
Masih berkumpul dalam rumah.
Setelah aku selesai memberikan sepatah dua patah, kini giliran Netta.
“Baiklah, aku juga ingin mengucapkan sepatah dua kata, terimakasih untuk keluarga yang mendukungku selama ini terlebih bapak mertua. Jadi, kenapa aku bisa pulang ke Indonesia .... dari pihak kampus memberi kita pilihan. Mau koas di Jerman apa Indonesia?
Aku koordinasi sama amang boru, among boru bilang lebih baik aku koas di Indonesia, mengurus semuanya. Memintaku pulang untuk melihat oppung sekalian, karena kondisi kesehatannya semakin buruk.
Tapi saat aku masih perjalanan oppung sudah keburu pergi.
Aku ingin mengabari bang Nathan dalam perjalanan, tapi amang boru bilang biarlah kejutan untuk bang Nathan.
Kenapa aku selama ini tidak bisa di hubungi, kita tidak di perbolehkan memegang handphon selama di kampus hanya waktu tertentu saja diperbolehkan.
Doakan aku agar bisa jadi dokter dan bisa berguna untuk keluarga nantinya , satu hal lagi banyak yang bertanya padaku status hubungan kami dengan bang Jonathan, hubungan kami baik-baik saja, kami tidak pernah bercerai dan tidak akan bercerai sampai maut memisahkan, itu keinginanku, doakan kami namboru, bapa uda, ito semuanya, agar rumah tangga kami makin dewasa kedepannya,” ujar Netta.
Ucapannya jauh lebih bermakna dari pada aku, disinilah aku sering berpikir, umur tidak menentukan untuk berpikir dewasa, umurku jauh lebih tua dari Netta, tapi sering sekali bicara dan perlakuannya jauh lebih dewasa dari aku.
Penjelasan Netta menjawab pertanyaan ku beberapa hari ini. Kenapa Netta bisa pulang? Kenapa ponsel Netta tidak bisa dihubungi.
Segala kegundahan hati akhirnya terjawab.
Kerena banyak orang yang menyebut kami sudah berpisah, terutama untuk tante Candra yang mengharapkan Netta untuk menantunya, dengan adanya pernyataan Netta, itu artinya tante harus melupakannya dan tidak boleh mengharapakan Netta jadi menantu lagi.
Di balik keluarga besar kami yang terlihat semrawut, ternyata masih ada sikap tolong –menolong, semua keluarga bahu membahu membantu Netta untuk jadi dokter, apalagi dengan adanya permasalahan dalam rumah tangga kami saat itu, hanya tante Candra yang jadi boomerang dan batu sandungan, mungkin tante lah yang disebut gabah yang tidak berisi dalam keluarga.
Maka acara hari ini selesai ditutup dengan baik dan tante Candra akhirnya berhenti berkoar saat itu.
Saat suasana tenang.
“Kita pulang bersama-sama saja iya Tulang, ada teman dari Jakarta yang punya Travel memberi tiket pesawat diskon, jadi kita bisa pulang bersama kapan saja,” ujar ku.
“Wah kamu menantu yang hebat, Nak," ujar Tante Ros menepuk-nepuk pundakku sembari tertawa.
"Alai mambuat roha, Tan,"bisikku sama tante, tante Ros tertawa.
(Mambuat roha > ambil hati)
“Lumayan lepas ongkos pulang empat orang,” kata Tulang bergurau.
“Mama jadi ikut’ kan?” tanya Netta sama Ibu Mertua, ibu mertuaku terlihat ragu.
“Bagaimana lah Nang, edamu mau melahirkan sebentar lagi, Itomu kewalahan nanti.”
“Dang pola Mak, lao ma oma, hu jou pe anon simatuakku tuson.”
(Tidak apa-apa, Mama pergilah , nanti aku panggil ibu mertuaku menemani menantu mu) Kata Lae Saut, memberi dukungan buat Ibu mertua.
“Ikutlah aku bang, biar pernah dulu ke Jakarta,” ujar Parasian adik Netta yang duduk di bangku SMP minta ikut juga.
__ADS_1
Tapi tidak untuk adiknya yang yang bernama Lamhot, bahkan saat di ajak keluarga ia enggan ikut, aku baru ingat, ia dapat motor baru tentu saja ia tidak mau ikut.
“Molo boi do tu Lae Jonathan bah dohot pe taho hamu sude liburan, mumpung adong tiket diskon.”
(Kalau bisa sama Lae Jonathan, kalian ikut tidak apa-apa anggap lah liburan mumpung ada pesawat diskon)
Ucap Lae saut lagi.
“Wah berangkat satu kampung dong?” Tante Ros terkekeh.
“Tidak apa-apa anggap saja kita mengantar Lae Rudi untuk mendapat tugas barunya sebagai polisi,” kataku tidak menolak mereka ikut.
“Wah, Rudi diterima jadi Polisi?”Ternyata ke dua Tulangku belum tahu.
“Iya Bapa uda, berkat bantuan Lae Jonathan” ucap lae Rudi.
“Bah mauliate mah Tuhan, Las ma Roham abang, hasea be akka gelleng mon, mengkel maho bang, sian surgo i tamiangkon kami sude.”
(Terimakasih Tuhan, senanglah kamu bang, berhasil anak-anakmu, tersenyumlah kamu dari sorga, doakan kami)
Kata tulang Gres , menangis karena terharu tentu saja ikut merasa bangga.
Roda kehidupan itu akan selalu berputar, kalau dulu kata Netta keluarga mertuaku di pandang rendah di kampung, tapi saat ini semua orang malah memuji Ibu mertua, tidak di pandang sebelah mata lagi.
Apa lagi saat tahu Rudi akhirnya di terima jadi seorang penegak hukum, seorang Polisi, kalau di kota Jakarta profesi Polisi sudah biasa, tapi kalau di kampung Netta pekerjaan Polisi dan Tentara itu hal yang sangat besar dan membanggakan.
Maka saat ia menang, dari kampung atas sampai desa bawah, mengetahuinya, apalagi mertuaku memberi ucapan syukur di Gereja kalau dua anaknya berhasil mendapatkan cita-cita mereka, di umumkan dan dibacakan di podium Gereja saat ibadah minggu.
“Bah … selamat ma ake eda, on do helami?”
(Wah selamat lah eda ini menantumu, ganteng juga) ujar seorang namboru yang dandanannya menor dan memakai kalung emas segede rantai kapal.
‘Namboru ini mau ibadah atau mau show …?’ aku membatin.
“Sekarang saja nantulang ini mau menyapa mama, dia orang paling kaya di lingkungan ini,” bisik Netta.
“Aku sudah menduga, terlihat dari tatapannya yang sinis,” ujar ku.
“Bapak sama mama dulu selalu dianggap sebelah mata sama semua orang.”
“Sekarang tidak akan lagi Ta, percayalah,” ujar ku menatap wajahnya yang mendung.
“Abang tahu kenapa aku jadi dokter?”
“Tidak.”
“Aku ingin membangun sebuah klinik pengobatan di di sini, agar orang yang sakit tidak harus ke Nainggolan atau Panguguran jika sakit, seperti yang sering di alami mama dan oppung dulu.”
‘Mulia sekali keinginan istriku … mudah-mudahan doanya terkabul bisa membangun klinik kesehatan di kampung ini’
__ADS_1
Kami masih berdiri di samping mobil, menunggu ibu mertua yang mengobrol dengan para Jemaat yang pulang ibadah, banyak juga orang yang mampir ke rumah Netta sekedar mengucapkan ucapan selamat.
Dalam suasana hari yang baik, saat aku Netta lagi duduk di depan rumah, tiba-tiba Lae Rudi duduk di samping Netta dan membisikkan sesuatu.
“Ito adong hepeng apa lima puluh ribu?”
(Ito, ada duit mu lima puluh ribu?”) bisiknya pelan dan kebetulan aku mendengar.
“Adong … tudia Ito?”
(Ada, tapi untuk apa Ito?)
“Ini ada Lae.” Aku membuka dompet dan menarik tiga lembar uang berwarna merah.
“Kebanyakan Lae,” ucapnya menolak.
“Pakai lae tidak apa-apa mana tau mau traktir teman Lae.”
“Iya Lae, teman-temanku tahu aku di terima, jadi, minta ditraktir.”
“Pakailah lae.”
“Makasih lae.” Ia meninggalkan kami.
“Bukan teman, pacar kali Bang,” ujar Netta.
“Mau pacar atau teman biarkan sajalah, itu wajar, pacarnya pastilah senang karena kekasihnya jadi polisi,” ujarku.
Setelah semua selesai dan saling memaafkan, aku berencana mengajak Netta liburan berdua .... keliling Samosir sebelum pulang ke Jakarta.
'Saatnya waktu berduaan untuk kami' ucapku dalam hati, melirik Boru Ni Rajai.
Saat otakku Travelling ke mana-mana si Borneng lagi sibuk marhobas bikin kopi.
Bersambung …
Akak yang baik , jangan lupa tetap dukung karya ini kasih like vote dam komentar. Kalau bisa bantu share di facebook kalian iya kakak agar makin banyak lagi yang menonton. Jangan lupa baca juga karyaku yang lain.
Terimakasih untuk semuanya
Baca juga karyaku yang lain
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (Tamat)
__ADS_1
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
Bintang kecil untuk Faila (tamat