
Mira akhirnya setuju untuk ikut ke pasar malam, tidak lupa mira juga mengajak Nara karena setiap libur Nara hanya diam dikamar.
"Mira, janji itu adalah hutang dan hutang wajib di bayar, makanya sebelum buat keputusan harus dipikirkan dulu, bisa kamu tepati atau tidak, paham mira? kata ustadz Zakir.
"Iya ustadz, memangnya... apa boleh izin keluar sampai malam baru pulang? tanya Mira.
"Memangnya kalian mau kemana? sampai harus pulang malam? kata ustadz Zakir.
"Melihat pasar malam di desa sebelah ustadz!" Jawab mira.
"Oh gitu, boleh sih tapi harus ada ustadz atau ustadzah yang ikut sebab untuk menjaga keamanan kalian juga menjauhkan dari fitnah!" kata ustadz Zakir.
"Hmm... Kalo gitu ustadz aja yang ikut, maunya ustadz? kata Rafi.
"Hmm... Baiklah, sekalian cari suasana baru!" kata ustadz Zakir.
Akhirnya mereka pergi ke desa sebelah menggunakan mobil ustadz Zakir, Mira berada di sebelah ustadz Zakir kemudian Nara dan ke 4 adiknya di bangku belakang. Di jalan Rabil bertanya kepada mira tentang surat yang diberikan oleh bunda, karena mira lelah mendengar rengekan adiknya makanya mira langsung memberikan surat itu pada ke 4 adiknya.
"Mbak, lihat surat yang diberikan bunda dong?" kata Rabil dengan manja.
"Gak boleh, kamu masih kecil!" Jawab mira.
"Ihh mbak ini, mau sebesar apa lagi Rabil mbak? kata Rabil merengek.
"Ya Allah, iya iya nih...(memberikan surat) udah jangan merengek lagi, pusing kepala mbak, katanya anak laki-laki tapi masih merengek kayak bayi perempuan aja? Jawab mira dengan kesal.
"Kami cuma merengek sama mbak aja kok!" kata Nabil dengan muka manja.
Rabil melihat Nara tersenyum karena mendengar ke 4 adiknya sedang mengoda mira, seketika muka Rabil memerah melihat senyum Nara yang sangat imut, walaupun Nara tidak bisa melihat tapi dia tetap cantik dan imut.
"Kak ternyata ke 4 adik kakak sangat unik ya?" kata Nara dengan tersenyum.
"Eh bocah, kamu kira kita ini barang antik unik-unik!" Jawab Nabil dengan ketus.
"Ma-mas, jangan ngomong gitu?" kata Rafa dengan gugup melihat mira.
"Memang kenapa, hah?" jawab Nabil dengan lantang.
"Karena sekarang Nara adik mbak, Nabil!" Jawab Mira dengan tegas dan melirik tajam ke Nabil.
__ADS_1
"A-apa m-mbak? A-adik? Apa 4 adik dan semua anak gangster kurang untuk jadi adik mbak?" kata Nabil dengan terkejut.
Mobil tiba-tiba ngerem karena mendengar kata gengster.
("Ciiirrrtttttt") suara ban mobil yang ngerem.
"Adduuhhh kepalakuuuu... ustadz... dosa kami masih banyak, kami belum mau cepat-cepat di panggil malaikat, ustadz!" kata Rabil dengan memegang kepala yang terbentur kursi penumpang.
"Ge-gengster mi-mira?" kata ustadz Zakir terkejut dan menatap mira.
"Eh, maksudnya gini ustadz, jangan salah paham dulu ya? Aduh.. gimana nih jelasinnya?" kata mira yang kebingungan.
"U-udah nanti aja ya kamu jelasin, kalau udah sampai sana, ya?"kata ustadz Zakir.
Ketika di mobil, mira duduk di depan sebelah dengan ustadz, saat mira sedang berbicara tentang gangster membuat ustadz Zakir terkejut, walaupun ustadz Zakir kaget tapi dia tetap tenang seperti tidak mendengar apapun.
Saat ke 4 adiknya membaca surat bunda, mereka sangat terkejut karena isi surat itu memberitahukan tentang kehamilan bunda dan membuat ustadz Zakir mengerem tiba-tiba.
"Mbaakkk... Haamilll....!" kata ke 4 adiknya teriak dan terkejut.
"Astaghfirullahalazimmmm... (ngerem) ha-hamil (terkejut melihat mira) ?!" kata ustadz Zakir dengan terkejut.
"Ma-maaf mbak kami terkejut, maaf ya mbak?" kata Nabil dengan takut.
"Mbak.. mbak... Ustadz kaget tuh mbak?" kata Rafa dengan melirik ustadz Zakir.
"Eh... u-ustadz maaf ya?" kata mira karena malu.
"I-iya gpp kok, lanjutin aja!" ("ya Allah, kenapa dari tadi aku jantungan aja mendengar mereka berbicara, ya Allah kuatkan iman dan mental hambamu ini" batinnya) kata ustadz Zakir.
Banyak pertanyaan yang ada dipikiran ustadz Zakir karena masalah kehamilan tadi, tapi sampai di pasar malam karena masih penasaran ustadz Zakir bertanya kepada mira tentang gangster dan kehamilan itu .
Ustadz Zakir sedikit takut bertanya karena takut mira dan ke 4 adiknya tersinggung, maka dia hanya diam melihat mereka bermain tapi saat ke 4 adiknya bermain bersama Nara dan mira sedang sendiri, ustadz Zakir langsung bertanya dengan gugup dan penasaran.
"Kak... Nara mau naik komidi putar dong, boleh ya?" kata Nara meminta dengan imut.
"Boleh dong! memangnya Nara gak takut jatuh?" Jawab Mira sedikit khawatir.
"Eh bocah, udah besar gak malu naik komidi putar?" kata Nabil dengan judes.
__ADS_1
"Nara gak pernah naik komidi putar sejak kecil kak nabil, kata bunda orang buta gak boleh naik itu, nanti nyusahin orang lain tapi gpp kok kalo gk boleh Nara dengar suaranya saja udah seneng kok!" kata Nara dengan senyum terpaksa dan wajah sedih.
Rabil terkejut mendengar Nara berkata seperti itu, Mira kesal dengan Ucapan Nabil dan menjewer adiknya karena gak sopan dengan Nara. Rabil mengikat tangan Nara dengan gelang tali pengamanan agar Nara tidak hilang.
"Ya Allah, kamu ini ya... dari tadi mulut gak bisa di rem!" (menjewer telinga Nabil)kata mira dengan kesal.
"A-ampun mbak, sa-sakit mbak(dijewer mira) jawab Nabil.
Rabil membeli gelang tali pengamanan yang barunya dan di pakaikan ke Nara, Nara terkejut dengan tingkah laku rabil yang perhatian dan lembut terhadapnya.
"Nara, Angkat tangan kananmu sebentar?" kata Rabil.
"Eh mau ngapain kak?" Jawab Nara yang bingung.
"Cerewet?! angkat aja tangannya?" kata Rabil yang judes.
"I-iya kak (mengangkat tangan ke depan rabil) Jawab Nara yang gugup.
Rabil dengan lembut memakaikan gelang tali pengamanan itu ke Nara, Mira heran melihat kelakuan Rabil yang biasanya sangat dingin terhadap orang lain selain keluarganya tapi sangat lembut dan perhatian ke Nara bahkan Ustadz Zakir terkejut melihat kelakuan Rabil dan bertanya kepada Rabil.
"Rabil, naranya kok diikat kayak gitu?" kata ustadz Zakir yang bingung.
"Biar gak hilang ustadz, nanti susah nyariknya!" Jawab Rab dengan wajah datar.
"Sini tongkatnya! (mengambil tongkat Nara) kata rabil.
"Kalo tongkatnya kak Rabil ambil, terus Nara jalannya gimana?" jawab Nara.
"Kak Rabil yang akan jadi mata dan tongkat Nara untuk malam ini, oke? let's go!" kata Rabil dengan santai.
"Eh... kak pelan-pelan jalannya( tangannya ketarik) jawab Nara.
Mira heran melihat tingkat laku adik ke 2nya itu, baru kali ini dia melihat sisi dewasa Rabil. Dia merasa Rabil ingin melindungi Nara, bukan karena dia buta tapi karena dia sayang. Senyuman terukir di wajah mira dan terlihat oleh ustadz Zakir.
-
-
bersambung...
__ADS_1