Pada Malam Yang Berbadai

Pada Malam Yang Berbadai
27. Malam Yang Tenang


__ADS_3

Damar mulai menulis, sedikit demi sedikit kata yang ada di otaknya segera ia susun dalam rangkaian kalimat yang terlihat sudah mulai bagus. Sebenarnya masih belum puas dengan hasil tulisannya itu, rasanya masih banyak hal-hal yang harus diperbaiki.


Setelah menulis agak lama, matanya terasa agak pusing . Ia bingung dengan kelanjutan kisah yang ia buat itu. Karena ia masih berfokus pada cerpen ia tak terlalu pusing juga, hanya saja baginya itu masih terlalu pendek. Ditambah juga ia belum mendapatkan akhir yang menurutnya tepat.


Nama dan kejadiannya ia samarkan dari cerita yang sebenarnya. Ia juga menambah beberapa tokoh baru yang menurutnya bakal menarik untuk ceritanya. Ada beberapa bagian yang benar-benar ia karang sendiri.

__ADS_1


Setelah sekitar satu jam ia akhirnya benar-benar menyudahi tulisannya itu. Ia menuliskan akhir yang bahagia pada kisah itu. Orang yang dirawat oleh tokoh dalam ceritanya sembuh total dan kemudian tokoh utamanya mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan kemudian ia berkenalan dengan seorang wanita.


Kalau diperhatikan lagi sebenarnya masih banyak hal yang menarik yang bisa dikupas lebih lanjut lagi, tapi Damar merasa enggan untuk melakukannya. Ia masih belum ingin membuat cerita yang panjang. Menurutnya lebih enak membuat cerita yang pendek saja, mungkin karena tekanannya juga tidak tinggi . Tidak seperti Novel yang punya tekanan tinggi, otak rasanya seperti terkuras habis. Kalau berhenti menulis sehari dua hari bakal berakibat pada cerita yang tak kunjung selesai. Biasanya kalau ditinggal sekali langsung terlupakan oleh cerita lain yang lebih menarik untuk dibuat daripada melanjutkan yang sudah ada.


Dari yang pernah ia baca begitu, tapi memang sih dilihat-lihat menulis novel itu sangat berat. Apalagi seorang pemula yang baru belajar merangkai kata-kata. Melihatnya saja rasanya sudah ngeri. Tapi bukan berarti dia tidak ingin membuatnya dimasa yang akan datang.

__ADS_1


Ayahnya tadi diam saja saat berada dimeja makan, hanya saja tadi ia melihat ayahnya seperti ingin berbicara kepadanya. Tapi mungkin dia tak berani karena yang hendak ia tanyakan pasti mengenai dirinya yang berkunjung ke rumah selingkuhannya itu. Itu mungkin, tapi tidak menutup kemungkinan kalau memang itu yang mau dibahasnya.


Kalau misalnya tentang itu sebenarnya Damar sudah siap. Ia tahu, dirinya memang lancang tapi itu semua dilakukan demi dirinya juga. Siapa tahu kan setelah itu semuanya bisa kembali normal. Ia rindu dengan ayah yang selalu membuatnya bangga.


Kalau misalnya nanti dia melakukan sesuatu yang diluar ekspektasi Damar juga siap. Mau dibunuh juga dirinya sudah pasrah. Kalau dengan dia mati keluarganya bisa balik lagi seperti dulu ia pasrah.

__ADS_1


Setelah selesai menulis, ia segera mengetiknya bersama dengan cerita-ceritanya yang lain. Ia melakukannya sekalian menyunting kata-kata yang ada di sana. Setiap kali ia melakukannya, ada banyak kata yang ditambah dan dikurangi. Selain kata-katanya, tanda baca yang ada di sana pun bisa di otak-atik semaunya.


Kalau diperhatikan sebenarnya lebih enak langsung menulis dengan cara diketik daripada tulis manual. Tapi menurutnya, menulis menggunakan tangan itu lebih baik. Selain ada sensasinya, tangan juga menjadi terbiasa untuk menulis. Hal itu sekalian melatih tangan agar tidak pegal saat sedang menulis pelajaran yang banyaknya tidak karuan.


__ADS_2