
Boru ni napogos.(Dari keluarga miskin)
Salut dengan Edo, ia berani melanggar aturan konyol yang berlaku di keluarga kami, yang selalu menuntun anak-anaknya yang menikah dengan pasangan yang mengukur dengan pangkat dan titel.
Tante tidak merestui pernikahan dengan pasangannya karena bukan pegawai negeri, dan bukan dari kalangan orang kaya, tetapi Edo memilih wanita yang sederhana dari Samosir, Edo berani, ia menikah walau tanpa restu dari tante, ia menemukan kebahagiaannya sendiri bukan orang tuanya.
Benar kata Edo untuk apa menikah dengan wanita yang bertitel tetapi tidak punya kasih dan tidak punya adab.
Cinta terhalang restu memang susah, Edo berbeda dari keluarganya, kalau Candra dan adik-adiknya yang lain yang selalu menurut apa yang dikatakan tante, tetapi Edo lain sendiri, ia tegas dan tidak mau diatur-atur sama tante, ia memang sangat cocok jadi abdi negara.
Ia juga gak suka melihat sikap bapa uda yang terlalu menuruti perkataan tante, sebenarnya menurut cerita Edo saat itu, ia yang meminta duluan menikah dari Candra, tetapi tante menolak dengan alasan tidak baik melangkahi abang.
Lalu ia menurut dan mengalah, setelah Candra menikah Edo pulang dari Malang meminta izin sama tante.
Tante menolak, karena alasan tidak boleh menikah satu keluarga di tahun yang sama dalam adat Batak, itu benar kecuali ada yang sangat mendesak.
Sementara bapak calon istrinya, sudah sakit dan meminta putrinya untuk menikah, kasusnya mirip sama lae Rudi yang meminta anaknya untuk cepat menikah, bedanya kalau lae Rudi ibu mertuanya tetapi kalau Edo bapak mertuanya.
Edo datang lagi meminta restu pada tante,, kalau mereka ingin menikah hanya diberkati saja dulu, tidak perlu pesta pakai adat karena keadaan mendesak.
Tetapi perkataan tante membuat Edo kecewa, tante menolak calonnya karena boru ni napogos anak yang miskin, merasa tidak dapat restu Edo menikah di Medan di rumah Namborunya tanpa kehadiran tante.
Saat ia datang kembali ke Bogor ingin memberitahukan kalau mereka sudah menikah, ada banyak masalah yang terjadi, saat itu Candra yang dipukuli di bar, lalu bapa uda yang tiba-tiba sakit, itulah alasannya tidak membawa istrinya saat itu.
Ia menjelaskan semuanya, akhirnya Lasria dan Riko mengerti apa alasan Edo tidak mengundang bapa uda ke pernikahannya.
“Ehe … soadong apala mas na … apa gelleng-gelleng pe taho nian, dang adong na balga nasa tipis ni bulung *****-sangge pe taho nian, on lak so adong.”
( Eee … gak ada pun emasnya ... walaupun yang kecil, tidak ada yang emas yang besar, setipis daun seraipun tidak ada) ujar mami lagi setengah berbisik, aku dan papi hanya menggeleng melihat pemikiran kuno borneng senior itu. Apa yang dikatakan mami ternyata di dengar Edo.
“Jadi Mak Tua … boru ni napogos do parumaenmon, Kakak Netta nungga dibotoi”
(Jadi mama tua … keluarga miskinnya menantumu ini, kakak Netta sudah tahu itu) ujar Edo, sama mami karena tatapan mami sanga menjengkelkan menurutku, mami melihat istrinya si Edo mulai dari atas sampai ke ujung jari kaki.
__ADS_1
Memang sudah hukum alam kali untuk inang- inang Batak melihat calon menantu, selalu dilihat dari banyak emas yang dipakai, untung Netta tidak suka pakai emas.
Mata kami semua tertuju pada si borneng. “Memangnya mamak Paima kenal?” tanya mami.
“Kenal, dia teman satu sekolah kakak Netta dulu”
“Haaa …?”
Kami semua bersuara serentak Netta hanya tertawa kecil.
“Kamu yang kenali Dek?” tanyaku kaget.
“Sebenarnya dulu, saat baru masuk pendidikan, aku pernah ada kunjungan kerja sama bosku ke Samosir, aku bertemu kak Netta di sekolahnya, dia bawa temannya dan mulai dari sana kami berteman di Facebook, awalnya hanya berteman biasa, lalu bertemu kembali saat oppung meninggal saat bapak mengantar kami pulang, sebenarnya kami menginap di tempatnya sama abang Candra sama Rikko, karena kami tidak dapat pesawat malam itu”
“Oh, itu kakak ini?”
Riko kaget. “Ternyata itu pacar abang Edo? Kau bilang saat itu bukannya? Untung gak aku dekati,” ujar Edo.
“Awalnya memang tidak,” balas Edo.
Bahkan sudah menjalin hubungan yang sangat lama. Setelah mereka putus, bertemu dengan Lyra kembali, tanpa ada janji dan rencana. Tepatnya saat oppung kami meninggal dan Netta baru pulang dari Jerman, calon istri Edo datang ke Samosir dan bertemu kembali dengan Edo.
Menurut Netta Aldo, Lyra, Netta dan ada satu lagi perempuan, mereka berempat inilah yang jadi bintang di sekolah mereka dulu, karena mereka dikenal anak-anak berprestasi.
Tetapi dari mereka ber empat hanya Lyra istri Edo inilah yang tidak kuliah, karena tidak memiliki biaya.
“Jadi waktu dokter Situmorang itu meninggal eda pulang ?” Tanya Kak Eva penasaran.
“Pulang Eda, itu sedih bangat melihat namboru itu, dia sampai pingsan beberapa kali,” ujarnya memulai cerita.
“Jadi apalah kerjaan orang tuamu da?” Tanya mami masih materialistis.
Wajah istri Edo seketika sangat sedih.
__ADS_1
“Menggali minyak Nam, sama kayak bapak,” ujar Netta.
“Maksudnya?”
“Maksudnya sudah meninggal Mi, lemot bangat sih, lagian dari tadi nanya terus merusak suasana saja.” Kakak Eva Kesal.
“Tidak tau ni mami heppot.” Artnita ikut kesal.
“Mami kan hanya bertanya”
Mami selalu salah tempat.
“Bukan hanya tulang itu, nantulang itu juga,” ujar Netta.
‘Yatim piatu astaga’ ucapku dalam hati.
Kami semua terdiam.
“Jadi Nam, aku dan dialah yang paling miskin dulu di sekolah kami, orang jajan di sekolah kami dua hanya duduk di kelas karena tidak punya uang, kalau lapar kami hanya minum air putih”
“Dari danau toba,” ujar Lyra dengan mata berkaca-kaca.
“Kalau almarhum Nando tidak menjalani kami berdua, kami tidak akan jajan,” ujar Netta.
“Sudahlah, lupakan masa lalu kalian nanti bertambah sedih,” ujar papi.
“Maka itu bapak, Las, bang terimalah dia sebagai menantu di rumah kita, dia wanita pilihanku yang mendampingiku sampai tua nanti. Bagaimana sikap Kak Netta seperti itulah dia, hanya saja istriku yang paling cantik Bang,” ujar Edo bercanda.
“Eee … jangan salah. Borneng yang selalu terdepan,” ujarku tidak mau mengalah karena menurutku istriku yang paling cantik
Mendengar ia teman baik Netta semua menyambutnya dengan baik, aku lihat istri Edo boru batak naburju dan sabar, aku yakin dia bisa jadi berkat di keluarga mereka, aku yakin Edo dang salah mamillit boru ni rajai
(Dang salah mamillit > tidak salah pilih istri)
__ADS_1
Karena sebentar lagi Edo akan membawa cucu pertama di keluarga mereka,
Bersambung ...