Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Mencurigakan


__ADS_3

Mencurigakan.


Berangkat ke kantor tapi pikiranku berada di tempat lain, seluruh pekerjaanku terganggu.


Dring....


Dring ....


Di nada kedua aku baru melirik ponsel tersebut, sengaja benda itu aku simpan di dalam laci karena bunyi notif dari ponsel membuatku makin pening.


Kali ini panggilan masuk dari Mikha.


“Iya, kenapa?” tanyaku, tidak bersemangat.


“Iya Beb, kamu kenapa tidak balas pesanku, besok malam kamu bisa gak?”


“Aku tidak bisa Mikha, kamu saja, aku sangat sibuk di Kantor, tidak bisa kemana-mana,” kataku dengan nada malas.


“Beb, kamu kenapa? Kamu semakin hari semakin jauh dariku, kamu tidak sayang lagi samaku?”


“Mikha, aku mau masuk keruang rapat, aku tutup dulu,” kataku mematikan ponsel, mendengar suaranya yang manja membuat kepala ini, semakin berdenyut.


Aku terpaksa membuat alasan seperti itu pada Mikha, kalau tidak, ia akan menggangu, tanganku, memijat kening yang semakin pusing.


Aku ingin mengakhiri semua kesalahan yang telah aku buat. Aku masih sayang sama Mikha, hubungan yang sudah terjalin lebih dari lima tahun, tidak akan mudah menghilangkannya, tetapi, walau dengan berat harus membuat keputusan, aku tidak akan bisa menjalani dua jalan sekaligus.


Dari kedua jalan yang aku pilih, harus menentukan salah satunya, walau aku tau, aku sudah berjalan terlalu jauh dengan jalan yang salah. Aku harus kembali ke jalan yang benar walau tidak mudah.


Kepala ini semakin lama terasa semakin pusing.


Kurang tidur, banyak pikiran membuatku sakit.


Aku merasa pandangan mataku semakin buram, tanganku meraih ponsel yang aku letakkan di ujung meja, hanya ada satu orang pegawai yang tepat untuk menolongku saat ini.


“Pak Amran, ke ruanganku sekarang!"


“Baik Pak,” sahut lelaki itu, sepertinya ia lagi makan.


Tidak berapa lama ia sudah datang, mungkin aku mengganggu waktu makannya, tetapi karena rasa sakit di kepala, bahkan menjalar ke badan aku tidak memperdulikan, walau, sudah menganggu waktu makan siang Pak Amran.

__ADS_1


“Ada apa Pak?”


“Pak Amran masih ada pekerjaan yang mendesak gak?” maksudku, apa pak Amran mau belanja barang lagi?”


“Iya, tapi nanti sore, tinggal ambil barangnya dari toko Pak.”


“Ok, baiklah, bapak Amran antar kan saya ke rumah sakit, saya sepertinya tidak kuat untuk menyetir, ini kunci mobilnya."


“Iya pak.”


Rasa sakit dari kepala tidak tertahan lagi, peru terasa mual.


“Kita ke rumah sakit mana Pak?"


“Ke rumah sakit Santa, saya sudah membuat janji sama dokter.”


“Baik pak."


Beberapa menit kemudian mobil berhenti di salah satu rumah sakit swasta, aku sudah di tunggu dr Iwan di ruangannya.


“Mari masuk Pak Jonathan, sudah lama kita tidak bertemu, bagaimana keadaan Papi kamu ,” tanya dr Iwan basa-basi.


“Baik pak."


Setelah serangkaian pemeriksaan, aku mengalami radang lambung, tidak menjaga pola makan karena terlalu banyak beban pikiran belakangan ini, jadi pemicu utamanya penyakit yang aku alami.


Disarankan untuk menginap di rumah sakit agar dapat menerima perawatan dan penanganan yang baik, tetapi aku memilih pulang ke rumah, berharap saat pulang nanti. Netta yang merawat.


Aku menolak di rawat di rumah sakit, hanya meminta obatnya saja. Saat melintas koridor rumah sakit, berpapasan dengan beberapa dokter dengan jubah dokter mereka, aku memikirkan suatu saat nanti, Netta akan memakai jubah berwarna putih itu juga.


Aku memilih pulang ke rumah dan ingin istirahat di rumah saja, aku ingin Nettalah yang merawat ku nanti, karena istri kecilku calon Dokter.


Aku sengaja tidak memberitahukan Mami dan kak Eva, kalau aku sakit, kalau sempat aku memberitahukannya yang ada satu kampung heboh, aku akan diperlakukan pasien sekarat, Mami akan bertindak sebagai Dokter yang berjaga 24 jam. Ia tidak akan berhenti sebelum sembuh.


Kini dalam kamar, aku tiduran menunggu Netta pulang. Tetapi, hingga jam sepuluh malam Netta belum juga pulang, setelah makan aku meminum obat, ternyata obatnya memiliki efek yang membuat tidur, baru juga di minum, mata mulai sangat berat, obat kapsul berwarna hijau sepertinya berdosis tinggi.


Obatnya langsung bereaksi membuatku tertidur pulas dan masuk ke alam mimpi bagai kena bius.


Sampai Netta pulang, aku tidak mendengarnya lagi, niat ingin di rawat sama Netta tidak jadi.

__ADS_1


Saat aku bangun, aku melirik jam sudah jam delapan pagi. Ia sudah berangkat pagi-pagi sekali, mungkin bahkan ia tidak tahu kalau aku sedang sakit.


Badanku masih lemas tidak kuat untuk ke kantor, aku memilih istirahat di rumah, sengaja tidak memberitahukan pada Mami kalau lagi kurang enak badan, aku hanya bilang ingin istirahat.


Dring ....


Dring ....


Melirik ke layar ponsel Mikha meneleponku. Rasanya malas untuk mengangkatnya, aku membiarkannya berdering berhenti sendiri, tanpa menjawab, kepalaku, terlalu sakit untuk mendengar suaranya.


Di pikiranku saat ini hanya Netta, ia lagi ngapain? Tiba-tiba aku sangat merindukannya. Aku masih penasaran tentangnya, mungkin belum terlambat bagiku untuk mencari tahu tentang Netta istriku, apa makanan kesukaannya? Apa yang tidak di sukai? Bahkan aku tidak tahu, kapan tanggal kelahiran Netta.


Aku penasaran, lalu membuka lemari penyimpanan dokumen pernikahan kami dan membaca. Ternyata, Netta berulang tahun di bulan yang sama denganku, hanya tanggalnya dan tahun berbeda dengan beda satu hari aku duluan.


Itu artinya bulan kemarin saat aku dan Mikha merayakan ulang Tahunku, satu hari kemudian baru ulang tahun Netta.


Aku semakin penasaran tentang Netta, mencoba ingin membuka lemarinya, karena lemari bajuku dengan punya Netta berbeda . Aku sebenarnya tidak keberatan kalau kami satu lemari, tetapi, dia yang tidak mau, memilih lemari plastik untuk tempat pakaiannya.


Saat aku ingin membuka lemarinya, sayang dia mengunci lemarinya.Terlalu banyak rahasia yang ia simpan yang tidak aku ketahui, bahkan buku-bukunya di masukkan ke dalam lemari.


'Apa yang kamu lakukan Netta? jangan melakukan kesalahan. Biarkan aku saja yang melakukan kesalahan dalam pernikahan kita , kamu jangan mengikuti ku ataupun membalasku' ucapku dalam hati.


Aku baru sadar, ternyata, foto pernikahan kami yang biasanya di gantung di kamar mendadak hilang.


Kemana? Apa dia sengaja menurunkannya?


Aku mencari bingkai foto wedding kami. Bingkai foto ber ukuran 30x40 itu mendadak hilang entah kemana.Sudah mencarinya ke segala sudut di kamar kami.Namun, tidak menemukan.


Apa Netta yang menurunkannya. Apa dia merasa foto itu tidak pantas? Pikiranku semakin tidak tenang.


Apa Netta berselingkuh? Apa ia juga melakukan kesalahan seperti yang aku lakukan? Apa ia sengaja membalas ku?


Niatnya tidak kerja agar aku bisa istirahat, tetapi di dalam kamar bukanya tidur, malah di hinggapi banyak pikiran tentang Nentta.


Aku makin curiga padanya karena lemari yang biasanya tidak di kunci, mendadak jadi terkunci, bahkan buku-bukunya juga ia masukkan ke dalam lemarinya, biasanya buku kuliahnya tersusun rapi di meja kecil di samping lemarinya.


Aku ingin membongkar lemari itu untuk melihat isinya, tapi aku tidak ingin ia kaget nantinya kalau sudah pulang


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2