Pada Malam Yang Berbadai

Pada Malam Yang Berbadai
35. Kata-kata Perpisahan


__ADS_3

"Kamu kemana saja? Kok tadi di sekolah enggak ada?" Danil yang nampaknya baru pulang sekolah itu menelpon Damar. Ia nampaknya khawatir dengan Damar yang tidak masuk sekolah. Takut terjadi sesuatu yang buruk.


"Aku disini. Tapi nampaknya aku enggak bakal masuk sekolah lagi deh. Aku sudah membuat keputusan untuk pergi dan memulai hidup baru. Maaf, aku tidak mengatakan hal ini sebelumnya kepadamu. Aku sebenarnya ingin ngomong soal ini. Tapi aku benar-benar enggak bisa. Setiap kali aku ingin, entah kenapa keberanian ku hilang."


"Ada masalah apa denganmu sehingga kau memilih untuk pergi? Apa tidak ada solusi lain selain pergi?" Danil memprotes tindakannya Damar. Ia merasa hal itu sebenarnya tidak harus dilakukan olehnya.


"Mungkin ada cara lain. Tapi menurutku ini yang terbaik. Sebenarnya memang ada sedikit masalah, tapi sekarang udah baik-baik saja ."


"Terus gimana sama sekolahmu?"


"Aku udah ngurus surat pindah. Aku akan bersekolah di tempat yang baru nanti."


"Aku boleh ngomong enggak? Tapi ini tentang dirimu."

__ADS_1


"Boleh."


"Tau enggak, kamu itu egois. Setidaknya sebelum pergi bilang dulu masa enggak bisa? Kita teman kan?"


"Aku benar-benar enggak bisa ngomong waktu itu. Aku akui kalau aku egois, tapi aku sudah memikirkan baik-baik soal ini."


"Tapi tetep aja, yang kamu lakuin itu jahat ."


"Iya deh iya. Oh ya, waktu terakhir aku ngobrol sama Ihsan dia bilang mau nikah. Kau dikabarin enggak sama dia?" Damar berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Ya udah kalau mau pergi. Mau ngomong apapun juga bakal percuma. Semoga ditempat yang baru bisa dapat apa yang kamu mau di sana," lanjutnya lagi. Suaranya kali ini terdengar lebih pelan.


Telpon dimatikan. Damar tak bisa berbuat apa-apa. Lagipula yang dibilang oleh Danil benar. Ia jadi mempertanyakan tujuannya pergi ketempat yang asing baginya. Entah mengapa rasanya ingin kembali lagi kerumah dimana dia dibesarkan saja. Kenapa ya , setelah mempunyai keyakinan yang tetap saja setelahnya ada hal-hal yang ingin diulang kembali.

__ADS_1


"Temanmu ya?" tanya Fian.


"Iya."


"Tadi aku sempat mendengar pembicaraan kalian. Nampaknya kau waktu pergi enggak ada bilang ya sana mereka? Sebenarnya aku juga sih. Aku takut kalau ketemu sama mereka aku enggak bakal sanggup untuk pergi. Pertemanan itu bagaimana ya? Terkadang merepotkan, tapi tanpa itu semuanya rasanya terasa hambar."


"Iya sih. Makanya aku enggak mau bilang. Tapi entah mengapa sekarang aku mendadak ingin pulang ya?"


"Wajar itu sih. Cuma sekarang rasanya terlambat untuk pulang. Kereta sudah jauh meninggalkan kota tempat kamu dibesarkan."


Damar tak tahu harus bagaimana. Dilihatnya pemandangan dari dalam. Yang ada dipikirannya muncul banyak pertanyaan seperti kira-kira sampai kapan ya bisa bertahan? Kenapa ya walaupun sudah berpikir sangat matang tetap saja ada sesuatu yang mengganjal di dalam hati?


Satu hal yang sangat membebani pikirannya, kira-kira bagaimana ya kondisi rumah setelah ia tinggalkan? Apa mereka berdua bakal bercerai nantinya? Atau hubungan mereka bakal membaik?

__ADS_1


Rasanya ingin sekali menghubungi mereka. Cuma ia menahannya, entah sampai kapan. Apapun yang terjadi pada mereka Damar akan selalu berdoa untuk kebahagiaan mereka. Biar bagaimanapun juga, walaupun bukan orang tua kandungnya tetap saja tidak mengubah kenyataan kalau merekalah yang membuat Damar bisa hidup sampai sekarang.


__ADS_2