Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Terluka


__ADS_3

Rumah kami sudah penuh, keluarga-keluarga dari pihak tulang sudah berdatangan, tidak hanya datang Jakarta, keluarga kami juga yang tinggal di Bandung, Bogor, Bekasi.


Langit berwarna Jingga sudah mulai berlalu dan akan di gantikan malam untuk menjaga cakrawala. Tapi Mami saat di gotong ke bawah bukan diam malah semakin heboh.


Hadeeh , ini akan sangat memalukan dan jadi topik utama nantinya pikirku, tadinya api itu hanyalah api kecil layaknya sebuah rumah tangga yang baru, masih tahap pengenalan, tapi Mami datang membawa bensin dan menyiramnya, hingga satu kobaran api besar dan saat ini masalah itu kembali di goreng dan di godok .


Buat para ibu-ibu dalam arisan biasanya kejadian seperti saat ini, itu akan jadi santapan hangat yang enak buat mereka.


Saat masih duduk di sisi ranjang, dan kak Eva juga masih duduk bersamaku. Netta masih dalam kamar mandi, mungkin ia menangis.


“Abang di panggil sama kak Netta kebawah sama Mami,” Arnita menyuruh kami untuk turun, inilah yang aku takutkan, masalah ini akan di bahas dan sudah pasti, Netta akan di salahkan lagi nantinya.


“Sana turun…! ini yang aku takutkan Tan, rumah tanggamu akan tersebar kamana-mana tidak harmonis, kamu akan membuat keluarga malu,” kata kak Eva.


“Ta, buruan kalian di suruh ke bawah,” ia mengetuk kamar mandi, Netta sudah hampir 15 menit di dalam kamar mandi belum keluar-keluar.


“Iya, kak duluan saja, nanti aku turun,” kata Netta dari balik kamar mandi, aku tidak tahu apa yang ia lakukan di kamar mandi.


Aku turun dan kak Eva, benar saja Mami menceritakan kejelekan Netta pada semua orang yang datang.


“Duduklah kamu Bere,” kata Tulang kami, tulang yang dari Bogor.


Hingga acara di mulai, Netta belum turun, suasana rumah sudah benar-benar penuh, karena biasanya juga, kalau acara arisan keluarga memang selalu rame.


Tiba-tiba Mami berdiri seperti ingin membuat pengumuman.


“Begini Ito, aku ingin sekalian aku meminta sama ito-itoku sebagai hula-hulaku, saya mau meminta saran dan pendapat, sekalian untuk meminta sama ito untuk menasehati Netta, sudah pusing kali aku dan tidak sanggup menasehatinya lagi, aku ingin solusi bagaimana baiknya,” kata Mami lagi-lagi membuka aib anak –anaknya.


“Mami, itu biasa, biarkan mereka menyelesaikannya,” kata ka Eva tidak suka kalau Mami menceritakan semuanya di depan Keluarga besar.


“Kamu diam…! ini urusan orang tua,”katanya menghentikan kak Eva, aku ingin keluar sebenarnya, tidak tahan mendengar Mami menjelek-jelekkan Netta.


“ Panggillah ke sini Borui, biar kita nasehati, kata Tulang yang paling tua dari kakek beradik jadi bukan Tulang kandung.


Dengan sigap Arnita berlari lagi ke kamar kami untuk memanggil Netta, harusnya ini arisan bersuka cita, tapi karena Mami semuanya heboh.

__ADS_1


Terlihat para Ibu-ibu saling berbisik melihat kearah Mami,


Mungkin sebagian yang sudah mengenal watak keras Mami pasti sudah paham, dan kenal istilah Parbada dalam bahasa batak(parbada: mau menang sendiri, selalu merasa benar)


Sekilas aku bisa dengar mereka memuji Netta gadis yang baik dan pintar.


Akhirnya ia turun, sudah berganti baju dan memakai sarung dan jaket, ia duduk di sampingku.


“Iya ito, tolong nasehati dulu si Netta ini, sudah capek aku menasehati, tidak mau di dengar, kalau bukan anak Itoku aku ambil jadi menantu. Sudah aku kembalikan dia,” kata Mami sangat kasar, seakan Netta sudah melakukan kejahatan yang sangat besar.


Aku sungguh tidak tahan lagi, walau aku di cap anak yang durhaka, tapi aku harus melakukan itu.


“Cukup Mi, aku sudah bilang aku bisa menyelesaikan masalah kami, tapi kenapa mami yang membuat masalahnya makin sulit, Mami itu harusnya menyatukan kami bukan malah memecah belah,” kataku.


“Nathan kamu diam…! kamu tidak tahu-apa-apa,” kata Mami menunjukku dengan jarinya.


Beruntungnya Papi datang, hanya papi yang bisa membuat Mami berhenti dan diam. Papi baru tiba dari luar Kota, beliau jadi orang yang sibuk belakangan ini, karena Papi buka bisnis, baru ingin membangun hotel bekerja sama dengan Temannya.


“Ada apa sih baru tiba sudah mendengar kalian ribut di depan orang lae-lae ini?” kata Papi menyalami satu-satu tulang yang datang hari itu.


Papi orang yang luar biasa, beliau bisa bertahan dengan Mami dengan sikap galak seperti itu.


“Papi kenapa sih…! selalu bersikap seperti itu saat aku bicara dan bahas tentang Netta, Papi selalu marah kata Mami berdiri dan marah-marah.


“Nanti saja Mi kita bahas itu, nanti saja, orang lae ini datang jauh-jauh dari Bandung, dari perjalanan sudah pasti lapar, dari bogor, Bekasi lagi,” kata Papi sangat santun dan ramah


“Ayo Maen, persiapkan makan kita,” ia menatap Netta yang terus menunduk.


Suasana kembali hangat.


“Wah siapa yang bikin Na niura ni Bi?” kata Papi masakan khas Batak itu memang jadi favorit Papi.


“Kak Netta yang bikin pak,” Jawab si bibi.


“Kalau masakan Netta masak na niura sama nanitombur paling jago, mantap ini,” kata papi memuji Netta.

__ADS_1


Papi sangat baik sama Netta, tapi timbal balik sama Mami, saat Netta tidak menuruti kemauannya, ia malah membenci Netta.


“Kak Netta juga bikin natinombur pak,” si bibi bertubuh tambun melapor lagi sama


“Wah mantap! Mantap taruh semua di meja biar di makan orang lae sama inang ini,


Ayo lae…! Ayo inang…! Nambah lagi,” Saat Papi datang suasana yang tadi tegang saat ini apa adanya, mengalir dan kekeluargaan. Mami malah pergi ke kamar dan mengajak Nantulang Grace untuk bergosip.


Mungkin kalau bukan karena Papi tidak ada yang datang untuk arisan ke rumah kami, karena keburukan Mami bisa di tutupi dengan sikap Papi yang sangat baik. Maka setiap ada acara di rumah kami pasti hadir semuanya.


Biasanya aku jarang ikut gabung urusan seperti ini, boleh di bilang baru kali ini, aku masih duduk di tikar, duduk paling pojok,


“Nambah Bang,” kata Papi, beliau sering panggil Abang, sebutan padaku, Papi yang tidak terlalu banyak bicara seperti orang Batak pada umumnya.


“Sudah Pi,” jawabku tapi mataku masih mengikuti Netta, ia belum makan, tapi aku penasaran dengan kompresan yang ia bawa ke kamar, aku pikir sikut tangannya juga sakit sepertiku,


“Sebentar iya Pi, saya mau ganti baju dulu, gerah,” kataku buat alasan


Aku mengikuti Netta, saat aku buka pintu, ia terkaget dan menghentikan aktifitasnya.


“Apa ada yang terluka, Ta?”


Aku bertanya bersikap biasa saja, tanganku membuka lemari dan mengeluarkan satu kemeja yang akan aku pakai, aku meliriknya dari depan kaca lemari ku.


“Tidak ada bang” ia menutupi wajahnya dengan rambutnya, aku penasaran luka lebam di wajahnya, aku yakin itu pipinya bengkak, hanya saja, ia tidak akan mau berterus terang.


Tapi aku punya cara untuk mendapat jawabannya, aku keluar tapi tidak benar-benar pergi dan aku masuk lagi, kali ini akan ketahuan.


“Auh,” ia memegang pipinya


Mataku melotot tajam kearah pundaknya yan berdarah . Tadi ia memakai jaket berwarna hitam, jadi tidak ketahuan apa yang terjadi , tapi saat ini, saat jaket di lepas noda berwarna merah banyak di bajunya.


“Ya, Tuhan kamu terluka, kamu berdarah,” kataku mendekat dan menyisikan rambutnya”


Oh sial” ,luka itu sekitar 3cm aku baru ingat figura kaca terjatuh ke wajahnya

__ADS_1


“Jangan berisik Bang, pegang saja, Nah pakai ini, kompres, aku ingin mengolesi salep luka,” kata Netta


BERSAMBUNG


__ADS_2