
Akhirnya selesai juga sholat Jum'at, Damar segera pulang dengan santainya. Ia sebenarnya tadi waktu di teras melihat ada orang kebingungan mencari sandalnya, tapi karena sedang malas membantunya Damar langsung ngacir saja. Ia sebenarnya agak kepikiran juga, tapi ya mungkin sudah ketemu sandalnya. Entah mengapa, kadang ia melihat ada orang yang kehilangan sandalnya saat di tinggal sholat. Tapi yang terpenting itu tidak pernah terjadi padanya sekali saja, lagipula ia tidak ingin mengalaminya.
Sebenarnya kadang kasihan juga dengan orang yang kehilangan sandal. Pernah ia coba bantu sekali dua kali kalau hatinya sedang tergerak. Tapi ya sekarang ia sedang malas. Kepalanya terasa berat, beruntung ia tadi tidak ketiduran saat khutbah Jum'at berlangsung. Ia membayangkan andai hal itu terjadi, betapa malunya dia.
Saat perjalanan pulang ke rumah, Damar mengingat sepotong mimpi yang baru ia alami tadi. Rasanya menyenangkan juga hal itu terus terjadi. Kapan ya hal itu akan terjadi lagi? Damar sudah pesimis walaupun ada sedikit di hatinya yang menginginkan hal itu. Sudah lama rasanya tak ada kehangatan keluarga. Kadang iri dengan orang lain, tapi ya nasibnya sudah begini.
__ADS_1
Kalau misalnya menulis tentang kisah hidup apa enggak masalah ya kalau ada beberapa bagian yang diubah jadi lebih baik? Misalnya dia merubah sifatnya sendiri gitu, namanya juga tulisan mungkin boleh ya tidak sesuai dengan kenyataannya. Setelah selesai habis itu di cetak ke penerbit di tulis di bagian sampul "Berdasarkan kisah nyata" sepertinya bakal laris manis. Damar pernah melihat buku yang ada tulisannya begitu banyak di cari orang soalnya .
***
"Maaf, bapak enggak bisa ngasih pelajaran tambahan. Kamu belajar sendiri dulu ya. Mendadak bapak ada urusan yang enggak bisa ditinggal," Saat Damar sudah bersiap dengan tasnya, ia mendapat kabar begitu. Sebenarnya ia tidak terlalu sedih, tapi entah kenapa rasanya ingin sekali. Lagian di rumah tidak ada yang bisa dilakukannya.
__ADS_1
Lagipula cuaca yang berawan nampaknya cocok sekali, walaupun kulitnya tidak putih setidaknya ia tak perlu takut kusam terkena sinar matahari. Dalam hati ia berdoa semoga tidak hujan saat ia sedang dalam perjalanan.
Ia mulai menaiki motornya dan mulai pergi dengan santai. Tujuannya kali tidak ada sebenarnya, tapi tanpa ragu ia terus mengendarai kendaraannya di tengah angin yang berhembus lumayan kencang. Rasanya nikmat sekali ternyata, menyesal ia tidak melakukan sejak kemarin.
Saat berada di jalan, ia memikirkan tentang olimpiade yang akan berlangsung dalam waktu dekat. Ia tahu, tapi semangatnya untuk belajar naik turun. Kali ini ia sangat pesimis untuk menang, tapi ia tidak ingin mundur lagi, setidaknya inilah sebuah kebanggaan yang membuatnya terus bernafas hingga kini.
__ADS_1
Sebuah keisengan yang jadi semangat hidup itu nampaknya tidak buruk, begitu yang Damar pikirkan . Lagipula dengan itu ia bisa bisa sedikit melupakan masalahnya. Menang atau tidaknya besok ia tetap akan berusaha sebisa mungkin.
Perlahan, gerimis turun dengan sangat lembutnya. Ia turun sambil memeluk punggung yang kesepian. Awan terlihat sangat gelap, daripada kehujanan Damar akhirnya memutuskan untuk pulang. Sebenarnya ingin sekali ia berkendara sambil merasakan pelukan air yang sangat deras dari langit, tapi ia sadar dirinya biasanya terkena pilek saat mendapat guyuran air dari langit itu.