
Masih berada di hotel
Kami masih menjalankan rencana yang disusun uda.
“Bang aku mandi dulu ya, mana kuncinya aku mau ambil pakaian ganti di mobil,” ujar Netta.
Netta memang selalu membawa pakaian ganti setiap kali berpergian.
“Tidak usah Dek, nanti saja sekalian”
“Nanti sekalian …? Memangnya kita mau ngapain lagi?"
Si borneng ini belum konek juga rupanya.
“Belah duren,” bisik ku pelan ke kupingnya.
“Oh, baiklah”
Melihat wajahnya yang serius, aku pikir ia sudah mengerti.
Kami menuju meja yang sudah dipesan uda, baru juga duduk di meja, dua orang waiters cantik mendekat.
“Atas nama Bapak Jonathan Situmorang?’
“Ya, benar Mbak”
“Pesanannya lagi disiapkan, mohon di tunggu ya Pak”
‘Bapa uda juga yang memilih menunya? Ya sudahlah nikmatin saja’ aku membatin.
“Abang sudah pesan tadi?’ Netta menatapku dengan bola mata memutar.
“Sudah, memesan lewat hape, biar gak repot,” jawabku, terpaksa berbohong.
“Apa ini higenis?” Vani menyelidiki sekeliling restoran.
“Ini restoran bintang lima, apa kamu tidak pernah makan di sini?” Tanyaku berpura-pura, padahal aku juga belum pernah ke restoran tersebut, karena tempatnya juga baru buka.
“Gak … aku tidak sembarangan masuk restoran harus benar-benar di pastikan tempatnya bersih dan nyaman”
Aku hanya mengangguk, tidak ingin membahas panjang lebar.
Beberapa menit kemudian pesanan datang.
‘Astaga …! Ini menu makanannya, semoga Tivani tidak curiga’ ujarku dalam hati.
Candra juga menyadarinya ia melirik ku, aku menahan tawa, Tivani dan Netta tidak menyadarinya wanita judes itu sibuk dengan layar ponselnya.
“Menu apa ini?” Tivani mengangkat sate kambing.
Kami berdua saling melihat.
“Ini sate kesukaanku dan Candra ,”jawabku, padahal itu untuk Candra, aku sendiri tidak suka makan daging kambing.
'Mudah-mudahan dia tidak curiga' aku bermonolog dalam hati.
“Oh, ada Jjajangnyeon ini kesukaanku. Kok abang tahu sih menu kesukaanku?” Tanya Tivani menatapku. Ternyata Tivani suka makanan ala-ala Korea seperti yang di pesan uda saat ini ada; Jjajangnyeon, Japchae, Tteokbokki.
__ADS_1
‘Bukan aku kali. Ini kerjaan bapa uda’ jawabku dalam hati.
“Ya, tadi tulang. Papi kamu sempat cerita”
Lagi-lagi aku berbohong entah berapa kali lagi aku berbohong menghadapi Tivani. Aku angkat dua jempol untuk uda, karena ia menghidangkan makanan kesukaan kami masing-masing. Netta ikan bakar aku dan Netta sama. Tetapi sangat berbeda untuk Pangeran .... Ia diberikan sate kambing dan sate kerang makanan yang dipercaya menambah stamina pria.
Aku ingin tertawa melihat ekspresi Candra saat melihat menu pesanannya, tetapi ia bersikap gentelemen, menyantap apa yang diberikan uda padanya. Candra banyak berubah, masalah yang terjadi mengubah hidupnya lebih dewasa.
Ia tidak bersikap lemah, seperti saat pesta pernikahannya dulu.
Saat semua menu makanan kami sudah tersaji di atas meja, aku hampir tersendak karena Netta.
“Bang … duriannya mana?”
“Durian …?” Tivani menatapku.
'Parsudakiiii Borneng ....!'
(Mampus aku Borneng ....! )
“Katanya tadi kita mau belah durian
Uhuk ….! Aku tersendat dan terbatuk karena terkejut.
“Aku bilang, di luar sana ada yang jual durian, ini coba minum dulu biar otakmu segar.” Aku mengalihkan topik dari belah duren, takut Vani curiga.
Jujur, sebenarnya aku merasa kami bertiga aku, Candra, bapa uda seperti penjahat ranjang, tetapi apapun itu, kalau itu untuk kebaikan rumah tangga sepupuku aku akan membantu.
Aku dan Candra mengalihkan pembicaraan Netta, agar Borneng tidak membahas soal belah duren lagi, untungnya Vini tidak curiga.
‘Ada apa dengannya .... Apa uda menaruh sesuatu di makanan nya?’ Tanyaku dalam hati.
Aku mengirim pesan pada Candra.
[Ada apa dengan Tivani?]
Ia juga melirik istrinya, tangan Tivani bergerak tidak beraturan.
[Sepertinya uda Jon, kebanyakan nonton drama Korea atau kebanyakan baca novel] Balas Candra.
[Kamu yakin?]
[Ya]
[Sana bawa ke kamar] Balasku.
“Vani gatal?” Tanya Netta.
“Aku merasa tubuhku tidak nyaman, aku mau ke kamar duluan.” Ia berjalan buru- buru menuju kamar mereka.
Sementara kami berdua saling menatap dengan Candra, uda tidak tangung-tangung untuk membantu Candra, ia tahu Tivani akan menolaknya, karena itulah ia membantu sampai sejauh ini,. Beginilah kalau sudah polisi bekerja punya strategi dan totalitas.
[Apa Bapa uda akan melakukan sejauh ini?] Candra marah.
[Jangan marah, uda hanya membantumu, kamu tidak akan pusing ke depannya yakin padaku] balasku.
Ia menghela napas panjang.
__ADS_1
[Baiklah] Candra mengalah.
[Sana temui istrimu, hanya kamu yang bisa membantunya ]
Candra menatapku dengan wajah yang menegang antara malu panik bercampur jadi satu.
“Dek, tunggu disini Ya, aku mau bicara sama Candra dulu”
“Ya” jawab Netta.
Aku mengajak Candra menjauh dari Netta mengajak bicara empat mata.
“Mana ada orang Batak yang seperti itu Bang”
“Dengar Can, kamu tidak melakukan kesalahan”
“Tetapi ini namanya memaksa Bang”
“Jika kamu menunggu sampai dia memberikan dengan ikhlas dan menunggu dia akan jatuh cinta padamu, sampai lebaran kuda tidak akan terjadi Can .... Coba kamu pikir, setelah kita kembali ke rumah, jangankan jatuh hati padamu, beberapa hari lagi saat bersama tante perang dunia ketiga akan terjadi di rumah. Mereka semua akan menekan mu menuntut kamu memberikan mereka cucu, karena kamu anak pertama pahoppu pertama sama seperti aku.” Setelah aku menjelaskan panjang lebar.
Ia akhirnya mengerti, salut dengan Candra, ia akhirnya ikhlas dengan pernikahannya, demi kedua orang tuanya, demi bapa uda yang sakit . Ia tidak mau bapa uda meninggalkan rumah. Candra bilang bapa uda mengancam tante, jika pernikahan Candra kandas maka uda akan pergi dari rumah, itu juga mungkin yang dipikirkan uda itu makanya membantu Candra sampai sejauh ini.
“Tapi aku malu, kalau seperti ini”
“Dengar, akan lebih malu lagi jika semua keluarga besar kita tahu, kalau kamu belum menyentuh istrimu, Bapa udamu itu, hanya ingin terbaik untukmu dan untuk bapa uda dan tante. Aku bersedia membantumu karena kamu adikku Can, kalau orang lain, belum tentu aku mau,” ucapku lagi.
“Baiklah”
Candra menyusul Tivani ke kamar untuk menunaikan tugas sebagai suami, aku berharap ia melakukanya dengan tenang bukan karena unsur paksaan, karena sesuatu yang dipaksakan hasilnya tidak akan memuaskan.
“Selamat bersenang-senang Bro. Selamat belah duren,” gumam ku pelan, ia tersenyum kecil.
Kini, giliran ku sama si Borneng, menjelaskan arti bela duren padanya. Gemes aku terkadang melihat sikap polosnya.
Visual Netta Borneng.
“Ayo, sini kamu”
“Ha .... Apa Bang! "
“Kita harus belah duren juga”
“Ya. Mana duriannya?” Netta menatapku masih belum peka juga.
“Aduh. Nettania Marta boru Nainggolan Lumbanraja! Kamu itu sebenarnya terlalu polos apa oon sih, coba buka di google arti belah duren, masa itu aja kamu tidak tahu?” Kataku greget.
Dengan cepat tangannya mengusap layar ponsel miliknya, Ia tertawa terbahak-bahak memegang perut, setelah tahu arti belah duren.
“Masa … kamu minta bela duren saat kita makan tadi?”
“Aku memang gak tahu Bang. Suer,”ujarnya mengangkat dua jari, Netta tertawa terpingkal-pingkal, tawa itu sampai nular padaku.
“Ayo kita juga harus bela duren juga,” ujar ku ikut tertawa, menarik tangan Netta,membawa Netta ke kamar.
Bersambung
__ADS_1