Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Tetap harus berpisah


__ADS_3

“Ini bukan tentang bertahan atau tentang berjuang Bang, tapi ini tentang hidup.


Aku tidak ingin hubungan abang dan Bou dan Anita menjadi buruk, karena bou tidak menyukaiku lagi.”


“Jangan berbelit-belit Ta, kamu ingin berpisah tinggal bilang saja, jadi tidak usah nanti bahas Ke sana-kemari, kamu tinggal katakan apa mau mu.”


Bentak ku terbawa emosi juga.


“Baiklah aku menyerah,”


katanya kemudian.


“Itu artinya, apa yang aku lakukan semua sia-sia?


Aku sudah menghukum mereka semua Ta’ apa itu tidak penting, aku juga menghukum Arnita, ia menyakitimu aku melakukannya, bahkan sikapku kata mereka terlalu berlebihan, karena Arnita adik perempuanku,


kata mereka, sikapku terlalu kasar menghukumnya, tapi aku tidak perduli, itu karena kamu istriku, kamu penting untukku, apa itu tidak penting lagi?”


“Bang, aku ingin jadi seorang Dokter.”


“Aku tahu Netta’ aku mendukung, aku selalu mendukungmu.”


Kataku suara bergetar,


aku tidak ingin jauh dari Netta apalagi berpisah, ini akan membuatku gila nantinya.


“Bou memaksa menandatangani surat persetujuan untuk kamu bisa menikahi Mikha, itu membuatku sangat kecewa, kamu tau abang, semarah apa Bou selama ini, aku tidak pernah melawan sedikitpun, bou merendahkan ku, bou menghina Mama di kampung, semua itu aku pendam dalam hatiku, tapi saat ia memaksaku memilih dua diantara pilihan itu, aku sangat kecewa, aku tidak bisa menerima,”


Netta terlihat sangat kecewa.


“Bukankah Mami memaksamu untuk menandatangani surat bercerai?”


“Tidak , ia datang meminta izin agar kamu bisa menjadikan Mikha jadi istrimu, aku tidak tahu kenapa Bou bisa begitu yakin kalau kamu mau menikahi Mikha.”


Netta menatapku dengan tatapan menyelidiki.


“Ta, aku tidak pernah bilang apa-apa sama Mami,”


Percaya padaku.


“Aku ingin percaya Bang, tapi rasa sakit itu membuatku tidak bisa berpikir lagi.


Aku ingin abang mengingat hukum taurat kelima:


Hormatilah orang tuamu agar panjang umur di tanah yang diberikan Tuhan Allahmu kepadamu.


Aku tidak mau abang Nathan jadi anak yang tidak hormat pada orang tua.”


“Itu artinya kamu meninggalkanku,


itu artinya kamu ingin kita berpisah? Bukan ini terlalu cepat kamu mengambil keputusan,Ta?


Bukankah ini tidak adil untukku?”

__ADS_1


“Bang, anggaplah aku memberikan waktu abang dengan Bou.


Aku ingin pergi, aku dapat kesempatan belajar di Luar negeri, pertukaran pelajar antar Negara Indonesia dan Jerman.”


“Apa??


ka-kamu ingin pergi Ke Jerman?”


Aku merasa mataku tiba-tiba merasa panas, ketakutan ku akhirnya terbukti juga, pada akhirnya ia akan pergi.


Dalam hatiku, aku sangat bangga pada Netta karena memiliki istri yang pintar, tapi sekarang apa aku harus menangis apa harus tertawa.


“Ini kesempatanku untuk bisa mendapat pengalaman baru, kami hanya beberapa orang yang terpilih bang,”


kata Netta,aku mengalihkan wajahku dari Netta.


“Berapa bulan?”


aku bertanya, aku pikir hanya hitungan bulan.


“Dua tahun dan mungkin tiga tahun, barang kali aku Koas di sana sebelum menjadi seorang Dokter.”


“Apa?


tiga tahun, berarti tidak ada harapan lagi,” kataku dengan suara melemah.


“Anggap saja aku menuruti kemauan Bou yang ingin menjauhkan kita berdua, ini kesempatan kamu melakukan apa mau orang tua,”


ucapku marah.


“ Iya, aku akan datang suatu saat, datang bawa uang yang banyak untuk Bou.


Aku belum bicara sama siapapun Bang, aku ingin abang yang tahu pertama, daripada keluarga yang lain, itu karena aku menghormati abang sebagai suamiku, aku tidak suka dengan pendapat mereka, semua termasuk bou Candra, ia malah memaksaku melapor ke polisi, aku tidak ingin hubungan keluarga besar kita pecah belah karena hubungan rumah tangga kita, aku ingin namboru menyadari perbuatannya, besok aku ingin menjelaskan semuanya, aku harap abang datang dan bantu aku menjelaskan.”


“Tidak bisakah kamu mengubah keputusanmu Ta? aku mencintaimu, aku tidak ingin kamu meninggalkanku, aku meminta maaf meninggalkanmu, aku meminta maaf karena membuatmu sedih, tapi aku akan memperbaikinya, berikan aku waktu,”


kataku lemah, badanku terasa lunglai, mulai merasa tidak bertenaga lagi.


“Maaf aku tidak bisa Bang, aku sudah lama memikirkannya, ini kesempatanku, aku ingin mengejar impian terbesarku, aku ingin membanggakan Mama dan saudara-Saudaraku di kampung, aku akan datang kembali, Tunggulah aku, aku akan datang jadi orang yang pantas untuk Bou, aku juga ingin wanita yang pantas untuk abang juga.”


“Kamu selalu pantas untukku, aku melarang mu pergi, apa kamu juga akan tetap pergi?”


“Iya , aku ingin menjadi Dokter, aku ingin membawa uang dan harta yang banyak, dan suatu saat nanti ingin aku berikan untuk Bou”


ucapnya dengan yakin.


“Tiga tahun waktu yang sangat lama Ta. Aku tidak akan bisa menunggu selama itu.”


kataku.


“Abang aku ingin saat aku datang nanti, abang tidak merokok lagi dan abang sudah sembuh, dan saat itu juga kita bisa memberikan cucu untuk Bou.


Aku ingin abang sembuh.”

__ADS_1


“Aku mau menerima pengobatan, tapi tolong jangan pergi.”


Aku memohon sesungguhnya, aku tidak tahan jika ia pergi.


“Tunggu aku bang, tunggu aku jadi seorang Dokter, aku akan menunggu abang sembuh, agar suatu saat aku datang abang sudah siap.


Percayalah, aku juga mencintai abang, aku akan menjaga hatiku selama aku di sana.”


“Aku tidak mau, aku tidak akan mau menunggumu, pergilah aku tidak mau memaksamu, baiklah pergilah kalau itu yang kamu inginkan.”


Kataku marah, aku berdiri,


Netta memegang tanganku, tatapan matanya terlihat sangat sendu.


Iya ampun, bagaimana aku menerima keputusan berat ini.


“Aku berharap dalam situasi seperti ini abang mau mendukungku, karena abang satu-satunya yang aku percaya.”


“Ta! suami mana yang mendukung istrinya pergi meninggalkannya dengan waktu lama?”


“Menurut abang, apa yang harus aku lakukan dalam posisi di saat ini?


Bou ingin aku berpisah darimu dan pilihan lainya, ia ingin aku menginginkan kamu menikahi wanita lain, aku tidak ingin memilih apa-apapun.


Pemukulan itu sangat berat untukku Bang, aku mengalami trauma, apa salahku?


mereka memperlakukan aku seperti binatang. Keputusan yang aku ambil anggap saja untuk aku bisa pulih dan menghilangkan masalah psikologis ku, anggap saja ini waktu kita saling introspeksi diri.”


“Maksudmu, aku harus membiarkan kamu pergi,


begitu permintaanmu?”


“Iya,”


jawab Netta tegas.


“Aku tidak ingin kamu pergi Ta,


walau aku melarang, tapi kamu akan tetap pergi, terus apa gunanya kamu meminta izin padaku?”


“Itu caraku menghormati abang sebagai suami.”


"Baiklah pergilah, aku tidak perduli lagi, pergi dan jangan kembali lagi, supaya kamu puas,"


aku marah aku kecewa.


Kesalahan aku di masalah lalu, merusak hidupku saat ini, seandainya waktu bisa di putar, aku tidak seharusnya menodai pernikahan kami.


Netta pergi, ia juga manusia biasa, yang punya batas kesabaran, perlakuan buruk Mami padanya selama ini, ia tahan pada akhirnya, ia juga menyerah.


Bagaimana denganku?"


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2