
Pulang dari kampung, kami masih di Jakarta, belum kembali ke Bali, kami ingin menghabiskan sisa cuti Netta di Jakarta saja, rumah yang di Jakarta sudah berapa bulan kosong, sudah pasti berdebu dan kotor, jadi, kami memutuskan untuk istirahat di rumah mami.
“Bang, kamu sebenarnya masih marah sama si Brayen?” tanya Netta, saat ingin tidur.
“Aku bukan malaikat Dek … yang mudah memaafkan kesalahan orang lain. Apa sebenarnya yang di lakukan di masa lalu, jujur, aku masih sakit hati, dia menghancurkan perusahaan yang dibangun papi dengan susah payah dan perusahaan yang aku kembangkan dengan susah payah juga, bukan hanya di hancurkan, tetapi dia menyebabkan aku berhutang di mana-mana dan hampir dihabisi para penagih hutang, kalau mengingat hari itu … preman datang ke kantor bawa parang sama golok, rasanya masih kesal sama Brayen”
“Menurutku, wajar sih abang masih marah, tapi apa abang ingin meminta melunasinya?” Tanya Netta.
“Tidak, itu tidak mungkin lagi dek”
“Lalu … kenapa tadi abang memintaku langsung pulang buru-buru tidak memberikan Brayen kesempatan untuk menjelaskan?"
“Tidak ada gunanya, yang ada … oppung boru akan menyalahkan mami lagi, oppung akan mengatakan ini lagi; Kenapa kau berikan dulu sama si Brayen? oppung selalu menyalahkan mami karena hal itu, karena memang dia yang memberikan sama si Brayen, karena itulah aku memilih pulang, kalau dia ingin memarahi mami, aku tidak usah mendengar”
Brayen anak bapa uda yang dulu menyebabkan perusahaan keluarga kami bangkrut, akhirnya, anak nakal itu pulang juga setelah berfoya-foya menghabiskan uang perusahaanku, kemarahanku padanya hari itu spontan saja sebenarnya, efek karena dibangunin tiba-tiba juga, kepala pusing, karena itulah, kemarin aku ingin memukulnya …. Aku memang masih marah, tetapi tidak ada dendam untuk membalas perbuatannya ataupun untuk meminta ganti rugi.
*
Mami, papi, kak Eva masih di Medan, jadi di rumah hanya ada si bibi, aku dan Netta besok harinya Arnita datang dengan suaminya setelah tahu kalau kami sudah pulang dari kampung, tetapi dari awal mereka datang, aku melihat wajah Juna sangat gelisah seakan-akan ada beban berat yang ia sembunyikan, ia beberapa kali memberiku kode untuk bicara berdua.
“Ayo kita bicara Jo,” bisiknya, Juna terkadang ia memang masih memanggilku dengan nama, bukan lae, mungkin karena sudah lama berteman jadi suka lupa.
“Ada apa? Ada masalah?”
Juna menghela napas panjang, ia menatapku dengan tatapan bingung, aku yakin ia pasti telah melakukan kesalahan , lalu ingin meminta bantuan ku, misalkan ia kalah judi online atau memintaku membayar tagihan minumannya di bar.
‘Kalau kamu minta bantuan ingin bayar tagihan mu ‘ jangan harap ucapku dalam hati.
“Apa? cepat ngomong” tanyaku lagi.
“Apa kamu sudah tahu tentang Mikha?"
“Ngapain aku mengurusi wanita lain, dia sudah aku buang jauh-jauh dari hidupku, kamu ngapain menyinggung soal dia?"
“Dia sudah keluar dari penjara”
“Haaa? Kok cepat bangat?”
“Sebenarnya dia masuk ke pusat rehablitasi, dan katanya ada seorang pejabat di kepolisian yang menjamin kebebasannya”
__ADS_1
“Oh ya sudah. Lalu apa hubungannya samaku?”
“Kamu tidak merasa takut?” Juna balik bertanya.
“Takut kenapa memang dia drakula?”
“Jo … dia mencarimu!”
“Ja, jo panggil aku Lae … gue pecat juga lu jadi suami Arnita. "Aku mengumpat kesal padanya.
“Sory … suka lupa soalnya, lalu bagaimana?” Tanya Juna lagi.
“Biarkan saja, biarkan dia dengan kehidupannya dan kita dengan kehidupan kita,” ujar ku tidak perduli.
Bagiku Mikha masa lalu yang harus di buang jauh-jauh dari kehidupan kami, aku tidak ingin perduli dengannya. Walau Mikha lama menjadi kekasihku, tetapi semua itu sebuah kesalahan di masa lalu dan tidak ingin membawanya ke masa depanku, masa depanku saat ini hanya Netta.
“Masalahnya dia … mengirim ini padaku”
Juna menunjukkan layar ponselnya padaku, ternyata Mikha wanita gila itu, mengirim pesan nada mengancam pada Juna yang isinya seperti ini;
[Aku tidak akan memaafkan apa yang kalian lakukan padaku selama ini]
Lalu aku membaca balasan pesan dari Juna.
[Saya minta maaf jika melakukan kesalahan di masa lalu, mari kita menjalani kehidupan yang lebih ke depannya, aku yakin kamu akan mendapatkan lelaki yang bisa menerima kamu dengan baik] balas Juna.
[Jangan mengajariku, aku akan menghancurkan hidupmu dan Jonathan lihat saja nanti] balas Mikha ikut mengancam.
“Bagaimana menurutmu, apa kamu tidak takut mendengar ancaman itu?” Tanya Juna.
“Aku tidak tahu kalau dia sampai mengirim ancaman yang seperti ini, aku pikir ini sudah serius, kita berdua sudah tahu kalau wanita itu orang yang sangat nekat, aku pikir kamu harus waspada”
“Itu dia Jo-”
“Ckkk … jangan panggil jo lagi, aku sudah bilang itu tidak sopan,” potongku kesal.
“Ok, maaf …. Maka itu, aku merasa sangat takut beberapa hari belakangan ini, bahkan aku tidak mau keluar Arnita dari rumah, aku juga"
“Apa Arnita sudah tau?”
__ADS_1
“Belum , aku takut kalau dia sampai tahu”
“Kapan dia mengirim ini?” Tanyaku lagi, jujur, setelah membaca nada ancaman yang dikirim pada Juna, aku merasa sedikit takut, biar bagaimanapun Arnita sedang hamil, karena aku tahu Mikha, orang yang nekat, apalagi setelah ia tahu kalau Juna menikahi Arnita wanita yang melahirkan anak untuk Juna dan sekarang mereka akan menyambut kelahiran anak ke dua mereka.
“Dia mengirim pesan ini beberapa hari yang lalu”
“Kenapa baru kasih tau?”
“Aku tidak ingin membebani pikiranmu saat di kampung, aku tahu kalian juga sedang pusing mengurus pernikahan Lae Rudi, sebenarnya aku juga ingin memberitahumu , setelah aku pikir-pikir aku menundanya”
“Baiklah … begini saja, lebih baik kamu ceritakan saja apa adanya pada Arnita, mencegah lebih baik dari pada kejadian, agar dia juga bisa waspada menjaga dirinya sendri”
“Kamu yakin itu tidak akan mempengaruhi kandungannya?” Juna memang sangat menjaga kehamilan Arnita, ia tidak ingin istrinya stres .
“Kamu taku bangat, tidak apa-apa, agar dia bisa menjaga diri saja”
“Baiklah,” jawabnya kemudian.
Aku tidak tidak ingin ada masalah dalam rumah tanggaku lagi apalagi tentang wanita, karena itulah aku memutuskan memberitahukan semuanya pada Netta, setelah Arnita pulang aku mengajaknya untuk bicara berdua.
“Dek … aku mau bicara sebentar bisa?”
“Bisa … mau bicara apa?” Tanya Netta meletakkan ponselnya diatas meja, ia menatapku dengan tatapan penasaran.
Aku duduk di sampingnya, karena kakak Eva dan mami masih di kampung dan Arnita juga sudah pulang, jadi rumah sepi dan tenang, hanya ada bibi Atun yang sibuk di dapur.
“Begini Dek … Juna bilang tadi padaku, Mikha mengirim pesan ancaman padanya yang ditujukan padaku dan pada Juna juga, aku tidak ingin nanti ada masalah, maka itu aku berpikir aku memberitahukannya sekarang”
“Kok … bisa, bukannya abang bilang dia masih di penjara?”
“Dia dimasukkan pusat rehab, jadi yang ingin aku bilang. Bagaimana kalau dia datang menganggu ketenangan kita?"
Wajah Netta tenang, lalu dia memegang telapak tanganku.
“Tenang Hasian, aku, eda Eva, Tivani akan membasmi segala pelakor yang mendekat, abang tidak waktu yang kami lakukan di Bali?” Netta tersenyum.
Aku merasa lega, saat Netta mengatakan akan membasmi pelakor, aku yakin kalau kak Eva berhadapan dengan Mikha wanita itu akan takut. Aku berharap tidak gangguan orang ketiga, orang ke empat dan seterusnya .... Aku hanya ingin fokus untuk rencana bayi tabung yang kami rencanakan, aku berharap Mikha juga bisa melupakan masa lalu dan menjalani kehidupan yang lebih baik.
Bersambung …
__ADS_1