
Setelah drama yang panjang dan menguras tenaga Tivani akhirnya mau pulang bersama kami.
“Candra dan istrinya di mobil Jonathan saja,” pinta tulang kembar.
“Aku bawa mobil sendiri saja,"Balas lagi membangkang.
“Biar gak terlalu banyak mobil sayang, kamu ikut mereka saja," bujuk Pak Simon papi Tivani.
“Baiklah …. mobilnya yang mana?” Matanya meneliti ke empat mobil yang kami bawa.
“Dasar wanita sombong apa hebatnya jadi dokter kalau hanya untuk menyombongkan diri . Istriku juga dokter jauh lebih cantik dari kamu dia gak sombong,” gumamku pelan. Rupanya dulamalanku di dengar tante Ros ia berdiri di belakangku.
“Gak tau tuh, dia keterlaluan bangat,” bisik tante.
Aku menekan kunci mobil milikku seperti mobil miliknya aku juga punya, tapi untuk apa disombongkan, seperti kata Netta;sama saja rodanya empat. Setelah melihat mobilku barulah ia mau.
"Hadeh allangma sibagur tano i" tante Ros kesal.
. “Baiklah … angkat koperku,” pintanya pada Candra.
Candra tidak ingin di perintah, ia memanggil kedua satpam yang menjaga rumah Tivani untuk mengangkat barang tersebut.
Kami pulang dari rumah Tivani, pegal rasanya pinggangku karena duduk hampir setengah hari demi membujuk dan berkompromi dengan keluarga mertua Candra.
Dalam mobil suasana hening.
“Pada diam semua?” tanyaku melirik kaca.
Netta dan Tivani duduk di jok belakang.
“Mau bicara apa, tidak ada yang perlu di bahas,” ujar Tivani, ia masih terlihat sangat kesal karena kami memaksanya untuk pulang.
“Kamu bisa mengobrol dengan istriku, dalam adat Batak dia kakakmu”
“Kok … panggil kakak dia masih muda”
“Karena Candra adikku dan dia istriku, jadi otomatis kamu harus mengikuti suamimu”
“Kenapa harus begitu sih, lagian dia juga masih muda, masih kuliah ya?”Tivani melirik Netta.
Melihat istrinya bersikap sombong dan merendahkan orang lain Candra terusik juga, padahal dari tadi, ia hanya diam.
“Karena kamu orang Batak, aku tidak tahu kamu paham atau tidak tentang adat Batak. Satu lagi, kakak ipar yang duduk di sampingmu bukan mahasiswa lagi dia seorang dokter lulusan Jerman, dan saat ini bekerja di rumah sakit terbaik di Jakarta,” ujar Candra panjang lebar.
Aku merasa lucu juga saat ia memamerkan tentang prestasi Netta.
“Oh … dokter juga.” Tatapan sinis dari Tivani berubah. “Jadi abang dokter juga?” Ia bertanya padaku.
“Dia memiliki perusahaan sendiri, bergerak di bidang Kontraktor,” jawab Candra lagi.
“Kok kamu yang jawab terus sih, aku kan bertanya sama abang ini,”ujar Tivani kesal sama suaminya.
Mereka berdua seperti pasangan yang baru tahap perjodohan, padahal mereka sudah pasangan suami istri, tetapi aku dan Netta dulu tidak seperti mereka.
“Karena Bang Jonathan lagi nyetir,” balas Candra ketus.
__ADS_1
“Yang nyetir kan tangan bukan mulut,” balas Tivani.
Aku melirik Netta dari kaca, ia hanya tersenyum geli mendengar perdebatan kenak-kanakkan dari pasangan suami istri tersebut.
“Aku mau bilang sama kamu, bukan hanya keluargamu yang kaya, keluargaku juga” balas Candra, melihat raut wajah Tivani yang kesal aku membelanya, aku tidak mau ia ngambek dan minta turun.
“Candra pamer kayak anak kecil,” ujarku sembari menyenggol tangan Candra, untungnya ia mengerti kode yang aku berikan, ia berhenti bicara.
Saat suasana tenang tiba-tiba uda polisi itu mengirim pesan padaku;
[Malam ini, bawa mereka ke hotel saja ya Jo]
‘Waduh … uda ini. Benaran mau mengurus masalah malam pertama mereka?’ ucapku dalam hati.
Aku kaget sih sebenarnya, tetapi kalau dipikir-pikir apa yang di lakukan uda polisi itu, masuk akal juga, Tivani beberapa kali menyebut Candra lemah solah-olah ia ingin mengatakan kalau candra tidak berani menyentuhnya.
Ia juga menganggap enteng pernikahan adat mereka.
[Baik uda] balasku.
Aku mengirim pesan juga pada Candra yang duduk di sebelahku, ia mengangguk setuju.
[Bawa dia ke alamat hotel yang aku kirim, aku sudah reservasi dua kamar untuk kalian]
[Kalian?] balasku lagi.
Bapa uda yang bertugas sebagai polisi itu membalas dengan emoji tertawa
[Untuk kamu dan Netta. Pengantin Baru stok lama … kalian berdua juga perlu bulan madu, jangan hanya kerja melulu] balasnya lagi.
Alu ingin tertawa ngakak saat bapa uda itu menyebut kami berdua pengantin baru stok lama.
“Aku ngantuk bangat,” keluh Netta ia menyadarkan kepalanya di jok.
“Tiduran saja dulu Dek, nanti kalau sudah sampai aku bangunkan”
“Ya, aku tiduran dulu ya, mengantuk bangat.” Netta mulai tidur.
“Vani kalau mau tidur, tidur saja, nanti kami bangunkan,” ujar ku dengan tulus. Lagi-lagi jawabannya membuat hati geram.
“Aku bukan kebo yang bisa tidur di manapun,” ujarnya melirik Netta
Candra tertawa miring mendengar ucapan istrinya, Netta juga bersikap bodoh amat, melihat Netta bersikap santai. Aku juga hanya tersenyum kecil. Salut sama kesabaran istriku, coba kak Eva dikatain seperti, maka perang besar akan terjadi, ada istilah Ungkapan Batak yang ia pegang;
'Lu jual gue beli'
Tapi Netta punya prinsip lain;
'Kasihilah musumu'
Tivani memilih memainkan ponsel sepanjang perjalanan, tidak berapa ia mulai menguap dan tiduran. Melihat ia sudah tidur aku mencari jalan alternatif menuju hotel ancol.
Sepertinya bapa uda sengaja memilih hotel yang romantis yang suasananya berbau laut. Setelah kami tiba di halaman hotel, aku melihat mereka berdua masih tidur, aku mengajak Candra Turun.
”Apa kamu sudah yakin?”
__ADS_1
“Yakin Bang, lihat saja aku akan membolonginya malam ini,” ujar Candra.
“Bapa uda sudah mengatur semuanya”
“Ok” Candra semakin dewasa, ia sudah yakin dengan rencana kami.
“Apa kamu tidak akan kabur lagi Can?’ tanyaku bercanda,
"Tidak Bang, aku akan memperlihatkan pada wanita ini kalau aku tidak lemah seperti yang ia pikirkan, lagian mana ada kucing menolak ikan," ujar Candra.
Aku tertawa mendengarnya, benar juga mana laki-laki yang menolak apem hangat, apalagi apemnya halal.
"Baiklah kucing, semoga malam pertama mu berhasil, kabarin aku berapa ronde," ujar ku tertawa.
"Abang mau pulang?"
"Tidaklah aku juga mau bulan madu di sini dengan Netta, kita sama-sama belah duren malam ini," ucapku bercanda agar dia tidak tegang.
"Abang di mana?"
"Maksudnya di kamar mana?" tanyaku lagi.
"Ya"
"Aku di kamar tepat di sebelah mu, makanya nanti belah durennya santai saja aku tutup kuping"
"Ini gak ada remnya lagi Bang, pokoknya gas pol sampai pagi bila perlu," Balas Candra, aku pikir tadi ia akan malu-malu saat membahas masalah Ranjang dengannya ternyata ia tidak sepolos yang aku pikirkan.
"Baiklah, jinakkan istrimu, semoga berhasil malam pertamamu," ujarku.
Bersambung ….
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA.
akak.
Fb Pribadi: Betaria sona Nainggolan
FB Menulis; Nata
Ig. Sonat.ha
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH
Baca juga karyaku yang lain
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (Tamat)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
Bi
-The Cured King(TERBARU
__ADS_1
ntang kecil untuk Faila (tamat)
-Aresya(TERBARU)