Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Kemana Netta?


__ADS_3

Kini aku tinggal memikirkan cara bagaimana caraku masuk kedalam rumah, aku merasakan ada rasa ketakutan di dalam dadaku sejak dalam perjalan tadi, aku selalu memikirkan hal-hal yang buruk telah terjadi, sepanjang perjalanan.


Aku berharap Netta baik-baik saja,


Aku mengitari rumah, mencari jalan masuk kedalam rumah, akhirnya lewat pintu belakang, aku terpaksa memecahkan jendela kecil di pintu belakang untuk membuka pintu dapur, akhirnya berhasil juga terbuka, menyalakan lampu, mataku melihat sekeliling.


'Oh iya ampun apa yang sudah terjadi di sini?'


Jantung ini, berdegup makin kencang saat aku masuk barang-barang berserakan seperti habis gempa, ini seperti kejadian beberapa bulan lalu waktu dua orang asing datang menyatroni rumah kami.


'Oh Tuhan, apa yang terjadi?'


Lutut kaki gemetaran, buru-buru menyalakan semua lampu yang ada di ruangan, aku tahu pasti telah terjadi sesuatu pada Netta, maka itu ia tidak menghubungiku.


Aku melihat mobil ada di garasi , apa yang terjadi pada Netta, aku seperti orang kebingungan memanggil Netta ke semua ruangan dan melihat ke kamar dan bahkan ke lemari.


Bau menyengat menyerbu hidungku, seperti bau bangkai membuat hampir mati berdiri , tanganku semakin gemetaran, aku sudah memikirkan hal-hal yang buruk .


Aku tidak akan bisa memaafkan diriku kalau terjadi apa-apa pada Nettaku.


Aku memanggil nama Netta tidak ada sahutan, bau busuk itu dari arah dapur.


Aku menutup mataku membayangkan hal yang mengerikan, aku mengikuti bau menyengat dari arah dapur.


'Tuhan ... tolong aku, aku tidak akan memaafkan diriku bila itu sampai terjadi pada istriku, pikiranku' aku membatin.


Aku membuka lemari persembunyian Netta, seperti saat dua orang penjahat yang dulu datang ke rumah kami.


Aku mengikuti bau busuk itu.


'Oh ... ampun! apa ini?'


Di atas wastafel dalam panci ada satu ayam ekor ayam yang sudah mulai mengeluarkan bau busuk dan banyak belatung, dan dihinggapi lalat hijau, perutku mual karena aroma busuk yang membuatku nyaris pingsan karena mengira itu ....


Hatiku semakin tidak tenang, aku melemparkan ayam berbau busuk itu ke pintu belakang.


Aku bisa gila kalau sudah seperti ini, kemana Netta? aku kebingungan tidak ada teman yang bisa aku tanyakan, ada beberapa nomor teman Netta dulu saat Netta mengajak ke Bar, tapi itu aku save di ponselku yang dipegang Netta.


Setelah mencari dalam rumah tidak ada jejak Netta, mau tidak mau, aku ke rumah Mami.


Aku mencari kunci mobil, tapi tidak ada ditempat penyimpanan, Netta orang yang telaten dan rapi, setiap barang di rumah kami selalu pada tempatnya dan sudah ada tempatnya masing-masing, jadi kalau pas dicari gampang ketemu, tapi kali ini kunci mobil tidak ada, hanya kunci motor Netta.


Terpaksa dengan buru-buru aku mengambil kunci motor, walau gerimis di luar itu tidak membuatku gentar.


Aku naik motor ke rumah Mami. Padahal ini sudah jam dua pagi, saat menggedor gerbang papi yang turun yang membuka pintu.

__ADS_1


“Tan, kapan pulang Nak?


kok kamu pergi gak bilang, pulang juga tidak bilang-bilang, ada apa Nak malam-malam ke sini?”


“Papi tahu Netta pergi kemana?”


tanyaku buru-buru, mengabaikan pertanyaan papi yang menanyakan kapan aku pulang.


“Memang kamu tidak meneleponnya?"


“Tidak bisa Pi, apa Papi tahu?”


“Tidak Nak, papi tidak tahu, kamu duduk dululah,” kata Papi.


“Tidak biasanya ia begitu, sepertinya terjadi sesuatu padanya Pi, soalnya rumah kami berantakan,”


kataku panik, aku merasa lemas berantakan karena di terpa gerimis dan angin, tapi aku tidak perduli.


Mami tiba-tiba turun melihatku datang, ia berlari kecil menghampiriku, wajahnya terlihat terkejut.


“Jonathan, kamu pulang Nak, kapan pulang?”


“Mami tahu Netta kemana?” tanyaku, Mami sama seperti Papi, aku juga mengabaikannya pertanyaannya, tidak sopan memang menghiraukan orang tua, tapi ini semua karena aku panik. Nettaku hilang.


“Duduklah Nak, apa kalian bertengkar? Apa karena itu kamu pergi ke Papua? harusnya kamu bilang sama Mami dan Papi,” kata Papi kedua orang tua itu sudah duduk, tapi aku masih mondar-mandir seperti setrikaan.


kata Mami degan nada menyindir.


“Rumah kami berantakan Pi, aku merasa terjadi sesuatu pada Netta.”


“Duduklah, kita bicara, Netta tidak akan terjadi apa-apa.”


kata Papi mencoba menenangkan.


“Biasanya dia yang menghubungiku Pi, tapi sudah satu minggu ini, ia tidak menghubungiku, maka itu aku khawatir, aku sudah suruh kak Eva ke rumah tapi Netta tidak pernah di rumah dan ponselnya tidak bisa di hubungi.”


“Bukannya kamu pergi karena bertengkar?”


tanya Papi menatap Mami.


Entah apa yang di bilang Mami sama Papi sehingga beliau berpikir kalau kami bertengkar dan akhirnya aku pergi ke Papua.


“Tidak Pi, ada teman mengajakku kerja sama di proyeknya di Papua, waktu ia mengantarku ke Bandara, aku memberikan ponselku yang biasanya untuk ia pegang tapi itu juga tidak aktif,” kataku.


Papi menatap tajam sama Mami, tapi aku tidak tahu apa yang terjadi, aku hanya ingin Netta baik-baik saja.

__ADS_1


“Duduklah Tan, kamu terlihat pucat dan kedinginan, apa Papi buatin susu hangat?”


“Iya pI, aku belum makan dari pagi karena Netta tidak bisa dihubungi, tadi juga aku dari Papua naik pesawat barang karena tidak ada penerbangan, dibatalkan karena cuaca buruk.


Tapi saat aku mau kesini kunci mobilku tidak ada, tapi mobilnya ada di garasi maka aku naik motor kesini.”


“Kamu tidak pakai jaket?”


Kata Papi menatapku merasa kasihan.


“Tidak, itu tidak penting Pi, Iya ampun kemana sih Netta,”


kataku mengeluarkan ponsel dari saku celanaku dengan tangan gemetaran sedingin es, karena saat aku datang naik motor ke rumah Mami, gerimis di luar, aku basah tapi aku tidak perduli.


“Halo kak, maaf menganggu tidur kakak, kakak belum dapat kabar Netta?”


“Kamu sudah di Jakarta ?”


Tanya kak Eva .


“Aku baru tiba tadi kakak, tapi benar rumah kosong, rumah kami berantakan, aku khawatir terjadi sesuatu padanya kak, rumah kami sepertinya di datangin orang jahat lagi kak.”


“Aku tidak punya Tan,”


kata Kak Eva.


Aku duduk dengan putus asa, mengusap kepalaku dengan kasar, obrolan kami ternyata membangunkan Arnita, ia berdiri melihatku, ia hanya diam tidak seperti biasanya,


Kalau biasanya ia paling bawel menanyakan ini dan itu padaku, tapi kali ini menatapku dengan tatapan takut-takut, tapi kali ini sifatnya berbeda, ia hanya berdiri melihatku seperti orang banyak salah, aku pikir karena pertengkaran kami yang terakhir.


“Ini bang susu panasnya, apa bibi ambil baju ganti buat abang Nathan, itu bajunya basah semua nanti abang masuk angin tambah sakit,”


kata si Bibi,


semua keluargaku melihatku dengan iba, tapi bukan itu yang aku inginkan, aku hanya kabar dari istriku tidak perduli denganku.


“Tidak perlu, aku tidak apa-apa Bi, aku hanya memikirkan Netta, aku mencarinya ke rumah temannya saja dah,”


kataku, aku berdiri.


“Tapi ini masih malam Than, ini baru setengah empat pagi Nak, kamu ganti baju dulu istirahat dulu,”


kata Papi.


“Tidak apa-apa Pi, aku harus tau Netta dimana?

__ADS_1


Aku tidak akan bisa tenang jika ia belum ketemu Pi.”


Bersambung....


__ADS_2