarnya tidak tahu mengapa, hanya spontan saja dia melakukannya. Sambil memegang ikat pinggangnya, ia pikir ini sudah waktunya untuk mengakhiri hidup yang tak diinginkan oleh siapapun.
Rasanya hidup dengan rasa sepi itu tidak enak. Sepertinya tidak bisa bernafas lagi adalah pilihan yang tepat, tapi ia jadi ngeri sendiri jika harus bunuh diri. Ia tak ingin semua ibadahnya menjadi sia-sia saja . Tapi ia bingung harus bagaimana.
Dia akhirnya tidak jadi menggunakan ikat pinggangnya itu untuk mengakhiri hidupnya. Bagaimanapun juga itu cara yang salah. Jika ia terus melakukannya, ia akan tersiksa untuk selamanya. Ia tak ingin begitu, cukup di dunia ini ia menderita kesepian.
__ADS_1
Malam berlaku cukup panjang. Damar tidak bisa memejamkan mata malam itu. Pikirannya yang terus menerus menyiksa telah berlaku demikian. Damar tak bisa tidur hingga masuk fajar ia terus begitu. Saat matahari malu-malu menampakkan dirinya dirinya merasa sangat mengantuk tapi ia paksakan untuk tidak tidur. Hari ini pengumuman hasil olimpiade telah muncul, Damar ingin tahu hasilnya. Oleh karena itu ya tetap memaksa untuk berangkat walaupun ia berangkat sambil menguap.