Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Mami menyesal


__ADS_3

Saat duduk dengan Beny  ia banyak bercanda  padaku.


“Selamat datang kembali Jonathan yang dulu, temanku yang aku rindukan, aku berharap kamu tidak berulah lagi” ucap Beny menatapku.


“Ah, Berlebihan,” kataku kesal.


Beny tertawa lepas melihat tampang ku yang  malas.


Segala urusan dari bank akhirnya cepat selesai, pelayanan VIP milik Beny mempermudah semuanya, tidak sia-sia punya teman seorang polisi.


“Sekarang apa?” Beny menatapku setelah keluar dari bank.


“Mungkin yang lainnya kami bisa atasi bro, kamu pulang saja, maaf ni gangguin waktu liburnya,” ucapku .


“Yakin?”


“Iya aku ama Lina saja urus yang lain.”


“Ok siap, kebetulan hari ini aku juga janji ama anak, temenin main bola,”ucap Beny.


Beny pulang, aku dan pengacara Lina yang menemaniku hari ini, aku berniat kalau aku sudah sembuh total dan bisa menyelamatkan Perusahaan Papi, aku ingin wanita bertampang tegas ini jadi pengacaraku, tidak perlu menggunakan body guard jika sudah bersamanya, pembawaannya tegas dan pintar, ia sering di juluki butet galak, gadis Batak yang tegas.


“Kita kemana lagi Pak?” Tanya Lina menatapku.


“Kita pakai mobilmu saja iya Lin?”


“Iya, tidak apa-apa pak, mari.”


Lina membukakan pintu mobil berwarna merah, aku duduk di depan ia yang memegang kemudinya.


“Kita ke rumah sakit saja mengurus tagihan rumah sakit Mami, biar bisa mendapat perawatan selanjutnya Lin.”


“Baik pak.”


Biaya rumah sakit Mami sudah dibayarkan dan sudah bisa meneruskan perawatannya lagi, kini rumah kami yang sempat dijual Papi aku ingin tebus kembali.


Lina membawaku ke rumah kami yang dulu, untungnya sih orangnya yang menempati mau tugas keluar Negeri, jadi ia setuju menjual rumah itu kembali pada kami, walau ia meminta bayaran lebih karena ada beberapa bagian dalam rumah itu yang ia renovasi dan menghabiskan dana sendiri, jadi, karena itu ia meminta harga lebih tinggi pada Lina.


“Bagaimana Pak, sepertinya orang ini ingin mengambil keuntungan banyak,” kata Lina terlihat kesal.


“Gini saja Lin, kasih harga kita yang terakhir dan kita pergi, dari harga itu saja dia sudah untung banyak, lagian mereka  mau keluar Negeri, kan?”


“Iya pak.”


“Kita pergi saja aku yakin sehari dua dia akan menelepon mu nanti.”


“Baik pak.” Lina juga setuju.

__ADS_1


Meminta Lina untuk berhenti di salah satu Cafe di pinggir jalan, untuk menghilangkan lelah, berputar –putar satu harian membuatku lelah juga.


Untungnya aku sudah meminta orang mengembalikan mobil kak Eva ke rumah, kalau tidak , tidak akan bisa duduk tenang pasti di telepon dan diteror dengan dua alasan mobil dan masalah minum obat.


Jadi hari ini sedikit tenang walau papi masih meneleponku setiap satu jam.


Baru duduk pesan minum dengan Lina.


Driii …!


Ponsel Lina berdering, tiba-tiba ia menatapku aku pikir kak Eva yang menelepon.


“Rumah yang tadi pak,” ucap Lina, mengangkat ponselnya menempelkan di kuping.


Benar dugaan ku, semua manusia itu semua bakat bisnis, selagi masih bisa mengambil untung kenapa tidak.


“Baik pak, saya tanya bapaknya lagi, tadi karena bapak menolak, kita sempat melihat-lihat rumah yang lain,” kata Lina mulai membuat skenario.


“Kenapa?” Aku menatap Lina.


“Biarkan saja pak, orang yang terlalu maruk perlu juga di beri pelajaran,” kata Lina.


Ia menelepon orang menempati rumah itu lagi


“Baik pak, tadi saya dan Pak Jonathan sudah melihat rumah yang bagus dan harga yang bagus, kalau bapak mau dari harga pertama dikurangin lagi 10%”


Saat bernegosiasi tarik maju mundur, saat kita mau jalan lagi, lelaki menelepon lagi, ia setuju di kurangin dari harga ia beli dari Papi karena ia mau pergi keluar Negeri.


“Kamu hebat Lin,” aku memuji LIna.


“Biarkan saja pak, tadi songong bangat sok-sok tidak mau, dia hanya ingin keutungan besar, sekarang dia yang rugi biaya renovasi dia yang tanggung semuanya,” ujarnya lagi.


“Baiklah persenan nya buat kamu saja Lin, itu kamu yang pintar.”


“Benar pak! Makasih pak,” wajah wanita boru Batak ini bersemangat.


Urusan rumah kami akhirnya selesai ,aku menyuruh Lina mengurus semua sampai selesai, aku ingin membuat kejutan untuk keluargaku.


Mobilku juga sudah datang, dan Motorku yang aku titipkan di kantor Polisi dua tahun silam Lina mengurusnya, mobil Papi yang sempat aku gadaikan sama temanku, akhirnya aku tebus kembali.


Walau belum semuanya kembali dan banyak tidak bisa seperti dulu lagi, tapi aku berusaha memperbaiki kesalahan yang sempat aku lakukan, Aku tidak memberikan kejutan saat ini nanti saja.


Sudah mampir malam, aku tiba di rumah, setelah mengurus semuanya, rumah kami yang dulu akhirnya kembali lagi, setelah sempat di jual Papi untuk pengobatan Mami dan aku, Mobilku yang sempat hilang, motor, mobil papi juga sudah kembali.


Kini tinggal membawa keluargaku kembali kembali ke rumah lama kami, sayang saja kalau rumah itu di jual, itu hasil keras kedua orang tuaku, banyak kenangan masa kecil yang tak terlupakan di sana, Maka itu tidak rela rasanya kalau sampai di jual.


Baru juga sampai di depan pintu tapi suara kepanikan terdengar dari dalam rumah.

__ADS_1


Apa yang terjadi?


Bergegas masuk, suara kepanikan itu datang dari kamar Mami, saat dilihat tiba-tiba kondisi Mami drop, tubuh mengalami kejang-kejang dan bibirnya miring dan mulai tidak bisa bicara.


“Pi bawa ke dokter,” ujar ku panik.


“Iya Tan kita bawa ke rumah sakit mana?”


“Ke rumah sakit biasa Pi,” kataku dengan sigap menggendong tubuh Mami ke mobil kakak Eva.


Papi masuk dan kak Eva yang menyetir dan Arnita dan anaknya yang tinggal menjaga rumah.


“Tan, Mami minta maaf iya,” kata Mami dengan suara tidak jelas, seperti orang kumur-kumur, bibir miring sebelah tangannya mulai gemetaran


"Jangan Tuhan, jangan hukum lagi Mamiku’ bisikku dalam hati, melihat wajah yang tiba-tiba tidak berdaya dan terlihat tua, membuat hatiku sangat sakit.


“Iya, iya Mi, aku sayang Mami,” merangkul tangannya.


“Netta, aku minta maaf,” katanya masih dengan suara yang tidak begitu jelas tapi aku bisa mengerti.


“iya Mi jangan khawatir” Kataku mencoba menenangkan Mami.


Akhirnya kami tiba di rumah sakit dan Mami mendapat penanganan, aku bernapas lega, aku sempat berpikir kalau Mami tidak sempat mendapat penangan, tetapi Tuhan masih memberinya kesempatan untuk hidup, Mami akhirnya meminta maaf pada Netta.


‘Aku berharap kamu si sini Ta … Mami meminta maaf padamu , Mami menyesali perbuatannya, aku merindukanmu’ ucapku dalam hati, saat duduk di ruang tunggu, melihat para dokter dengan jubah itu, membuatku sangat merindukan istriku, aku tidak sabar melihatnya memakai jubah dokternya.


Bersambung ….


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH


Terimakasih untuk tips ya


Baca juga  karyaku yang lain


-Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (on going)


Bintang kecil untuk Faila (tamat)

__ADS_1


__ADS_2