Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Keluarga semakin dipulihkan


__ADS_3

Tiba di rumah sakit dan Mami mendapat penanganan, tidak ada kendala lagi karena siang aku sudah melunasi semua tunggakkan biaya rumah sakit.


“Kenapa gak di bawa tadi siang Pi, kan aku sudah bilang aku sudah melunasinya,” kataku menatap papi.


Melihatku dengan tatapan seakan akan tidak percaya.


Papi pikir aku berhalusinasi lagi.


Keuangan keluarga sangat memperhatikan, saat aku dan Mami sakit, semua habis terjual, si kaya akhirnya jatuh miskin .


Kak, Eva juga tidak bisa berbuat apa-apa, ia resign dari kerjaannya untuk mengurus Mami, aku juga baru tahu kalau ia menggunakan tabungannya untuk membantu pengobatan Mami, sekarang aku berpikir jangan-jangan ibu Mertua dan suaminya marah karena Kak Eva menggunakan tabungan mereka untuk pengobatan  Mami.


“Jangan khawatir Pi, ini lihat.” Aku terpaksa memberikan kertas bukti pembayarannya pada Papi, ia menatapku tidak percaya, wajahnya terlihat ragu.


“Dari mana?”


“Pi itu tabunganku waktu masih kerja.”


“Benarkah?” Wajahnya bersinar, terpencar rasa yang lega, di balik senyum tipis yang di berikan Papiku.


‘Bersabarlah Pi, akan ter-ukir lagi senyuman itu di wajahmu, aku akan angkat beban itu dari pundak mu ‘ ucapku dalam hati.


Aku sangat merasa bersalah, karena sempat menjalani hidup dengan cara yang salah, tetapi di satu sisi ada hikmat  di balik masalah yang kami alami, hubungan  kami semakin erat, kami saling menguatkan.


Saat Mami sudah mendapatkan kamar, aku masuk di susul kakak dan Papi.


Entah kenapa Mami selalu ingin mengobrol denganku, dengan kalimat yang sama sejak tadi.


“Tan, Mami minta maaf sama kamu dan sama Netta,” itu saja yang diulang-ulang beberapa kali.


Mata Mami terkadang menatap kelangit-langit kamar dengan tatapan kosong, aku memegang tangannya, aku tidak membenci Mami lagi, aku berharap ia cepat pulih.


“Mi, cepatlah pulih aku tidak membenci Mami.”


“Netta, au, aaa,” suaranya makin gagu tidak jelas.


“Mami cepatlah pulih agar bisa berbaikan dengannya,” ucapku mengusap punggung tangan Mami yang terasa dingin.


“Mami bukan ucapkan kata-kata perpisahan’ kan, Pi?” Eva menatapku dengan khawatir, terlihat ada rasa ketakutan di wajahnya.

__ADS_1


“Tidak,” jawab papi dengan yakin.


“Kok Papi yakin begitu?” tanya kak Eva lagi.


“Orang yang banyak dosa biasanya susah matinya,” kata Papi dengan enteng.


“Haa!? Papi ngomong begitu sih” Kak Eva protes.


Tetapi Benar juga kata papi, kalau dipikir-pikir. Tulangku atau mertuaku, Bapak Netta orang yang sangat baik, tutur kata lembut dan selalu mengayomi semua adik-adiknya dan semua anak-anaknya, tetapi ia yang cepat di panggil Tuhan, dan satu lagi oppung Doliku, aku dengar cerita Mami dan cerita tante.


 Beliau juga orang yang sangat baik matinya juga cepat, tetapi istrinya oppung boruku, Wanita yang galak judes bahkan di kampung saat oppung masih bisa jalan, anak-anak mengatainya nenek Lampir, karena kata orang-orang oppung itu parbada  (Parbada: suka berantam sama orang), tapi sampai sekarang masih hidup, padahal sudah sangat tua dan sudah sakit-sakit tan, yang mengurus di kampung ibu mertuaku Mamanya Netta.


Itu membuktikan kalau omongan Papi itu ada benarnya juga, Sedikit lega mendengarnya.


Sepertinya Mami benar-benar menyesali perbuatanya semenjak ia sakit, beberapa kali ia minta maaf dan menangis, menyesali perbuatanya pada Netta, dan meminta maaf pada abangnya bapaknya Netta.


 Tetapi penyesalan selalu datang terlambat.


Kalau datangnya duluan itu namanya pengumuman.


Tetapi apa mau dikata, Netta telah pergi, luka yang disebabkan Mami dan Anita sudah ter-ukir didalam hatinya, mungkin susah untuk di sembuhkan


Setelah satu bulan di rumah sakit, Papi minta untuk dibawa pulang, aku tidak ingin membuat mereka semua semakin khawatir memikirkan kondisi keuangan kami


Saat Papi dan kak Eva mengurus Mami, aku sibuk diluar persiapkan rumah lama kami yang aku beli kembali.


Tidak lama kemudian akhirnya Mami bisa pulang  ke rumah, aku  menjemput ke rumah sakit.


“Loh...! Tan ini salah loh jalannya, ini bukan ke rumah kita, ini arah jalan ke rumah lama,” ucap Papi menatapku serius.


Papi pasti berpikir kalau aku berhalusinasi lagi, terlihat dari sorot mata yang terpancar kekhawatiran.


“Kamu  tidak minum obatmu lagi iya Tan?” Tanya kak Eva yang duduk di jok belakang dengan Mami.


“Aku minum, kita mau ke rumah kita yang lama,” kataku tanpa basa-basi.


“Haa, ngapain Tan, itu rumah sudah di beli orang, bukan hak kita lagi, sudah balik…!”


Kak Eva mulai terlihat kesal karena boru Batak yang satu ini berpikir kalau aku  masih eror.

__ADS_1


 Tidak lama kemudian akhirnya tiba di rumah kami yang lama, kebetulan saat kami pulang dari rumah sakit masih pagi,  kalau suasana pagi di rumah kami yang lama udaranya sejuk, karena di belakang rumah tumbuh beberapa pohon di dekat kolam renang.


Saat turun dari mobil, mata Papi terlihat sedih, masih berdiri mematung di samping mobil, sementara kak Eva masih belum yakin, kalau aku membeli rumah itu kembali.


“Tan, ayo kita pulang! Mami sama Papi tambah sedih jadinya ingat rumah ini lagi,” ujar kak Eva.


“Ini rumah kita sekarang,” ucapku, ketiganya menatapku dengan bingung, “Itu mobil Papi, itu mobilku sama motorku,” kataku menunjuk mobil berwarna hitam milik Papi.


“Ini beneran Tan, iya Tuhan mobil Papi…!” Mengelus-elus mobil berwarna hitam miliknya, aku tahu Papi sangat suka mobilnya, bukan karena harganya yang mahal, tetapi karena ada cerita di balik mobil miliknya.


“Mobil kamu juga ada disini, ini beneran rumah kita sekarang?” Kak kaget tidak percaya.


“Halo pak, bu, kak Eva,” sapa wanita yang tidak asing lagi bagi keluargaku, Bi Atun, aku beberapa hari yang lalu menawarinya untuk kembali bekerja di rumah kami, tidak diduga wanita bertubuh tambun itu langsung mau,


“Bi Atun? Bibi kerja disini?”


“Iya kak, kerja lagi, sama keluarga kakak,” ucap bi Atun


Akhirnya aku bisa menempati janjiku mengembalikan senyum Papi.


Arnita juga sengaja aku suruh di jemput Lina, akhirnya bisa duduk berkumpul juga, duduk dalam dalam keceriaan.


Tapi suara dari ambang pintu mengalihkan perhatian kami.


“Mama, oppung!” Arkan berlari menghampiri kak Eva.


Arkan datang dengan laeku, mata kak Eva terlihat berkaca-kaca menahan tangis, ia memeluk putranya yang sudah hampir dua bulan tidak bertemu.


Kak Eva wanita yang kuat, ia tidak menunjukkan kesedihan walau ada masalah besar dalam rumah tangganya, ia selalu bilang baik-baik saja, ia tidak mau Mami dan Papi mengkhawatirkannya.


Aku tidak ingin melihat kakakku bersedih, aku mendatangi rumah mertua kakak Eva, meminta maaf dan menjelaskan semuanya, saat aku datang, disambut baik, aku tahu itu, karena laeku suami kak Eva, lelaki yang baik dan bertanggung jawab, saat Mami sakit Lae selalu rajin datang menjenguk, hanya Arkan yang tidak diperbolehkan ikut. Tapi saat aku datang meminta maaf, luluh juga hati mertua kak Eva,  beliau memperbolehkan keponakanku Arkan  datang ke rumah kami.


Aku sebagai lelaki tertua di keluargaku, si boan goar,  dalam adat Batak akulah yang akan  membimbing kakak dan adik-adikku ke depannya.


Saat itu,  bahkan mertua Kak Eva ikut datang ke rumah kami, saling memaafkan hal yang paling indah dalam hidup ini, semoga Netta saat pulang nanti mau memaafkan kami, dan menerima kami lagi.


Akhirnya masalah kak Eva bisa selesaikan dengan baik dengan mertuanya, satu lagi masalah bisa terselesaikan, aku berharap keluarga kami semakin di pulihkan.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2