Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Di Rumah Sakit


__ADS_3

“Kakak pulang aja kasihan Feno nyariin kakak nanti,” Feno anaknya yang masih ber umur satu tahun. Masih terlalu kecil untuk di tinggal walau sudah terbiasa.


Karena kak Eva masih bekerja di salah satu rumah sakit swasta, maka sejak enam bulan, anaknya sudah tinggal sama pengasuh. Tapi tetap saja aku merasa kasihan waktu yang seharusnya untuk anaknya, ia pakai untuk menjagaku.


“Terus kamu sama siapa?”


“Tidak apa-apa, aku sendirian, aku bukan pasien yang sekarat, kalian saja yang membuatku seolah pasien parah.”


“Iya ampun Jonathan kamu itu infeksi lambung, lambung mu kalau tidak di jaga bisa bocor dan membusuk terus belatungan, jangan jaga kesehatanmu, iya…! sana kamu ke Bar minum-minum lagi, terus bergadang sampai malam, biar Mati kamu sekalian,” katanya dengan nada tinggi pakai ngegas.


“ Dasar boru Batak, super galak,” kataku.


“Lebih baik begitu, transparan galak di depan galak juga di belakang dari pada munafik,” katanya membalas ku.


“Tapi Netta tidak seperti itu, walau ia asli boru Batak dari Samosir, ia lembut dan sabar tidak pernah galak kaya kakak tadi.”


“Netta itu boru Batak yang langka Tan, ia bisa sabar dengan perlakuan kalian seperti itu, Mami galak, loe tukang selingkuh, Arnita tukang adu domba, hanya aku sama Papi yang normal,” ia menoleh ku.


“Kakak juga tau?” tanyaku makin penasaran.


“Taulah Tan, saya juga seorang perempuan. Jonathan kalau aku di perlakukan seperti itu aku akan tinggalkan kamu aku akan lari,” kata Kak Eva dengan nada emosi.


“Kakak sudah berkeluarga, Laemu suamiku, ia tidak mau kalau aku terlalu ikut campur urusan rumah tanggamu, ia selalu marah kalau aku ingin ikut campur, maka itu aku diam tidak ikut campur dengan rumah tanggamu, tapi kali ini aku mau bilang tinggalkan wanita itu, dan jalani rumah tanggamu dengan baik. Ingat loh Tan Netta itu anak almarhum Tulangmu, mungkin dari alam sana, ia menangis melihat kalian memperlakukan Borunya, dengan sangat buruk,” kata Kak Eva seperti menakut-nakuti, tapi apa yang di katakan nya masuk akal.


Sudah sana! kakak pulang saja, aku makin pusing mendengar kakak.”


“Tunggu…


Netta Telepon, iya Ta, oh kamu mau kesini, baguslah Mami tidak ada, Mami pulang tadi, ia sakit, baguslah Ta cepat, iya aku mau pulang soalnya,” kata Kak Eva, tangan menempelkan ponsel di kuping dan di jepit dengan pundak, tangannya meraih tas.


“Netta baru pulang kuliah, ia mau kesini, baguslah istrimu yang menjagamu, itu lebih baik, aku pulang, by,” Kak Eva buru-buru pulang .


Mendengar Netta yang menjagaku malam ini, tiba-tiba aku merasa deg-degkan, aku merapikan rambut dan pakaianku, aku merasa senang jika Netta yang akan menjagaku.


Kira-kira 20 menit setelah kak Eva pulang ia baru tiba, aku mendengar suara kakinya, aku sengaja pura-pura tidur karena di satu sisi aku merasa bersalah padanya, karena banyak Faktor.


Dreaak


Suara pintu ruangan terbuka, aku mengintip dari


sudut mataku.


Netta datang, ditangan kirinya terlihat beberapa buku tebal.

__ADS_1


“Abang tidur?”


“Hmm, sahutku tanpa berani membuka mata. Melakukan kesalahan besar, alasanku tidak berani melihatnya saat itu.


“Abang sudah makan?,” ia bertanya meletakkan barang-barangnya di bawah tempat tidur, menyelimuti badanku dengan selimut berwarna putih milik rumah sakit.


Ia menarik kursi di samping ranjang dan menjatuhkan tubuhnya, jam sudah bertengger di angka 22:35.


“Kenapa abang sakit tidak bilang ke aku, kita kan sama-sama periksa ke Dokter,” suara Netta terdengar bergetar.


Aku menoleh, aku pikir ia menangis ternyata ia hanya menguap, mungkin karena kelelahan, matanya juga sudah mulai berat.


“Apa karena Mami memarahimu?,” aku menatapnya.


“Tidak, kalau itu sudah hal biasa, makanan sehari-hari, hanya aku merasa bersalah, aku tidak tau kalau abang sakit, apalagi sampai pingsan, saat menemukanmu paginya, aku panik dan ketakutan, aku pikir abang sudah mati tadi pagi, soalnya dingin semua badannya, bibir juga sudah pucat seperti mayat.”


“Maaf.”


“Kok Abang yang minta maaf, aku yang seharusnya ,” kata Netta mengulas senyum tipis.


Apa ia tersenyum? Apa tunggu aku sakit seperti ini kamu baru tersenyum seperti itu aku bermonolog dalam hati.


“Lain kali, abang harus kasih tahu aku kalau sakit,” kata Netta.


Ia terdiam, wajahnya terlihat mendung lagi.


“Bukan seperti itu bang, siapa yang tidak suka berbagi cerita apalagi dengan orang dekat, masalahnya aku hanya merasa diriku bukan siapa-siapa,” kata Netta melihat dengan tatapan kosong. “Sudahlah jangan bahas yang penting saat ini, abang cepat sembuh, aku juga mengantuk ingin tidur,” kata Netta.


Saat ia berdiri, aku memegang tangannya, ia kaget saat aku memegang tangannya.


“Apa abang perlu sesuatu?.” Ia menatapku dengan tatapan serius.


Aku menggeleng lemah, berhadapan dengan Netta dalam situasi ini, aku merasa sangat rendah, bagaimana gadis muda seperti dia bisa bersikap dewasa, bahkan cara berpikirnya lebih dewasa dariku.


“Aku ingin bicara denganmu ,Ta.”


Ia menjatuhkan punggungnya lagi


“Katakanlah.”


“Apa, kalau aku benar-benar meninggalkannya, apa kamu mau bersamaku?”


“Jangan membahasnya di saat seperti ini, yang penting kesembuhan abang dulu, apa kata Dokter? apa ada yang mengkhawatirkan?”

__ADS_1


“Ta, itu artinya kamu tidak ada niat memperbaiki rumah tangga kita, kan?”


“Kita akan membahasnya setelah abang sembuh,” kata Netta menolak untuk membahasnya.


Aku melepaskan tangannya dengan ketus, aku marah mendengar jawabannya.


”Pulanglah…!”


“Aku akan menjagamu, disini.”


“Aku tidak butuh di jaga orang lain, aku hanya ingin dijaga istriku.”


“Aku istrimu.”


“Kamu hanya terpaksa.”


“Aku tidak mengerti, apa maksud abang,” kata Netta terlihat lebih lelah lagi.


Tiba-tiba ponselnya berdering, sorot mata terlihat bersinar dan ia tersenyum kecil.


Ia menerimanya dan agak menjauh dariku, ia menatap jendela keluar.


Aku penasaran dengan peneleponnya, ia terlihat akrap, sesekali bibirnya tersenyum tipis.


Aku terus berusaha mendengar isi pembicaraannya, walau tidak berhasil mendengar satupun, tapi aku bisa melihatnya, ia kelihatan akrap.


Siapa itu? apa itu lelaki? Aku bertanya dalam hati. Harusnya aku marah dan berhak tau siapa yang meneleponnya, tapi aku tidak bisa melakukanya.


Aku juga baru menyadari kalau ponsel yang di gunakan Netta, baru .


Uang Kuliahnya sudah lunas satu tahun, ia berdandan sangat cantik malam itu, ia juga berganti ponsel baru, ia juga tidak mau membahas atau ingin memperbaiki pernikahan kami.


Memikirkan hal itu, membuat kepalaku sangat pusing.


Lebih baik aku tidur dari pada sakit kepala, aku mencoba memejamkan mataku daripada pusing, untungnya aku sudah mematikan ponselku tadi, jadi bisa di pastikan tidak akan nada penelpon pengganggu.


Karena saat aku bangun tadi, melihat banyak pesan masuk dan panggilan dari Mikha, aku terpaksa mematikan ponselku.


Tentang pekerjaan, aku sudah berpesan pada sekretaris ku, kalau ada masalah mengenai pekerjaan, bisa menelepon ke nomor baruku dan sudah menelepon Pak Amran juga, kalau misalkan Mikha datang ke kantor, agar tidak memberitahukan kalau aku di rumah sakit pada wanita itu.


Saat ini lebih baik aku tidur dari pada melihat dan memikirkan tentang Netta.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2